• Selasa, 24 Mei 2022

Melepas Keriuhan, Menyambut Keheningan

- Selasa, 4 Januari 2022 | 16:27 WIB
Ilustrasi (Sekar_Mayang)
Ilustrasi (Sekar_Mayang)

 

KLIKANGGARAN--Pergantian tahun 2019 ke 2020 mungkin merupakan keriuhan normal yang terakhir kita rasakan sebelum pandemi menguasai kehidupan. Pesta kembang api seolah-olah simbol mutlak peralihan hari yang seharusnya gelap gulita, seharusnya dilalui dalam keheningan seperti halnya Nyepi.

Kehidupan tidak lepas dari dualitas. Adanya manis karena kita mengenal pahit. Adanya terang karena kita paham bagaimana rupa gelap. Begitu pula keriuhan, hanya akan hadir ketika senyap ikut berkuasa, ketika keheningan benar-benar terjadi.

Beberapa orang mungkin hanya ingin merasakan keriuhan tanpa ingin berdekatan dengan keheningan. Ada dikotomi yang tampak jelas. Bahwa keriuhan adalah baik, bahwa keheningan adalah sebaliknya. Pasar yang riuh tentu lebih baik ketimbang pasar yang hening. Riuh berarti ada perputaran uang. Riuh berarti roda kehidupan berjalan.

Sekumpulan orang berada dalam satu ruangan. Mereka bertalian darah atau terhubung atas dasar pertemanan. Riuh rendah suara mereka, diselingi tawa yang menggelegak layaknya lava matang di kawah gunung. Ekspresi wajah semringah. Dekap dan peluk dihamburkan bersamaan dengan tegur sapa yang riang.

Baca Juga: CA Tertangkap Kasus Prostusi, Mengapa Artis Bisnis Begituan?

Akan tetapi, sebelum keriuhan itu dimulai, sebelum para pedagang membuka lapak mereka, sebelum pembeli datang silih berganti, sebelum tempat pertemuan diisi sekian banyak orang, sebelum tegur sapa terdengar, ada hening yang menyelimuti tempat itu. Tempat apa pun, di atas Ibu Bhumi.

Kamus memaknai riuh sebagai sangat ramai (tentang suara); hiruk-pikuk; gaduh. Maka, sebagai lawan kata, hening diartikan sebagai diam; sunyi; sepi; lengang. Padahal, masih ada makna lain, yaitu jernih; bening; bersih. (KBBI Daring, diakses 4 Januari 2022)

Jernih, bening, dan bersih, jika ingin ditegaskan, sudah barang tentu berkonotasi positif. Air yang jernih, bening, dan bersih tentu lebih layak dikonsumsi daripada yang keruh, tidak bening, dan kotor.

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Dilema Puan Menjadi Presiden

Kamis, 21 April 2022 | 04:39 WIB

Kios SIAPkerja (Kasus BPVP Kabupaten Sidoarjo)

Rabu, 13 April 2022 | 13:33 WIB

Konsep Frasa Crazy Rich dan Orang Kaya

Selasa, 29 Maret 2022 | 16:48 WIB

Mandalika dan Penciptaan Lapangan Kerja

Selasa, 29 Maret 2022 | 13:06 WIB

Berkawan Akrab dengan Kehilangan

Rabu, 23 Maret 2022 | 08:14 WIB
X