• Minggu, 5 Desember 2021

Tanah Tabu: Perempuan dan Nasib Ibu Bumi

- Senin, 18 Oktober 2021 | 10:02 WIB
Ilustrasi (@sekar_mayang)
Ilustrasi (@sekar_mayang)

KLIKANGGARAN-- Jelang menuliskan ulasan untuk novel Tanah Tabu ini, saya masih bingung menentukan judul artikel resensi ini. Banyak hal yang bisa dijadikan perhatian dari buku mungil nan padat ini. Dan, ini buku ketiga dari sekian banyak karya pemenang sayembara DKJ yang berhasil saya baca.

Sebelum Tanah Tabu, saya tahu bertahun-tahun lalu Ayu Utami yang mendapat giliran menjadi pemenang. Akan tetapi, baru bertahun-tahun lalu saya berkesempatan membacanya. Begitu pula dengan novel etnografi ini, yang berkisah tentang kehidupan di tanah tabu: Papua.

Bukan tanpa alasan Papua mendapat julukan tanah tabu oleh penghuninya. Bagi mereka, tanah yang mereka pijak harus selalu dihormati, dijaga, dirawat, agar tetap memberi penghidupan bagi keturunan mereka kelak. Prinsip inilah yang seharusnya dipegang teguh siapa pun yang tinggal di atas Ibu Bumi.

Baca Juga: Indonesia Juara Piala Thomas: Jojo Persembahkan Piala Thomas untuk Tuhan dan seluruh Rakyat Indonesia

Novel Tanah Tabu dikemas begitu apik oleh Anindita. Dengan fragmen-fragmen unik yang diceritakan langsung oleh para tokohnya: ada manusia, ada pula hewan. Ya, unsur fabel ini menjadi ciri khas sendiri bagi novel Tanah Tabu.

Lewat tokoh Pum, seekor anjing peliharaan Mabel, Anindita mengolah metafora-metafora. Ia berbagi pengalaman dan pemahaman spiritual tentang kematian. Di banyak kebudayaan, kematian tidak dimaknai sebagai akhir. Ia adalah awal mula, pintu menuju keabadian, dunia tanpa kesakitan dan tekanan.

Gaya tutur Anindita sendiri cukup nge-pop. Ia dengan yakin mengajak bicara pembacanya. Serasa membaca novel-novel teenlite besutan Meg Cabot atau Sophie Kinsella. Renyah, tetapi tetap berisi.

Baca Juga: Dimiripkan Torontotokyo, Begini Reaksi Dokter Tirta, eh Torontotokto itu Siapa ya?

Namun, ketika meninjau isi ceritanya, kita akan dibuat seolah-olah menaiki ombak banyu di pasar malam. Kadang di atas, tak jarang di bawah. Jika tidak kuat hati, saya tidak tahu bagaimana lagi memaknai dukacita.

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pentingnya Perencanaan Tenaga Kerja di Perusahaan

Jumat, 19 November 2021 | 18:32 WIB

Mengenali Penyakit-Penyakit Batin

Sabtu, 6 November 2021 | 13:45 WIB

Menyamakan Editor dengan Polisi Saltik: Anda Waras?

Selasa, 2 November 2021 | 15:57 WIB

Keikutsertaan Lendir dalam Sebuah Karya Sastra

Selasa, 2 November 2021 | 12:24 WIB

Revolusi Bahasa

Sabtu, 30 Oktober 2021 | 15:57 WIB

Jangan Meletakkan Kebahagiaan di Mulut Orang

Jumat, 29 Oktober 2021 | 14:03 WIB

Makna Sumpah Pemuda buat Pejabat

Jumat, 29 Oktober 2021 | 06:26 WIB

Makna Sumpah Pemuda buat Milenial Kekinian

Selasa, 26 Oktober 2021 | 19:39 WIB

MBOK GINAH, LEO KRISTI DAN YEHUDI MENUHIN (2)

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:27 WIB
X