• Minggu, 5 Desember 2021

CERPEN: Pensil Frea

- Rabu, 20 Oktober 2021 | 09:24 WIB
Ilustrasi (@sekar_mayang)
Ilustrasi (@sekar_mayang)

KLIKANGGARAN--Sudah pukul enam sore. Frea, gadis tiga belas tahun itu meletakkan buku dongeng milik adiknya, Molly, yang masih berumur empat tahun. Molly sekarang sedang disuapi melon oleh ibunya.

Frea masuk ke kamarnya. Ia ingat, PR Matematika yang tadi siang ia kerjakan belum tuntas. Masih ada empat nomor lagi. Sebenarnya, bukan ia yang sengaja menunda menuntaskan tugasnya, tetapi tadi pensilnya patah. Pun sudah teramat pendek. Ia keluar kamar dengan membawa dua pensil baru. Rautan pensil ada di kamar kerja ayahnya—tidak boleh dibawa ke ruangan lain, titah sang ayah. Jadi, tiap hendak meraut pensil, Frea harus ke kamar ayahnya, ruangan yang harus ditempuh melewati zona bermain sang adik di ruang tengah.

Tadi siang Molly merajuk, tidak mau ditemani ibunya. Molly ingin Frea duduk di sampingnya dan membacakan dongeng, seperti yang sering ia lakukan. Frea menghela napas. Pensil-pensilnya yang masih utuh itu ia masukkan ke kantong jaket.

Baca Juga: Empat Fakta Terowongan Silaturahmi yang Menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral, Jakarta

Sang ayah baru akan pulang larut malam nanti. Hari ini Mr. Broderick bertugas di rumah sakit sampai pukul sebelas malam. Itu berarti Frea bisa bebas menjelajah kamar kerja ayahnya. Frea suka aroma buku-buku tua koleksi ayahnya. Buku-buku kedokteran, novel-novel, majalah-majalah terbitan belasan tahun yang lalu, dan belakangan, Mrs. Broderick menambahkan satu rak lagi di sudut ruangan untuk buku-buku dongeng Molly yang sekarang jumlahnya mencapai ratusan. Lebih cocok jadi perpustakaan alih-alih kamar kerja, pikir Frea.

Frea tersandung salah satu buku dongeng Molly yang tergeletak di lantai. Ia meringis. Ujung ibu jari kakinya terantuk sudut buku yang lancip. Buku itu terbuka, dan sekilas Frea melihat gambar para tokoh dongeng tersebut. Ada sang putri, pangeran, makhluk perpaduan naga dan kuda, beberapa kurcaci, dan pohon-pohon bonsai yang bisa bicara. Frea sendiri sudah sekitar lima kali membacakan buku itu untuk Molly.

Mengabaikan nyeri pada jarinya, Frea terus saja melenggang ke meja kerja ayahnya. Di sana rautan pensil itu diletakkan. Frea memutuskan akan langsung ke kamarnya untuk menyelesaikan PR Matematika. Masih ada besok untuk menyambangi buku-buku tua di ruangan ini, pikirnya.

Baca Juga: Ayo Jojo dan Ginting, Kalahkan Lawan dan Maju Babak 16 Besar Denmark Open 2021

Batang pensil sudah masuk ke lubang rautan, tetapi tiba-tiba saja ada udara yang bergerak di depan wajah Frea. Poninya berantakan. Matanya kemasukan debu. Sejenak Frea bingung dengan apa yang terjadi. Lalu, ia melihat jendela ruangan itu belum ditutup.

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cerbung Samudra Ingin Kembali

Minggu, 5 Desember 2021 | 16:28 WIB

Cerbung: Samudra di Lautan Malas

Minggu, 5 Desember 2021 | 13:06 WIB

Puisi: Tepian Asmara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:20 WIB

Cerbung: Cicak Merayap di Dinding

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:08 WIB

Puisi: Pulau Asmara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 11:33 WIB

Cerbung: Cicak Jatuh di Halaman

Sabtu, 4 Desember 2021 | 11:19 WIB

Puisi: Biruku

Kamis, 2 Desember 2021 | 18:04 WIB

Cerpen: Pangeran Cinta

Selasa, 30 November 2021 | 19:44 WIB

Puisi: Diam Itu Membunuhku

Selasa, 30 November 2021 | 19:06 WIB

Surat Bersampul Hitam

Senin, 29 November 2021 | 12:10 WIB

Puisi Ingin Kau Tahu

Senin, 29 November 2021 | 11:37 WIB

Cerpen Batu Cinta

Sabtu, 27 November 2021 | 13:07 WIB

Novel Melukis Langit 11, Luka di Atas Luka

Rabu, 24 November 2021 | 20:47 WIB

CERPEN: Sapu Jagat

Kamis, 18 November 2021 | 06:13 WIB

Cerpen: Perjalanan Hati

Selasa, 16 November 2021 | 21:51 WIB

Hari Ayah dan Kado Cerpen Sang Ratu

Jumat, 12 November 2021 | 12:32 WIB

Novel Melukis Langit 9, Gadis di Pangkuannya

Kamis, 11 November 2021 | 21:55 WIB
X