• Minggu, 5 Desember 2021

CERPEN: Pertemuan Kedua

- Minggu, 10 Oktober 2021 | 18:53 WIB
Ilustrasi (dok. Sekar_Mayang)
Ilustrasi (dok. Sekar_Mayang)

 

Klikanggaran.com-- Hidup adalah tentang pertemuan-pertemuan. Bertemu orang lain, bertemu dengan hewan yang akan jadi peliharaan, bertemu tanaman yang bisa membangkitkan suasana baik pada hati, bertemu pekerjaan yang mendatangkan keuntungan, juga bertemu dengan belahan jiwamu. Pertemuan-pertemuan itu tidak pernah bisa kita rancang. Maksudku, tentu kita merencanakan sesuatu, tetapi jarang yang bisa berjalan sesuai dengan perkiraan.

Tidak percaya? Oke, akan kuceritakan satu hal. Ini tentunya tentang sebuah pertemuan. Sebuah peristiwa yang kukira tidak akan pernah aku alami. Aku bertemu dengan malaikat.

Aku duduk di bangku panjang, dingin, dan sendirian, sementara adikku berdiri di konter, menunggu resep obatku selesai dikerjakan apoteker. Kami baru selesai dari klinik satu jam lalu—psikiater itu kembali meresepkan lithium untukku. Satu minggu sekali aku memasuki apotek yang jaraknya hanya selemparan batu dari klinik kecil tempatku menjalani pemeriksaan rutin. Ini mungkin seperti kencan mingguan aku dan Renata, adikku.

Baca Juga: Pesawat Ringan yang Membawa Skydivers Jatuh di Kota Menzelinsk Rusia, 16 Tewas dan 6 Selamat

Kalau kalian ingin sedikit tertawa, aku dan Renata sering dikira pasangan. Padahal, aku tidak pernah menunjukkan tingkah apa-apa. Renata juga begitu. Menurut kami, kami tidak merasa melakukan hal-hal yang dilakukan pasangan di muka umum.

Sudahlah, itu hanya intermeso. Niatku di sini ingin menceritakan pertemuanku dengan malaikat. Yang indah, yang sejuk, yang tenang, meskipun aku yakin, orang lain akan memandang kebalikannya. Aku belum tahu namanya karena baru kali itu aku melihat perempuan dengan rambut ekor kuda, tetapi aku mengenal wajahnya. Entah dari mana, mungkin dari memoriku pada kehidupan yang lalu. Atau, aku hanya merasa nyaman memandang wajahnya sehingga kupikir aku telah mengenalnya jutaan tahun lalu.

Tangannya tampak dipegang erat oleh seorang wanita paruh baya. Kurasa itu ibunya, atau tantenya, atau siapa pun yang memang bertanggung jawab terhadap dirinya. Sementara kulihat tangan kanannya berkali-kali mengepal, terbuka, mengepal lagi, terbuka lagi. Matanya terlihat menjelajah segala hal. Lalu, bola mata itu berhenti bergerak setelah bertemu dengan bola mataku.

Baca Juga: Dua Tahun Jokowi-Maruf Memerintah: Jangan Kriminalisasi gerakan Mahasiswa!

Ingin tahu seperti apa rasanya? Ini seperti kamu mendapat segelas bir dingin saat hari yang panas, seperti menyisakan satu potong besar ayam setelah kentang tumbukmu habis, seperti tidak perlu lagi mendapat resep baru tiap minggu. Ada yang terbebas begitu saja, berenang-renang ke permukaan, mencari udara segar. Aku tahu, senyumku sedang terkembang ketika ia melihatku.

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cerbung Samudra Ingin Kembali

Minggu, 5 Desember 2021 | 16:28 WIB

Cerbung: Samudra di Lautan Malas

Minggu, 5 Desember 2021 | 13:06 WIB

Puisi: Tepian Asmara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:20 WIB

Cerbung: Cicak Merayap di Dinding

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:08 WIB

Puisi: Pulau Asmara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 11:33 WIB

Cerbung: Cicak Jatuh di Halaman

Sabtu, 4 Desember 2021 | 11:19 WIB

Puisi: Biruku

Kamis, 2 Desember 2021 | 18:04 WIB

Cerpen: Pangeran Cinta

Selasa, 30 November 2021 | 19:44 WIB

Puisi: Diam Itu Membunuhku

Selasa, 30 November 2021 | 19:06 WIB

Surat Bersampul Hitam

Senin, 29 November 2021 | 12:10 WIB

Puisi Ingin Kau Tahu

Senin, 29 November 2021 | 11:37 WIB

Cerpen Batu Cinta

Sabtu, 27 November 2021 | 13:07 WIB

Novel Melukis Langit 11, Luka di Atas Luka

Rabu, 24 November 2021 | 20:47 WIB

CERPEN: Sapu Jagat

Kamis, 18 November 2021 | 06:13 WIB

Cerpen: Perjalanan Hati

Selasa, 16 November 2021 | 21:51 WIB

Hari Ayah dan Kado Cerpen Sang Ratu

Jumat, 12 November 2021 | 12:32 WIB

Novel Melukis Langit 9, Gadis di Pangkuannya

Kamis, 11 November 2021 | 21:55 WIB
X