• Senin, 24 Januari 2022

MBOK GINAH, LEO KRISTI DAN YEHUDI MENUHIN (1)

- Kamis, 21 Oktober 2021 | 22:14 WIB
Ilustrasi (Ilustrasi/Dodi)
Ilustrasi (Ilustrasi/Dodi)


Ayah dan almarhumah ibuku pun ternyata tidak mengetahui apa yang dulu Mbok Ginah tembangkan.

“Itu bukan tembang dolanan, mungkin sejenis mocopat kuno yang sekarang sudah punah,” kata Ibu.


Ada serpihan kenangan yang masih aku ingat. Kenangan paling jauh dari masa kanak-kanak dan bayiku tentang musik.

 

Baca Juga: Sebanyak 60 Desa Pilkades Serentak di Kabupaten Batang Hari, Tetap Mengacu Standar Prokes Covid-19


Malam itu bulan purnama penuh.


Sinarnya yang keperakan menerobos di sela-sela dedaunan mangga yang meranggas. Pucuk-pucuk daun bambu petung seperti ujung pena riang berlomba mencucuki langit.

Suara jengkerik dan serangga malam berkelindan dengan desau angin yang mengelus entah berapa jenis dedaunan di kebun belakang kami.

Selain mangga golek dan rumpun bambu, di ujung kebun yang berbatasan dengan sebuah kali kecil ada kedondong dan kersen, setelah itu kelapa, jambu gelas, duwet, srikaya pathek, kluwih dan blimbing wuluh. Sebagai pagar, berjejer mahoni, pinang dan jarak.

Baca Juga: Gregoria Mariska Belum Mampu Kalahkan Akane, Praven/Melati Melaju ke Perempat Final Denmark Open 2021

Halaman:

Editor: Muslikhin

Sumber: opini

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menikah atau Tidak Menikah?

Rabu, 12 Januari 2022 | 09:03 WIB

Melepas Keriuhan, Menyambut Keheningan

Selasa, 4 Januari 2022 | 16:27 WIB

Pemikiran Gus Dur dalam Pergerakan PMII

Kamis, 30 Desember 2021 | 19:39 WIB

Relasi Sinergis Nahdlatul Ulama-Partai Gerindra

Minggu, 19 Desember 2021 | 12:42 WIB

Jangan Stigma Negatif Pesantren

Sabtu, 11 Desember 2021 | 21:25 WIB

Mengulik Makna Selangkangan

Senin, 6 Desember 2021 | 17:28 WIB

Pentingnya Perencanaan Tenaga Kerja di Perusahaan

Jumat, 19 November 2021 | 18:32 WIB
X