• Minggu, 5 Desember 2021

CERPEN: Menunggu Kereta

- Minggu, 17 Oktober 2021 | 20:23 WIB
Ilustrasi (@sekar_mayang)
Ilustrasi (@sekar_mayang)


KLIKANGGARAN-- Bangunan hijau itu sudah di depan mataku. Aku berhenti sejenak untuk melihat wujud raksasa tempat singgahnya para kuda besi. Ada sesuatu yang ingin meledak begitu saja di dadaku. Seperti sudah bertahun-tahun terpendam begitu saja. Padahal, aku tidak sedang merindukan apa pun. Kecuali—ya, ada yang kurindukan, aku baru ingat—suara-suara bising di peron tempat aku menunggu satu kuda besi yang akan membawaku menjauh dari hiruk pikuk ibu kota.

Aku sampai di pintu masuk. Terakhir aku kemari, hanya ada dua orang yang berjaga memeriksa karcis. Sekarang tidak lagi. Bahkan, kulihat ada tiga orang anggota Brimob yang berdiri di sana sambil ikut memeriksa karcis. Ya, sistem boarding pass yang baru ditetapkan institusi ini membuat antrian sedikit mengular di pintu masuk menuju peron. Namun, aku tidak kaget. Aku sudah tahu. Jadi, langsung saja kubuka dompetku, kuambil tiket dan KTP, lalu ikut mengantri.

Sudah berjarak jauh dari tempat aku berdiri tadi, sekarang aku berada di depan seorang petugas Kereta Api. Wajahnya menunjukkan lelah dan jemu secara bersamaan. Agak aneh, kupikir, ia seperti tidak melihatku. Mungkin, ia hanya fokus melihat tiket dan tanda pengenalku. Ah, toh aku tidak peduli. Yang penting aku sudah bisa masuk peron dan segera menuju lantai tiga.

Baca Juga: LP Ma'arif NU DKI Jakarta Selenggarakan Pelantikan, Seminar Nasional, dan Rakerwil

Itu dia! Sebuah bangku kosong di dekat pilar. Aku bergegas sebelum ada orang lain yang memakai bangku itu. Kuhempaskan tubuhku, lalu kuedarkan pandangan ke sekelilingku. Ramai, tetapi tidak seramai biasanya. Mungkin karena ini masih pagi. Kereta jarak jauh biasanya baru akan muncul siang nanti. Keretaku sendiri baru akan tiba satu jam lagi.

“Mama bilang juga apa?!”

Sebuah suara tiba-tiba saja masuk ke dalam indra pendengaranku. Aku mencari sumber bunyi itu dan mendapati seorang ibu berdiri tak jauh dari bangku yang aku duduki. Di hadapan wanita tambun itu, berdiri seorang gadis berambut panjang yang berpakaian sedikit mencolok: celana panjang warna kuning terang dan kaos oblong merah muda menyala. Aku bertanya dalam hati, apakah sang ibu tidak mengajari anaknya dalam memadukan warna pakaian.

“Kan, Mama udah ingetin dari semalem, siapin semuanya dengan teliti!”

Suara itu menggetarkan gendang telingaku lagi. Aku merasakan dahiku berkerut secara otomatis. Apa gerangan yang terjadi hingga sang ibu tega memarahi anaknya di depan orang banyak? Apa ada yang tertinggal?

Baca Juga: Hujan Deras dan Angin Kencang Landa Cibinong Bogor, Papan Reklame Cibinong City Mal Terbang

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cerbung Samudra Ingin Kembali

Minggu, 5 Desember 2021 | 16:28 WIB

Cerbung: Samudra di Lautan Malas

Minggu, 5 Desember 2021 | 13:06 WIB

Puisi: Tepian Asmara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:20 WIB

Cerbung: Cicak Merayap di Dinding

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:08 WIB

Puisi: Pulau Asmara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 11:33 WIB

Cerbung: Cicak Jatuh di Halaman

Sabtu, 4 Desember 2021 | 11:19 WIB

Puisi: Biruku

Kamis, 2 Desember 2021 | 18:04 WIB

Cerpen: Pangeran Cinta

Selasa, 30 November 2021 | 19:44 WIB

Puisi: Diam Itu Membunuhku

Selasa, 30 November 2021 | 19:06 WIB

Surat Bersampul Hitam

Senin, 29 November 2021 | 12:10 WIB

Puisi Ingin Kau Tahu

Senin, 29 November 2021 | 11:37 WIB

Cerpen Batu Cinta

Sabtu, 27 November 2021 | 13:07 WIB

Novel Melukis Langit 11, Luka di Atas Luka

Rabu, 24 November 2021 | 20:47 WIB

CERPEN: Sapu Jagat

Kamis, 18 November 2021 | 06:13 WIB

Cerpen: Perjalanan Hati

Selasa, 16 November 2021 | 21:51 WIB

Hari Ayah dan Kado Cerpen Sang Ratu

Jumat, 12 November 2021 | 12:32 WIB

Novel Melukis Langit 9, Gadis di Pangkuannya

Kamis, 11 November 2021 | 21:55 WIB
X