• Selasa, 27 September 2022

Mandalika dan Penciptaan Lapangan Kerja

- Selasa, 29 Maret 2022 | 13:06 WIB
M. Cahyohadi S. (Dok. Istimewa)
M. Cahyohadi S. (Dok. Istimewa)

Pendahuluan

Pada tahun 2014 Pemerintah menetapkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika . Pasal 4 menyebutkan bahwa KEK Mandalika merupakan Zona Pariwisata. Selanjutnya Mandalika ditetapkan salah satu dari lima destinasi super prioritas. Penetapan tersebut bukan tanpa alasan. Mandalika merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Lombok Tengah yang memiliki pemandangan pantai eksotis. Hal tersebut dapat dilihat dari keindahan salah satu pantai di daerah tersebut, yakni Kuta Mandalika. Pantai tersebut terlihat eksotis berkat air lautnya yang jernih, pasir dengan tekstur yang meyerupai merica, hingga keberadaan batu karang yang menawan. Keindahan tersebut semakin lengkap berkat adanya bukit hijau yang membentengi pantai Kuta Mandalika. Pemandangan serupa seakan menjadi ciri khas bagi setiap pantai yang ada di kawasan tersebut, mulai dari Pantai Seger, Serenting, Putri Nyale, Tanjung Aan, hingga Gerupuk.

Sebagai Zona Pariwisata, Pemerintah menginginkan sirkuit Mandalika sebagai tujuan wisata unggulan. Untuk itu pada 2018, sirkuit Mandalika mulai dibangun dengan dilengkapi beragam fasilitas bertaraf internasional, yang biaya pembangunannya mencapai Rp1,8 trilliun, terlebih dengan dipastikannya Indonesia sebagai tuan rumah ajang balap MotoGP 2022. Sirkuit Mandalika diresmikan Presiden Joko Widodo pada tanggal 12 November 2021. Dan untuk pertama kalinya digunakan sebagai ajang balap Idemitsu Asia Talent Cup (IATC) 2021. Nantinya sirkuit Mandalika tidak hanya digunakan sebagai ajang perhelatan tingkat internasional, namun juga tingkat nasional, sehingga mampu mendongkrak jumlah wisatawan ke Lombok.

Baca Juga: Jokowi Rilis Larangan untuk Pejabat dan ASN di Bulan Ramadan dan Idul Fitri, Apa Saja ya?

Lapangan Kerja

Sirkuit Mandalika resmi berganti nama menjadi Pertamina Mandalika International Street Circuit pada tanggal 7 Oktober 2021. Keberadaan sirkuit ini telah memberikan banyak manfaat, setidaknya dari sisi penciptaan lapangan kerja baru yang berdampak pada meningkatnya perekonomian masyarakat sekitar. Dalam kaitan tersebut, tentunya tidak hanya terkait penciptaan lapangan kerja tetapi juga penyiapan tenaga kerja kompeten, terlebih nantinya banyak wisata dari mancanegara. Oleh karena itu perlu didalamnya pengembangan wisata medis, melalui dukungan wisata medis RS bertaraf internasional. Didukung dengan keindahan pantai yang exotis, keluarga yang menemani pasien merasa terhibur dan tidak stres. Ini sekaligus dapat menambah lapangan kerja dan menyerap tenaga kerja baru.

Selama tes pramusim MotoGP 2022 pada awal Februari dan putaran kedua MotoGP pada 18-20 Maret 2022, event ini diperkirakan menciptakan 11.000 lapangan kerja dan memberikan dampak ekonomi mencapai Rp500 miliar bagi masyarakat lokal . Inilah salah satu manfaat jangka pendek yang dapat dirasakan diantaranya meningkatnya konsumsi masyarakat, okupansi hotel, sektor penerbangan, industri kuliner, dan lain sebagainya. Diharapkan manfaat ini juga berlanjut pada jangka panjang tidak hanya dirasakan di sektor pariwisata di provinsi NTB, tetapi juga provinsi lain. Termasuk berdampak pada kepercayaan internasional untuk Indonesia menjadi tuan rumah event dunia.

Baca Juga: Karantina Ditiadakan, Ibadah di Masjid saat Ramadan dan Mudik Diperbolehkan, Ini Kata Presiden Jokowi!

Landasan Teori

Pada era tahun 80-an, para ekonom mengasumsikan pertumbuhan ekonomi 1 persen akan menciptakan 400 ribu lapangan pekerjaan. Oleh karena itu, secara teoritis Pemerintah selalu menjaga dan berupaya agar pertumbuhan ekonomi tidak kurang dari 5 persen. Dengan asumsi tingkat pertumbuhan penduduk 1,5 persen, setiap tahun terjadi pertambahan angkatan kerja berkisar 2 juta. Ditambah jumlah penganggur tahun sebelumya, diharapkan jumlah penganggur pada tahun berjalan dapat diturunkan. Namun seiring dengan perjalanan, ternyata pendekatan penciptaan lapangan kerja tidak selalu diperoleh melalui proxy pertumbuhan ekonomi, karena pertumbuhan ekonomi saat ini ternyata lebih bersifat padat modal dibanding padat karya.

Halaman:

Editor: Kitt Rose

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Napoleon Saja Dikalahkan Rusia, Apalagi...

Senin, 19 September 2022 | 21:38 WIB

Pesantren, Pseudo Pesantren, dan Tantangannya

Jumat, 16 September 2022 | 21:26 WIB

Cara Menghadirkan Sebanyak Mungkin Polisi di Lapangan

Kamis, 25 Agustus 2022 | 08:07 WIB

Pemilu 2024 dan Pendidikan Politik Kaum Milenial

Jumat, 19 Agustus 2022 | 21:22 WIB

Refleksi Hari Kemerdekaan, Kaum Muda Bisa Apa?

Rabu, 17 Agustus 2022 | 21:38 WIB

SATGASSUS

Selasa, 9 Agustus 2022 | 17:45 WIB

23 Juni 2022, UTBK dan Masa Depan NU

Kamis, 23 Juni 2022 | 08:22 WIB
X