• Minggu, 28 November 2021

Pelangiku untuk Gaza

- Selasa, 21 September 2021 | 08:22 WIB
Ilustrasi: Pelangiku untuk Gaza (Pixabay/hosny_salah)
Ilustrasi: Pelangiku untuk Gaza (Pixabay/hosny_salah)

“Hanya dua kemungkinan yang akan terjadi di sini. Mati karena serangan rudal atau mati karena menahan rindu, aku lebih pilih yang pertama, rasa sakitnya tidak akan terlalu lama,” Gita melancarkan humor romantisnya yang membuatku semakin rindu.

Baca Juga: Rumi, Putra Afganistan, Karya-karyanya Memberi Inspirasi hingga Kini

“Kamu perempuan, yang kodratnya dijaga laki-laki. Tapi, kamu terlalu mandiri. Terkadang aku merasa payah,”

“Sayang, jangan pernah lagi menyebut dirimu seperti itu. Apa yang aku lakukan saat ini semata-mata hanya karena aku pernah kehilangan keluargaku saat masih kanak-kanak, walaupun dengan alasan kematian yang berbeda. Namun, saat itu aku benar-benar merasa sendiri. Aku ingin ke sini untuk menghibur anak-anak yang kehilangan anggota keluarganya. Aku tak ingin air mata mereka kering dengan sendirinya, aku ingin mengusapnya dan menceritakan tentang pelangi yang akan muncul setelah hujan.”

Kalimat terakhir yang Gita ucapkan menghentikan konfrontasi di antara kami. Ia sukses membuatku bungkam. Ya, bukan hanya anak-anak itu yang sedang menunggu pelangi. Pun aku yang juga akan menunggu sampai pelangi itu muncul di sini, menjadi mempelai wanitaku.

*
Komunikasi di antara kami semakin jarang terjadi. Media sosial miliknya pun seperti jarang diakses. Kabar terakhir yang Gita kirimkan melalui surel bahwa banyak fasilitas kesehatan yang rusak sehingga vaksinasi pencegahan virus tidak bisa dilakukan secara maksimal. Juga puluhan warga Palestina yang ditangkap pihak kepolisian Israel saat sedang mengkampanyekan sterilisasi di Sur Baher. Kemudian sukarelawan asing diminta untuk menahan aksi sosial mereka juga agar tidak ada peristiwa salah tangkap yang bisa berujung kematian.

Entah, aku merasa kosong. Kami adalah calon suami-istri, bukan teman biasa. Rasanya sangat aneh jika aku sampai kehilangan kabar darinya dalam kurun waktu yang cukup lama. Aku jadi berasumsi Gita tidak benar-benar ingin menikah denganku atau aku yang terlalu obsesif ingin mejadikannya pasangan hidup.
Jika saja Gita mau sedikit memahami, kabar yang kuharapkan datang darinya bukan lagi tentang eskalasi perang di area konflik itu, bukan pula tentang ganasnya Covid yang membuat angka kematian semakin mengerikan. Aku hanya ingin mendengar keinginan Gita untuk pulang. Sudah hampir 1,5 tahun aku menunggunya. Orang tuaku sudah mulai kehilangan kesabaran dengan segala macam alasan yang kusampaikan. Hak Gita untuk memiliki jiwa solidaritas pada sesama, pun hak orang tuaku untuk melihat anak semata wayangnya bahagia.

Baca Juga: Kata Siapa Menulis Puisi Sulit? Begini lho Cara Menulis Puisi agar Terlihat seperti Penyair Sungguhan

Dengan sangat terpaksa kuminta keputusan darinya, putus atau terus. Lagi-lagi aku tak tahu kapan Gita akan membalas surel dariku. Di satu sisi, ikatan di antara ia dan anak-anak yang diurusnya menjadi semakin masif, sementara kami semakin berjarak dan menipis.

*
Surel terakhirku baru dibalasnya beberapa pekan kemudian. Banyak yang ia tuliskan, mulai dari keadaan hingga perasaan. Selain menceritakan kondisi di sana yang semakin sulit, juga sebuah kata putus yang teramat pahit. Ya, pelangiku memutuskan akan tetap muncul di Gaza, bukan di Jakarta.
Aku tak perlu menarik napas dalam-dalam untuk mencari kelegaan. Aku sudah sangat siap menerima kenyataan. Kami punya cara berbeda untuk bahagia. Aku tak ingin menjadi penghalang baginya.

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cerpen Batu Cinta

Sabtu, 27 November 2021 | 13:07 WIB

Novel Melukis Langit 11, Luka di Atas Luka

Rabu, 24 November 2021 | 20:47 WIB

CERPEN: Sapu Jagat

Kamis, 18 November 2021 | 06:13 WIB

Cerpen: Perjalanan Hati

Selasa, 16 November 2021 | 21:51 WIB

Hari Ayah dan Kado Cerpen Sang Ratu

Jumat, 12 November 2021 | 12:32 WIB

Novel Melukis Langit 9, Gadis di Pangkuannya

Kamis, 11 November 2021 | 21:55 WIB

Novel Melukis Langit 8, Bersenggama dengan Laut

Kamis, 11 November 2021 | 19:41 WIB

Novel Melukis Langit 7, Cintanya Ditelan Laut

Kamis, 11 November 2021 | 19:06 WIB

Novel Melukis Langit 6, Kenyataan Pahit

Senin, 8 November 2021 | 19:24 WIB

Novel Melukis Langit 5, Perselingkuhan

Minggu, 7 November 2021 | 21:16 WIB

Novel Melukis Langit 4, Keputusan

Minggu, 7 November 2021 | 19:42 WIB

Novel Melukis Langit 3, Pertemuan

Jumat, 5 November 2021 | 20:36 WIB

Novel Melukis Langit 2, Gumpalan Awan Hitam

Jumat, 5 November 2021 | 18:10 WIB

Novel Melukis Langit 1, Memeluk Prahara

Jumat, 5 November 2021 | 14:37 WIB

PUISI: Pahlawan Itu

Kamis, 4 November 2021 | 09:59 WIB

Cerita Anak: Hari Pahlawan Adalah Hariku

Senin, 1 November 2021 | 10:26 WIB

PUISI: Cappuccino Senja

Minggu, 31 Oktober 2021 | 17:00 WIB
X