• Jumat, 20 Mei 2022

Guru Berdaster

- Rabu, 6 Oktober 2021 | 15:42 WIB
Guru Berdaster (dok. Sekar_Mayang)
Guru Berdaster (dok. Sekar_Mayang)


Klikanggaran.com-- Laila mematut diri di depan cermin meja rias. Baru saja ia selesai dengan riasan di wajah. Tidak banyak yang ia tempel. Hanya pelembap, bedak, lipstik, perona mata warna cokelat tua, serta goresan pensil untuk mempertegas garis alisnya yang memang sudah bagus. Ia tersenyum puas melihat wajahnya yang tampak segar setelah dipulas riasan. Lalu, matanya terarah ke bawah, menatap pakaian yang ia kenakan. Napas panjang terembus, bersamaan dengan beban seberat Himalaya.

Suara rengekan terdengar. Balitanya sudah terjaga. Agak siang kali ini. Tadi Seto sudah membangunkan lelaki kecil itu, tetapi rupanya si bocah masih mengantuk. Jadi, Seto hanya mengecup si jagoan, juga mengecup dahi serta bibir Laila, lalu berlalu menuju kantor dengan sepeda motornya.

Laila berbalik menatap Wisnu. Bocah itu sudah terduduk sambil mengucek-ucek matanya.

"Ibu, mana Ayah?"

"Sudah berangkat, Sayang. Tadi Ayah minta Wisnu bangun, tetapi Wisnu nggak bangun-bangun."

Baca Juga: Sepekan Bertualang di Singapura, Negeri Singa, ... Yuk, Kita Cari Tempat-tempat Asyiknya

Wisnu masih terduduk. Laila masih berdiri di depan cermin. Ia kembali melihat pantulan dirinya di sana. Bergumamlah hatinya, "Seharusnya bukan daster, tetapi seragam. Seharusnya bukan botol susu dan setumpuk popok, tetapi diktat mengajar."

***

Laila menamatkan kuliahnya tepat waktu. Ia pun segera mendapat pekerjaan di sebuah lembaga bimbingan belajar. Ia mentor yang disegani sekaligus digemari anak didiknya. Caranya menyampaikan materi amat terang, jelas, tidak berbelit, dan mampu membuat mereka sepenuhnya menaruh perhatian.

Laila cepat sekali jadi primadona di lembaga itu. Atasannya tak segan memberi bonus atau mengajaknya road show ke sekolah-sekolah dengan beberapa mentor lain demi mendulang anak didik baru. Laila dipuja, Laila disanjung.

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Puisi : Menjadi Kartini

Kamis, 21 April 2022 | 07:18 WIB

Fabel : Kisah Amora, Ayam yang Belajar Ikhlas

Kamis, 7 April 2022 | 07:39 WIB

CERPEN: Aku Tunggu di Hotel Sekarang!

Minggu, 13 Maret 2022 | 07:47 WIB

CERPEN: Aku Kehilangan Diriku Sendiri

Selasa, 1 Maret 2022 | 14:44 WIB

CERPEN: Taman Langit

Selasa, 1 Maret 2022 | 10:46 WIB

Puisi Malam yang Sakit

Jumat, 28 Januari 2022 | 21:11 WIB

Cerpen Ramli Lahaping: Segitiga Pembunuhan

Jumat, 21 Januari 2022 | 12:34 WIB

CERITA ANAK: Kerang untuk Damar

Minggu, 9 Januari 2022 | 16:11 WIB

CERPEN: Dekap Hangat yang Selamanya

Sabtu, 1 Januari 2022 | 11:43 WIB

Tiga Puisi Karya ALfi Irsyad Ibrahim

Jumat, 24 Desember 2021 | 18:52 WIB

Cerbung: Kabut Pembatas Dua Hati

Minggu, 19 Desember 2021 | 13:29 WIB

Cerbung Kabut Pembatas Dua Dunia

Jumat, 17 Desember 2021 | 20:05 WIB

Cerbung: Tanda Cinta di Wajah Pias

Rabu, 15 Desember 2021 | 18:28 WIB

Cerbung: Wajah Pias dalam Pelukan

Selasa, 14 Desember 2021 | 21:26 WIB

Cerbung: Tirai Hitam di Hati Venerose

Kamis, 9 Desember 2021 | 18:06 WIB

Cerbung: Tirai Hitam di Antara Dua Hati

Kamis, 9 Desember 2021 | 17:40 WIB

Puisi untuk Sahabat

Kamis, 9 Desember 2021 | 16:52 WIB

Puisi: Aku Adalah

Kamis, 9 Desember 2021 | 16:32 WIB

Puisi: Jeritan Malam

Minggu, 5 Desember 2021 | 22:31 WIB

Cerbung Samudra Ingin Kembali

Minggu, 5 Desember 2021 | 16:28 WIB
X