• Rabu, 26 Januari 2022

Novel Melukis Langit 10, Seorang Gadis Lain di Sebuah Mahligai

- Sabtu, 13 November 2021 | 18:12 WIB
Novel Melukis Langit (Dok.klikanggaran.com/Blackrose)
Novel Melukis Langit (Dok.klikanggaran.com/Blackrose)

“Maaf, Mbak. Pak Aji tidak mengangkat telpon. Mari, saya antar ke kamar beliau.”

“Oh, tidak perlu, Mbak, biar saya sendiri aja. Di sebelah mana, ya, kamarnya?”

”Pak Aji di kamar 203 Mbak, dari sini lurus saja, lalu belok ke kanan di ujung lorong. Kamar Bapak paling ujung menghadap ke taman."

"Baik. Terima kasih."

Baca Juga: Atlet Paralimpik Asal Luwu Utara Sumbang 2 Emas untuk Sulsel di Peparnas XVI Papua

Dengan mengucap berjuta syukur di dalam hati, Puniawati bergegas meninggalkan meja resepsionis. Didekapnya agenda untuk menahan gejolak di dalam dadanya. Tubuhnya bergetar, pikirannya buntu, tidak tahu apa selanjutnya yang akan dia lakukan.

Kakinya terus melangkah mengikuti petunjuk resepsionis. Di matanya ada kesan, gadis resepsionis itu sudah mengenal suaminya dengan baik. Nalurinya mengatakan, suaminya sudah sering berkunjung ke hotel ini.

Dinyalakannya kretek sambil menyusuri lorong di pinggir taman, tak peduli pada tulisan ‘dilarang merokok’ terpampang besar di sudut dinding yang baru saja dilaluinya. Puniawati sibuk meredam hati agar tak menangis di sana. Dengan dada berdetak hebat matanya meneliti nomor yang terpampang di setiap pintu kamar.

Sampai di ujung lorong langkahnya terhenti. Pintu kamar nomor 203 sudah tertutup rapat. Di depan pintu ada sepatu suaminya dan sepasang sepatu perempuan. Puniawati berhenti, merasakan tubuhnya tiba-tiba seperti membeku.

Diisapnya kretek tanpa jeda untuk mencegah air mata jatuh. Matanya nyalang menatap dua pasang sepatu di depan pintu kamar hotel. Kakinya seperti tertancap di lantai mengkilap, sulit untuk digerakkan. Seperti anak kecil kehilangan ibunya, Puniawati beberapa kali mengedipkan matanya yang tiba-tiba terlihat sedemikian kosong.

Halaman:

Editor: Kitt Rose

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cerpen Ramli Lahaping: Segitiga Pembunuhan

Jumat, 21 Januari 2022 | 12:34 WIB

CERITA ANAK: Kerang untuk Damar

Minggu, 9 Januari 2022 | 16:11 WIB

CERPEN: Dekap Hangat yang Selamanya

Sabtu, 1 Januari 2022 | 11:43 WIB

Tiga Puisi Karya ALfi Irsyad Ibrahim

Jumat, 24 Desember 2021 | 18:52 WIB

Cerbung: Kabut Pembatas Dua Hati

Minggu, 19 Desember 2021 | 13:29 WIB

Cerbung Kabut Pembatas Dua Dunia

Jumat, 17 Desember 2021 | 20:05 WIB

Cerbung: Tanda Cinta di Wajah Pias

Rabu, 15 Desember 2021 | 18:28 WIB

Cerbung: Wajah Pias dalam Pelukan

Selasa, 14 Desember 2021 | 21:26 WIB

Cerbung: Tirai Hitam di Hati Venerose

Kamis, 9 Desember 2021 | 18:06 WIB

Cerbung: Tirai Hitam di Antara Dua Hati

Kamis, 9 Desember 2021 | 17:40 WIB

Puisi untuk Sahabat

Kamis, 9 Desember 2021 | 16:52 WIB

Puisi: Aku Adalah

Kamis, 9 Desember 2021 | 16:32 WIB

Puisi: Jeritan Malam

Minggu, 5 Desember 2021 | 22:31 WIB

Cerbung Samudra Ingin Kembali

Minggu, 5 Desember 2021 | 16:28 WIB

Cerbung: Samudra di Lautan Malas

Minggu, 5 Desember 2021 | 13:06 WIB

Puisi: Tepian Asmara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:20 WIB

Cerbung: Cicak Merayap di Dinding

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:08 WIB

Puisi: Pulau Asmara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 11:33 WIB

Cerbung: Cicak Jatuh di Halaman

Sabtu, 4 Desember 2021 | 11:19 WIB

Puisi: Biruku

Kamis, 2 Desember 2021 | 18:04 WIB
X