• Minggu, 23 Januari 2022

Revolusi Bahasa

- Sabtu, 30 Oktober 2021 | 15:57 WIB
Ilustrasi: Mohammad Yamin (Youtube/ Televisi Edukasi)
Ilustrasi: Mohammad Yamin (Youtube/ Televisi Edukasi)


KLIKANGGARAN-- Bahasa adalah objek kajian satu disiplin ilmu yang dikenal dengan sebutan linguistik. Menurut KBBI V versi daring, bahasa dapat diartikan sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Jika merujuk definisi tersebut, patutlah kita menyepakati bahwa bangsa ini terbentuk karena memiliki bahasa.

Itu pun dipertegas dengan hadirnya sumpah pemuda pada Kongres Pemuda Kedua pada Oktober 1928. Yang kita tahu dalam sumpah tersebut tidak tertulis nama tokoh layaknya teks proklamasi—dalam teks tersebut tertulis “Atas nama bangsa Indonesia, Soekarno/Hatta”—sehingga kita, terutama kalangan pelajar, tidak mengetahui siapa sajakah yang terlibat dalam rumusan tersebut, terutama yang mengangkat bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan.

Lalu, siapakah tokoh yang mencetuskan pentingnya bahasa kebangsaan ini? Menurut Endarmoko (2017:8), Muhammad Yamin adalah tokoh yang pertama kali menggelindingkan pemikiran tentang pentingnya bahasa kebangsaan—pada sebuah acara memperingati lustrum pertama Jong Sumatranen Bond pada 1923. Kemudian, Muhammad Yamin mengutarakan kembali gagasan itu dalam Kongres Pemuda Pertama pada 1926 seraya menawarkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan.

Baca Juga: Kang Ben: Janggal Kebijakan Membawa Limbah B3 Blok Rokan ke Pulau Jawa

Sudah 93 tahun berlalu, sumpah pemuda akan selalu diingat, bahkan setiap 28 Oktober, kita dapat melihat media online—Youtube, Instagram, bahkan Twitter—atau website instansi pemerintah/swasta yang mengunggah poster, animasi, atau kolase foto sumpah pemuda. Tentu dengan maraknya unggahan tersebut, kita berharap eksistensi bahasa Indonesia tetap terjaga hingga kini—bukan hanya media “iklan” atau aji mumpung sebagai ajang ikut-ikutan. Para pengunggah tersebut harus mengirarkan diri betapa pentingnya arti bahasa Indonesia.

Saat ini kita tidak boleh hanya berpangku tangan kepada Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa untuk melestarikan dan menjaga bahasa Indonesia. Kita harus mulai dari individu masing-masing untuk menjaga eksistensi bahasa Indonesia. Dalam hal ini, patutlah kita mencontoh Totok Suhardijanto (melalui twitter: @to2k).

Sepertinya, Totok Suhardijanto menyadari kondisi pandemi menyebabkan bahasa asing “menjajah” bahasa Indonesia.

Baca Juga: Pangeran Salman Beli Newcastle United, Bos AI Tuduh Sepak Bola Dipakai Bersihkan Rekor Pelanggaran HAM

“Singapura melakukan penggerendelan (lockdown) di tengah pandemik virus covid-19. Saya usulkan penggerendelan untuk padanan lockdown,” cuit Totok Suhardijanto yang berprofesi sebagai pengajar tetap di Dapertemen Linguistik UI dan Ketua Indonesian Association for Computational Linguistics (INAL) melalui akun Twitternya pada 14 Maret 2020.

Usulan Totok Suhardiajnto, sepertinya, “belum sependapat” dengan pihak Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Menurut KBBI daring, padanan kata lockdown adalah kuncitara ‘karantina wilayah’. Kata yang asing terdengar di telinga masyarakat Indonesia. Uniknya lagi, pemerintah menggonta-ganti nama pembatasan Corona menjadi PSBB, PPKM, PPKM Darurat, dan PPKM Level 3-4.

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menikah atau Tidak Menikah?

Rabu, 12 Januari 2022 | 09:03 WIB

Melepas Keriuhan, Menyambut Keheningan

Selasa, 4 Januari 2022 | 16:27 WIB

Pemikiran Gus Dur dalam Pergerakan PMII

Kamis, 30 Desember 2021 | 19:39 WIB

Relasi Sinergis Nahdlatul Ulama-Partai Gerindra

Minggu, 19 Desember 2021 | 12:42 WIB

Jangan Stigma Negatif Pesantren

Sabtu, 11 Desember 2021 | 21:25 WIB

Mengulik Makna Selangkangan

Senin, 6 Desember 2021 | 17:28 WIB

Pentingnya Perencanaan Tenaga Kerja di Perusahaan

Jumat, 19 November 2021 | 18:32 WIB
X