• Selasa, 18 Januari 2022

Monolog Sepatu Bekas

- Sabtu, 28 Agustus 2021 | 21:00 WIB
Monolog Sepatu Bekas (Dok.pixabay/2341)
Monolog Sepatu Bekas (Dok.pixabay/2341)

 

Setelah meletakkan sepasang sepatunya, Raja berdiri lesu di ketinggian. Tak ingin didengarnya lagi monolog sepatu bekas miliknya. Tubuh ringkihnya bersandar lunglai pada dinding balkon. Terdengar angin sepoi mencoba menghiburnya. Raja perlahan meletakkan kepalanya di telapak tangan, sementara sikunya bertumpu pada dinding balkon.

Raja, pemuda yang tak menyadari bahwa dirinya tangguh itu, tinggal di sebuah flat, tepatnya rumah susun. Kumuh tidak, mewah pun tidak. Raja menamakannya rumah meskipun tiap saat dia harus menahan detak khawatir di dadanya. Detak takut diusir sang pemilik kamar flat karena ibunya yang lagi-lagi terlambat membayar sewa, yang sebenarnya, untuk ukuran kehidupan Jakarta yang mewah, harga sewanya sudah sangat murah. Hari-hari senggang dihabiskannya untuk mendengarkan monolog sepatu bekas miliknya.

Dengan tatapan kosong mata Raja menatap lalu lalang kendaraan di jalanan di bawahnya. Sesekali melirik sepatu di samping kakinya, tergoda untuk mendengarkan lagi betapa ngilu monolog sepatu bekas miliknya. Tiba-tiba dilihatnya seseorang di bawah sana melempar sepatu ke tengah jalan raya sambil mengumpat entah apa bunyinya, entah apa sebabnya. Suara orang itu ditelan angin dan deru kendaraan, maka Raja tak dapat mendengarnya. Raja dongkol melihat adegan itu.

Baca Juga: Tips Sukses Melewati Hari di Tengah Pandemi

“Hei, bodoh! Sepatumu itu masih bagus! Kenapa kamu lempar ke tengah jalan? Apa kau tak berpikir para mobil akan melindasnya? Bodoh! Tak tahu diri! Sepatu itu masih baguuus, bodoh!” dengusnya dengan suara yang segera hilang di telan angin.

Raja menegakkan kaki dengan geram, matanya melotot ke arah sepatu yang terkulai di tengah jalan. Tak lama kepalanya berpaling ke lantai balkon. Di sana sepasang sepatunya menganga hampir terbelah dua tergolek di lantai balkon dekat kakinya.

“Bodoh banget, sih. Orang itu nggak tahu betapa sulit beli sepatu baru. Liat, tuh! Liat bodoh, sepatuku yang renta. Sepatu bekas anak tetangga yang sombong itu. Sepatuku yang sobek hampir terbelah. Aku masih merawatnya, karena tiap hari kakiku harus bersahabat dengannya supaya aku bisa ke sekolah dengan kaki terbungkus sepatu.”

Baca Juga: Bisik-Bisik di Bawah Selimut

“Ya Allah, bodoh banget orang itu, melempar sepatu masih bagus seenaknya ke tengah jalan. Apa sih, isi kepalanya? Nggak bersyukur banget! Bodoh!”

Halaman:

Editor: Kitt Rose

Tags

Artikel Terkait

Terkini

CERITA ANAK: Kerang untuk Damar

Minggu, 9 Januari 2022 | 16:11 WIB

CERPEN: Dekap Hangat yang Selamanya

Sabtu, 1 Januari 2022 | 11:43 WIB

Tiga Puisi Karya ALfi Irsyad Ibrahim

Jumat, 24 Desember 2021 | 18:52 WIB

Cerbung: Kabut Pembatas Dua Hati

Minggu, 19 Desember 2021 | 13:29 WIB

Cerbung Kabut Pembatas Dua Dunia

Jumat, 17 Desember 2021 | 20:05 WIB

Cerbung: Tanda Cinta di Wajah Pias

Rabu, 15 Desember 2021 | 18:28 WIB

Cerbung: Wajah Pias dalam Pelukan

Selasa, 14 Desember 2021 | 21:26 WIB

Cerbung: Tirai Hitam di Hati Venerose

Kamis, 9 Desember 2021 | 18:06 WIB

Cerbung: Tirai Hitam di Antara Dua Hati

Kamis, 9 Desember 2021 | 17:40 WIB

Puisi untuk Sahabat

Kamis, 9 Desember 2021 | 16:52 WIB

Puisi: Aku Adalah

Kamis, 9 Desember 2021 | 16:32 WIB

Puisi: Jeritan Malam

Minggu, 5 Desember 2021 | 22:31 WIB

Cerbung Samudra Ingin Kembali

Minggu, 5 Desember 2021 | 16:28 WIB

Cerbung: Samudra di Lautan Malas

Minggu, 5 Desember 2021 | 13:06 WIB

Puisi: Tepian Asmara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:20 WIB

Cerbung: Cicak Merayap di Dinding

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:08 WIB

Puisi: Pulau Asmara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 11:33 WIB

Cerbung: Cicak Jatuh di Halaman

Sabtu, 4 Desember 2021 | 11:19 WIB

Puisi: Biruku

Kamis, 2 Desember 2021 | 18:04 WIB

Cerpen: Pangeran Cinta

Selasa, 30 November 2021 | 19:44 WIB
X