• Selasa, 24 Mei 2022

Keikutsertaan Lendir dalam Sebuah Karya Sastra

- Selasa, 2 November 2021 | 12:24 WIB
Ilustrasi (@sekar_mayang)
Ilustrasi (@sekar_mayang)

Akan tetapi, sebenarnya seks bukan hanya obat untuk menyingkirkan ketegangan. Seks bisa berada di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja, sesuai kebutuhan para tokohnya. Yang menjadi masalah adalah, ketika seorang penulis berusaha menyingkirkan unsur itu dari sebuah kisah, satu aspek kedewasaan sirna begitu saja.

Saya tidak mengatakan tiap orang dewasa harus mengerjakan aktivitas seksual, dengan atau tanpa pasangan. Hanya saja, seks adalah unsur yang telah menyatu dengan kedewasaan.

Oh, seks bukan hanya soal aktivitas bertukar cairan di atas ranjang. Seks bukan hanya perihal berahi dengan segala tetek bengeknya. Jauh melampaui itu, seks adalah penghormatan untuk diri sendiri; untuk tubuh, untuk pikiran, demi kebahagiaan, karena cinta.

Baca Juga: Gara-gara Istri Pamer Duit Segepok di TikTok, Kapolres Ini Kehilangan Jabatan

Memang, dalam sebuah novel, yang sering kita temukan korelasinya dengan seks adalah adegan ranjang. Ada yang vulgar tanpa tedeng aling-aling, tanpa rasa risi menyebut kelamin, tanpa sungkan memaparkan secara detail proses sanggama.

Mungkin, karena itulah, para penulis golongan tertentu tidak mau menambahkan unsur seks ke dalam naskah mereka. Bisa jadi, mereka takut pembaca terpancing nafsunya dan melakukan sesuatu di luar batas. Atau, ya, sesederhana “nggak mau nambah dosa” atau “nggak mau bikin orang lain nambah dosa”.

Apalagi, menjamurnya aplikasi membaca lewat ponsel, membuat persaingan mendapatkan pembaca makin gila. Bab yang mengandung unsur seks menjadi primadona untuk menggaet konsumen. Dipajang di media sosial, bahkan dipacu dengan dana promosi. Tidak peduli jalan cerita absurd, dialog kelas receh, atau alur berbelit-belit yang sengaja dipanjang-panjangkan demi meraup bonus.

Baca Juga: Berubah, Syarat Naik Pesawat di Jawa – Bali Cukup Tes Antigen, Tidak Perlu Lagi Tes PCR

Seorang teman pernah mengeluhkan dirinya yang tak sanggup menampik deras arus. Ia termasuk penulis yang lebih memilih pemakaian metafora untuk berbagai adegan dewasa. Paling tidak, ia tidak semena-mena membiarkan para tokohnya bermain peluh dengan cara ‘brutal’.

Ia terpaksa ikut bermain ‘kotor’ karena tuntutan isi dompet. Sayangnya, ia sendiri merasa, makin lama ia berenang di arus, makin ia tidak mengenali tulisannya sendiri. Sungguh, saya yang mendengar curahan hatinya jadi ikut gemas dengan fenomena yang terjadi.

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Dilema Puan Menjadi Presiden

Kamis, 21 April 2022 | 04:39 WIB

Kios SIAPkerja (Kasus BPVP Kabupaten Sidoarjo)

Rabu, 13 April 2022 | 13:33 WIB

Konsep Frasa Crazy Rich dan Orang Kaya

Selasa, 29 Maret 2022 | 16:48 WIB

Mandalika dan Penciptaan Lapangan Kerja

Selasa, 29 Maret 2022 | 13:06 WIB

Berkawan Akrab dengan Kehilangan

Rabu, 23 Maret 2022 | 08:14 WIB
X