• Sabtu, 29 Januari 2022

Dilarang Baper Saat Mendapat Kritik

- Kamis, 16 September 2021 | 16:19 WIB
Baper saat dikritik (Dok.pexels.com/Pixabay)
Baper saat dikritik (Dok.pexels.com/Pixabay)

Klikanggaran.com - Pernah mendapat kritik atas apa yang sudah Anda lakukan? Pernah merasa kesal atas kritik tersebut? Atau, jangan-jangan, Anda jadi baper gara-gara kritik yang sebenarnya cukup umum diutarakan dalam sebuah forum? Tak perlu khawatir. Anda tidak sendirian di dunia ini. Kira-kira setengah populasi semesta, termasuk alien-alien di pojokan Galaksi Andromeda juga mengalami hal tersebut.

Lantas, bagaimana cara mengusir baper ketika banjir kritik mendera? Oh, itu mudah, Ferguso. Artikel ini akan—setidaknya—membuat Anda memikirkan sejuta kali jika memutuskan untuk baper saat menghadapi kritik.

Baper adalah akronim dari bawa perasaan. Sebutan itu merupakan sebuah reaksi yang terjadi ketika kita mengalami sesuatu yang kurang mengenakan atau tidak sesuai kondisi ideal kita. Misalnya, ya, ketika kita mendapat kritik terhadap karya atau aktivitas yang sudah atau sedang kita lakukan.

Baca Juga: Upaya Pencegahan Banjir di Jakarta Tak Dapat Dilakukan, Ini PR Pemprov DKI Jakarta

Seseorang bisa saja meralat ketikan komentar Anda di media sosial. Dalam kondisi kepala dingin, komentar tersebut jadi semacam pengingat. Anda akan berterima kasih kepada pemberi kritik karena menghindarkan Anda dari kesalahan berkepanjangan. Anda tentu tidak ingin orang lain yang belum tahu apa-apa malah menyerap sesuatu yang salah dari diri Anda, bukan?

Bagi pemberi kritik, penerimaan Anda yang begitu tenang akan mendatangkan perasaan lega. Si pemberi kritik tentu juga tidak ingin orang lain mengadopsi kesalahan tik tersebut menjadi pakem. Sampai di sini, kondisi ideal tercapai. Semua senang, semua tenang.

Hanya saja, ada kalanya suasana hati seseorang tidak bisa diprediksi, apalagi jika kita tidak mengenal orang tersebut secara personal. Mungkin kondisi tubuhnya sedang tidak bagus, mungkin pula sedang mengalami masalah di tempat kerja. Maka, sehalus apa pun koreksi yang kita ajukan, selalu akan mendapat reaksi berlebihan. Mengapa disebut berlebihan? Sebab, idealnya, segala permasalahan bisa disikapi dengan tenang.

Baca Juga: Birokrasi Pemkab Batang Hari Belum Terpadu, Ini Permasalahan yang Perlu Diperhatikan

Seseorang yang dalam kendali amarah biasanya lebih mendengarkan ego. Bahwa, dirinya harus dilayani dengan baik, dimanja-manja dengan kata-kata lembut, dan cenderung tidak mau menerima kata “tidak” dari orang lain. Dengan kata lain, tidak boleh ada yang merendahkan dirinya, lewat cara apa pun. Ini jelas bukan cara yang baik dalam menyikapi sebuah kritik.

Halaman:

Editor: Kitt Rose

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menikah atau Tidak Menikah?

Rabu, 12 Januari 2022 | 09:03 WIB

Melepas Keriuhan, Menyambut Keheningan

Selasa, 4 Januari 2022 | 16:27 WIB

Pemikiran Gus Dur dalam Pergerakan PMII

Kamis, 30 Desember 2021 | 19:39 WIB

Relasi Sinergis Nahdlatul Ulama-Partai Gerindra

Minggu, 19 Desember 2021 | 12:42 WIB

Jangan Stigma Negatif Pesantren

Sabtu, 11 Desember 2021 | 21:25 WIB

Mengulik Makna Selangkangan

Senin, 6 Desember 2021 | 17:28 WIB
X