• Rabu, 26 Januari 2022

Novel Melukis Langit 10, Seorang Gadis Lain di Sebuah Mahligai

- Sabtu, 13 November 2021 | 18:12 WIB
Novel Melukis Langit (Dok.klikanggaran.com/Blackrose)
Novel Melukis Langit (Dok.klikanggaran.com/Blackrose)

Baca Juga: KMAKI Soroti Carut Marut Keuangan BUMD SP2J Palembang, Bisa Jadi Berujung Pidana

Maafkan aku Mas,

Aku melakukan ini karena aku mencintaimu, lebih dari cintaku pada diriku sendiri. Tapi, aku bukan Lindamu itu dan tak hendak menjadi dirinya. Kalau Mas Aji lebih memilih dia, berikan seragam ini padanya dan biarkan aku sendiri untuk sementara waktu, sampai aku dapat menghadapimu lagi dengan tanpa amarah dan kekecewaan. Sampai aku dapat menerima dirimu apa adanya. Sekali lagi maafkan aku. Aku tidak tahu lagi bagaimana sikap yang lebih sopan untuk mengungkap ini semua.

Nini

Aji melempar bungkusan seragam ke keranjang sampah di pojok ruangan. Air matanya makin deras mengalir. Penyesalan tak terhingga membuat langkahnya limbung mengejar Puniawati. Dan, semakin tak kuasa lelaki itu menegakkan kaki tatkala dilihatnya Puniawati sedang bersimpuh di atas sajadah di pojok gelap kamar mereka.

Puniawati selalu mengurai kerikil dalam hatinya dengan tak bersuara nyaring. Diam sejenak selalu menjadi pilihan Puniawati untuk mencari kata terbaik sebagai bekal berdiskusi.

Aji berjalan menjauh dari pintu kamar. Diraihnya bungkus rokok dan korek di meja makan, lalu berjalan gontai menuju taman belakang. Malam itu tak ada bintang di langit nun jauh di ketinggian sana. Aji melihat langit sangat hitam, pekat, seperti isi hati dan kepalanya. Dia tak tahu apa yang harus dan akan dilakukannya.

Lelaki itu duduk mematung, tak lama kemudian matanya mongering. Wajahnya yang sejenak lalu penuh penyesalan kini perlahan mengeras kembali, dan dingin.

*

Baca Juga: Akhirnya Britney Spears Bebas dari Konservatori!

Halaman:

Editor: Kitt Rose

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cerpen Ramli Lahaping: Segitiga Pembunuhan

Jumat, 21 Januari 2022 | 12:34 WIB

CERITA ANAK: Kerang untuk Damar

Minggu, 9 Januari 2022 | 16:11 WIB

CERPEN: Dekap Hangat yang Selamanya

Sabtu, 1 Januari 2022 | 11:43 WIB

Tiga Puisi Karya ALfi Irsyad Ibrahim

Jumat, 24 Desember 2021 | 18:52 WIB

Cerbung: Kabut Pembatas Dua Hati

Minggu, 19 Desember 2021 | 13:29 WIB

Cerbung Kabut Pembatas Dua Dunia

Jumat, 17 Desember 2021 | 20:05 WIB

Cerbung: Tanda Cinta di Wajah Pias

Rabu, 15 Desember 2021 | 18:28 WIB

Cerbung: Wajah Pias dalam Pelukan

Selasa, 14 Desember 2021 | 21:26 WIB

Cerbung: Tirai Hitam di Hati Venerose

Kamis, 9 Desember 2021 | 18:06 WIB

Cerbung: Tirai Hitam di Antara Dua Hati

Kamis, 9 Desember 2021 | 17:40 WIB

Puisi untuk Sahabat

Kamis, 9 Desember 2021 | 16:52 WIB

Puisi: Aku Adalah

Kamis, 9 Desember 2021 | 16:32 WIB

Puisi: Jeritan Malam

Minggu, 5 Desember 2021 | 22:31 WIB

Cerbung Samudra Ingin Kembali

Minggu, 5 Desember 2021 | 16:28 WIB

Cerbung: Samudra di Lautan Malas

Minggu, 5 Desember 2021 | 13:06 WIB

Puisi: Tepian Asmara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:20 WIB

Cerbung: Cicak Merayap di Dinding

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:08 WIB

Puisi: Pulau Asmara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 11:33 WIB

Cerbung: Cicak Jatuh di Halaman

Sabtu, 4 Desember 2021 | 11:19 WIB

Puisi: Biruku

Kamis, 2 Desember 2021 | 18:04 WIB
X