• Selasa, 28 Juni 2022

Cerpen Batu Cinta

- Sabtu, 27 November 2021 | 13:07 WIB
Cerpen Batu Cinta (Dok.klikanggaran.com/Blackrose)
Cerpen Batu Cinta (Dok.klikanggaran.com/Blackrose)

Baca Juga: Greysia Polii dan Apriyani Hadapi Ganda Putri Thailand di Semi Final Indonesia Open 2021, Ayo Lanjut ke Final

Samurai menjatuhkan dirinya, bersimpuh di kaki Teratai. Tangannya bergetar menahan rintihan cinta terlarang. Air matanya pun mengalir memenuhi rongga hatinya. Sambil menahan isak lelaki itu berkata memelas, "Mengapa, Teratai? Mengapa kau persulit semua ini? Mengapa kau halangi cinta kita untuk bersatu? Apakah aku harus membelah dadaku agar kau tahu betapa aku sangat mencintaimu?"

"Bukan aku yang mempersulit." Teratai bersimpuh pula di hadapan Samurai. "Tapi cinta kita yang melakukannya. Ada hal yang kadang tidak harus kita uraikan. Aku juga tidak perlu menjelaskan padamu betapa terkoyaknya hatiku mendapati cintaku berlabuh pada sampan yang akan terluka karena kehadiranku."

Lalu, tangannya yang halus menggenggam jemari Samurai dengan erat dan melanjutkan berkata, "Kita yang mempersulit diri sendiri, karena membiarkan diri hanyut dalam arus yang kita tidak tahu kedalamannya."

Setelah mengakhiri kalimatnya, Teratai mencium tangan Samurai dan berdiri dengan cepat. Dia mematahkan ranting pohon di dekatnya, lalu menusuk jarinya satu per satu dengan bilah yang runcing, hingga masing-masing mengucurkan darah segar.

Samurai terpaku menatap Teratai. Bagai raga tak bernyawa lelaki itu tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun, dan tak dapat menggerakkan tubuhnya untuk mencegah Teratai.

Baca Juga: Ratusan Pendatang dari Negara Hotspot Omicron Masuk Bandara Schiphol, Amsterdam

"Aku tidak boleh menyentuhmu, tapi aku telah melakukannya, agar kau tahu betapa aku sangat mencintaimu. Dan, sekarang aku telah menghukum jemari yang telah melakukannya. Agar kau mengerti, cintaku tak bisa aku jadikan alasan untuk menyakiti siapa pun, termasuk istrimu."

Teratai berjalan perlahan menuju ke batu besar di dekat mereka, lalu menuliskan sebaris puisi dengan tetesan darah dari jemarinya. Kemudian berlari menuruni bukit dan menghilang di antara pepohonan.

Samurai segera tersadar apa yang baru saja terjadi dan berlari mengejar Teratai. Namun, sampai petang bergelayut menghiasi awan, tak ditemukannya juga wanita pujaan hatinya.

Halaman:

Editor: Kitt Rose

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Puisi : Menjadi Kartini

Kamis, 21 April 2022 | 07:18 WIB

Fabel : Kisah Amora, Ayam yang Belajar Ikhlas

Kamis, 7 April 2022 | 07:39 WIB

CERPEN: Aku Tunggu di Hotel Sekarang!

Minggu, 13 Maret 2022 | 07:47 WIB

CERPEN: Aku Kehilangan Diriku Sendiri

Selasa, 1 Maret 2022 | 14:44 WIB

CERPEN: Taman Langit

Selasa, 1 Maret 2022 | 10:46 WIB

Puisi Malam yang Sakit

Jumat, 28 Januari 2022 | 21:11 WIB

Cerpen Ramli Lahaping: Segitiga Pembunuhan

Jumat, 21 Januari 2022 | 12:34 WIB

CERITA ANAK: Kerang untuk Damar

Minggu, 9 Januari 2022 | 16:11 WIB

CERPEN: Dekap Hangat yang Selamanya

Sabtu, 1 Januari 2022 | 11:43 WIB

Tiga Puisi Karya ALfi Irsyad Ibrahim

Jumat, 24 Desember 2021 | 18:52 WIB

Cerbung: Kabut Pembatas Dua Hati

Minggu, 19 Desember 2021 | 13:29 WIB

Cerbung Kabut Pembatas Dua Dunia

Jumat, 17 Desember 2021 | 20:05 WIB

Cerbung: Tanda Cinta di Wajah Pias

Rabu, 15 Desember 2021 | 18:28 WIB

Cerbung: Wajah Pias dalam Pelukan

Selasa, 14 Desember 2021 | 21:26 WIB

Cerbung: Tirai Hitam di Hati Venerose

Kamis, 9 Desember 2021 | 18:06 WIB

Cerbung: Tirai Hitam di Antara Dua Hati

Kamis, 9 Desember 2021 | 17:40 WIB

Puisi untuk Sahabat

Kamis, 9 Desember 2021 | 16:52 WIB

Puisi: Aku Adalah

Kamis, 9 Desember 2021 | 16:32 WIB

Puisi: Jeritan Malam

Minggu, 5 Desember 2021 | 22:31 WIB

Cerbung Samudra Ingin Kembali

Minggu, 5 Desember 2021 | 16:28 WIB
X