• Rabu, 1 Desember 2021

Limbah B3 TTM, Ikan dan Tanaman di Blok Rokan Terkontaminasi Belasan Senyawa Kimia Berbahaya

- Selasa, 23 November 2021 | 22:48 WIB
Anggota Tim Hukum LPPHI Perianto Agus Pardosi SH (Dok.LPPHI)
Anggota Tim Hukum LPPHI Perianto Agus Pardosi SH (Dok.LPPHI)

KLIKANGGARAN - Seperti telah diberitakan sebelumnya, upaya Gugatan Lingkungan Hidup Lembaga Pencegah Perusak Hutan Indonesia (LPPHI) terhadap PT Chevron Pacific Indonesia sebagai Tergugat I, SKK Migas sebagai Tergugat II, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai Tergugat III dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Riau sebagai Tergugat IV adalah karena Limbah B3 TTM.

Gugatan tersebut didasari temuan dan fakta ratusan lokasi di Wilayah Kerja Migas Blok Rokan di Provinsi Riau yang tercemar limbah B3 TTM (bahan berbahaya beracun) (tanah terkontaminasi minyak.

Hal tersebut diungkapkan Anggota Tim Hukum LPPHI Perianto Agus Pardosi SH kepada media, Selasa (23/11/2021) di Pekanbaru.

Tak hanya itu, mengingat bahayanya dampak limbah B3 TTM bagi kesehatan masyarakat, maka atas saran dari Koordinator Tim Hukum Dr. Augustinus Hutajulu, SH.CN. MHum, LPPHI melakukan uji sampel limbah dan flora serta fauna.

Baca Juga: Sebuah Bus Terbakar sehingga Menewaskan 45 Orang di Bulgaria

Pengujian dilakukan di daerah Wilayah Kerja Migas Blok Rokan di laboratorium yang sudah terakreditasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Hasil laboratorium itu menurutnya sangat mengejutkan dan mengkhawatirkan, sebab menurut hasil laboratorium maupun analisa ahli, telah ditemukan sebanyak 29 dari 34 sampel organ ikan yang telah rusak akibat terkontaminasi minyak bumi.

Setidaknya oleh sembilan jenis logam berat. Oleh karena itu, sangat berbahaya jika ikan-ikan itu dimakan oleh masyarakat.

"Pengambilan sampel dilakukan oleh petugas laboratorium bersertifikat bersama ahli serta disaksikan petugas dari instansi pemerintah. Tata cara pengambilan sampel di lapangan juga sudah sesuai standar metodologi pengambilan sampel. Hasil sampel tersebut juga telah dianalisa oleh ahli pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup," ungkap Perianto.

Halaman:

Editor: Kitt Rose

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X