• Sabtu, 13 Agustus 2022

Kontrak Kerja EMCL dan PT Clariant Indonesia Lebih Bayar USD2,3 Juta, Kok Bisa?

- Jumat, 1 Juli 2022 | 18:54 WIB
PT Clariant Indonesia
PT Clariant Indonesia

KLIKANGGARAN -- KKKS Exxon Mobil Cepu Limited (EMCL) dan PT Clariant Indonesia membuat perjanjian nomor 4600020298 untuk pengadaan Provision of Crude Treatment Chemicals menggunakan harga satuan (material outline agreement) dengan jangka waktu pelaksanaan kontrak selama 5 (lima) tahun yang dimulai pada 5 Februari 2018 sampai 5 Februari 2023. Dalam pelaksanaan pekerjaan, kontrak mengalami delapan kali amendemen / perubahan.

Perubahan nilai kontrak tersebut telah disetujui oleh SKK Migas melalui Surat SKK Migas Nomor SRT-0129/SKKMH0000/2020/S7 tanggal 30 September 2020 tentang Persetujuan Perubahan Lingkup Kontrak (PLK) Provision of Crude Treatment Chemicals, perjanjian nomor 4600020298, dimana PLK disetujui sebesar USD29,412,356.00.

Dengan adanya PLK tersebut, maka nilai kontrak meningkat dari semula yang tercantum dalam kontrak awal sebesar USD37,894,736.00 menjadi USD71,096,565.00.

Lebih lanjut, berdasarkan data yang dihimpun KLIKANGGARAN atas dokumen pengadaan, kontrak, dan pelaksanaan pekerjaan Provision of Crude Treatment Chemicals diketahui penggunaan bahan kimia Pour Point Depressant pada tahun 2020 melebihi dosis dari formula yang ditawarkan pada saat lelang, sehingga diduga mengakibatkan kelebihan pembayaran minimal sebesar USD2,302,091.04.

Berdasarkan hasil analisis dokumen perencanaan dan pelaksanaan, diketahui bahwa jenis bahan kimia Pour Point Depressant (PPD) merupakan bahan kimia yang secara berkelanjutan digunakan dalam menunjang produksi minyak mentah Banyu Urip.

Dalam Laporan Produksi Harian EMCL dan Data Penggunaan Harian PPD selama tahun 2020, diketahui bahwa terdapat penggunaan dosis PPD yang beragam dan tidak sesuai dengan dosis yang direkomendasikan pada dokumen kontrak dan amendemennya, rata-rata penggunaan PPD selama tahun 2020 adalah 498,43 ppm, sedangkan dosis yang direkomendasikan adalah 425 ppm.

Hasil perhitungan menunjukkan terdapat perbedaan pada setiap hari produksi atas dosis PPD yang diberikan, sehingga berpotensi terjadinya kelebihan pembayaran atas setiap selisih PPD yang digunakan.

Secara kumulatif sejak 1 Januari 2020 sampai 31 Desember 2020, ditemukan adanya selisih dosis (volume) PPD yang digunakan yang mengakibatkan kelebihan pembayaran minimal sebesar USD2,302,091.04, sehingga permasalahan dosis penggunaan bahan kimia PPD, rekomendasi dosis PPD sebesar 425 ppm merupakan faktor pembentuk harga dari penyedia dalam melakukan penawaran kontrak bahan kimia, sehingga dapat mempengaruhi hasil pemenang lelang dalam proses pengadaan.

Mengingat bahan kimia PPD merupakan bahan kimia yang rutin digunakan, maka penggunaan variasi rata-rata penggunaan dosis bahan kimia sebesar 498,43 ppm membuat nilai kontrak lebih mahal daripada nilai penawaran yg diberikan oleh Pemenang Lelang peringkat ke-2.

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X