• Rabu, 26 Januari 2022

Novel Melukis Langit 10, Seorang Gadis Lain di Sebuah Mahligai

- Sabtu, 13 November 2021 | 18:12 WIB
Novel Melukis Langit (Dok.klikanggaran.com/Blackrose)
Novel Melukis Langit (Dok.klikanggaran.com/Blackrose)

Keluar dari sebuah bank, berjalan gontai menuju pelataran parkir, Puniawati berhenti sejenak pada sebuah rumah makan di ujung jalan. Pikirannya coba mengingat lagi, makanan apa yang kira-kira malam ini bisa tersentuh tangan suaminya.

Masakan dari dapurnya sudah hampir satu tahun ini tak pernah lagi disentuh Aji. Setiap hari dicobanya membawa pulang makanan yang sama seperti yang selalu dipesan Aji bersama teman-temannya. Tiap hari berharap makanan yang dibawanya juga disentuhnya.

Aji semakin hari semakin menunjukkan perubahan yang tak lagi dapat dipahami Puniawati. Jarak keduanya terasa semakin jauh bagi Puniawati. Tak satu pun kalimatnya mampu menembus dinding pendengaran Aji.

Perilaku bisnisnya juga sudah mulai membuat Puniawati cemas. Banyak hal dilakukan Aji dengan tanpa pertimbangan matang. Bahkan, hampir semua dana simpanan dimasukkan ke dalam modal kerja oleh Aji. Setiap kali Puniawati mencoba mengingatkan selalu berujung pertengkaran.

Puniawati memutuskan untuk mencoba menu-menu baru di rumah makan yang dilihatnya. Belum sampai langkah Puniawati menjejak di pintu rumah makan, matanya menangkap suaminya keluar dari bank lain yang letaknya tak jauh dari tempatnya berada. Di sebelahnya bergelayut manja seorang wanita sambil menggandeng tangan suaminya.

Seorang Linda yang lain, bisik hati Puniawati nyeri.

Baca Juga: OTW Amerika! Sandiaga Uno Pamitan, Titip Kemenparekraf ke Wamen

Mereka tertawa riang sambil berjalan memasuki mobil Aji. Puniawati hampir tak ingin peduli dengan pemandangan yang sudah sering dilihatnya itu, namun kali ini kembali rasa penasaran menguasainya. Segera dia berjalan kembali dan memasuki mobil, kemudian melaju mengikuti ke mana mobil Aji pergi.

Sesampai di depan sebuah hotel, Puniawati memarkir mobilnya perlahan, tak jauh dari mobil Aji terparkir. Dinyalakannya kretek sambil memperhatikan dari dalam mobil kedua insan itu memesan kamar. Pikirannya mencari cara bagaimana dirinya dapat bergabung dalam ruangan hotel itu.

Puniawati memeras otak sambil memainkan asap yang mengepul keluar dari bibirnya. Matanya melirik agenda berwarna hitam tergeletak di kursi samping. Segera diambilnya agenda itu, membuang kretek, dan berjalan cepat memasuki hotel itu dengan tenang.

Halaman:

Editor: Kitt Rose

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cerpen Ramli Lahaping: Segitiga Pembunuhan

Jumat, 21 Januari 2022 | 12:34 WIB

CERITA ANAK: Kerang untuk Damar

Minggu, 9 Januari 2022 | 16:11 WIB

CERPEN: Dekap Hangat yang Selamanya

Sabtu, 1 Januari 2022 | 11:43 WIB

Tiga Puisi Karya ALfi Irsyad Ibrahim

Jumat, 24 Desember 2021 | 18:52 WIB

Cerbung: Kabut Pembatas Dua Hati

Minggu, 19 Desember 2021 | 13:29 WIB

Cerbung Kabut Pembatas Dua Dunia

Jumat, 17 Desember 2021 | 20:05 WIB

Cerbung: Tanda Cinta di Wajah Pias

Rabu, 15 Desember 2021 | 18:28 WIB

Cerbung: Wajah Pias dalam Pelukan

Selasa, 14 Desember 2021 | 21:26 WIB

Cerbung: Tirai Hitam di Hati Venerose

Kamis, 9 Desember 2021 | 18:06 WIB

Cerbung: Tirai Hitam di Antara Dua Hati

Kamis, 9 Desember 2021 | 17:40 WIB

Puisi untuk Sahabat

Kamis, 9 Desember 2021 | 16:52 WIB

Puisi: Aku Adalah

Kamis, 9 Desember 2021 | 16:32 WIB

Puisi: Jeritan Malam

Minggu, 5 Desember 2021 | 22:31 WIB

Cerbung Samudra Ingin Kembali

Minggu, 5 Desember 2021 | 16:28 WIB

Cerbung: Samudra di Lautan Malas

Minggu, 5 Desember 2021 | 13:06 WIB

Puisi: Tepian Asmara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:20 WIB

Cerbung: Cicak Merayap di Dinding

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:08 WIB

Puisi: Pulau Asmara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 11:33 WIB

Cerbung: Cicak Jatuh di Halaman

Sabtu, 4 Desember 2021 | 11:19 WIB

Puisi: Biruku

Kamis, 2 Desember 2021 | 18:04 WIB
X