• Minggu, 5 Desember 2021

Secret Door

- Minggu, 3 Oktober 2021 | 15:50 WIB
ilustrasi (sekar_mayang)
ilustrasi (sekar_mayang)


Klikanggaran.com-- Aku menemukan kaus Em di kolong tempat tidur. Sesaat aku bertanya-tanya bagaimana benda ungu muda ini bisa berakhir di sana. Lalu, ingatan itu muncul.

Adalah dua malam sebelum Em pergi, kami bergumul di lantai. Kata Em, ia ingin menjajal karpet kami, karpet beludru yang aku beli bulan sebelumnya, karpet abu-abu yang tampak cocok dengan dinding kamar kami yang putih tulang. Kata Em, ia ingin meninggalkanku dengan memori manis di atas karpet. Dan, ya, saat itu memang cukup manis. Sebuah permainan panjang, hangat, dan mungkin akan sulit kulupakan, meskipun sudah hampir sepuluh bulan berjarak.

Aku membawa kaus Em ke ruang cuci. Kebetulan hari ini aku punya setumpuk pakaian kotor yang meminta perhatian. Sebelum kumasukkan ke mesin, selintas aroma tubuh Em menembus hidungku. Aku masih memegang kausnya. Kudekatkan ke wajahku dan aroma itu semakin menggila. Membawaku menjauh dari lantai apartemen, menarikku menuju ruang lain yang hanya berbatas garis horison jingga. Tampak jauh, tampak sulit terjangkau.

Kupikir jika aku aku mengerjap beberapa kali atau mencubit lenganku atau menampar wajahku sendiri, aku akan kembali ke ruang cuci, ke hadapan setumpuk pakaian kotor. Nyatanya, selepas tiga hal konyol itu aku lakukan, aku masih di tempat yang sama, di ruang luas berbatas horison jingga.

Seperti petir, rasa itu hadir dalam sekejap kedip mata. Nyeri kurang ajar serupa daging tertusuk duri. Perih nan biadab serupa garam yang menggauli luka menganga. Akan tetapi, ia juga rasa hangat serupa selimut tebal Ibu yang melingkupi tubuhku ketika bayi, rasa manis serupa sirup maple yang Ibu tuang di atas waffle.

Aku sendirian, tetapi semua rasa yang kusebutkan itu nyata aku alami. Ketika aku coba bernapas, semuanya menebal, semuanya menguat. Aku terjatuh, bertumpu dengan kedua lutut dan tanganku, sampai akhirnya meringkuk seperti janin dalam rahim Ibu.

Aku rindu Em.

***

David mengajakku ke ruang konferensi. Sebuah ruang dengan sebagian besar dinding kaca tebal, tempat aku dan rekan-rekan, juga David, merencanakan edisi demi edisi majalah kami. Ruang itu kedap suara. Meskipun berteriak, orang lain di luar ruangan tidak akan mendengarnya. Namun, sebenarnya bukan itu yang menjadi tanda tanya besar di benakku.

Jika itu pembicaraan pribadi, David akan mengajakku ke taman atau ke kedai kopi langganan kami satu blok dari sini. Dan, jika ini urusan pekerjaan, ia akan langsung bicara di mejaku, tidak peduli didengar rekan lain, sebab memang tidak ada rahasia soal penugasan.

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cerbung Samudra Ingin Kembali

Minggu, 5 Desember 2021 | 16:28 WIB

Cerbung: Samudra di Lautan Malas

Minggu, 5 Desember 2021 | 13:06 WIB

Puisi: Tepian Asmara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:20 WIB

Cerbung: Cicak Merayap di Dinding

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:08 WIB

Puisi: Pulau Asmara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 11:33 WIB

Cerbung: Cicak Jatuh di Halaman

Sabtu, 4 Desember 2021 | 11:19 WIB

Puisi: Biruku

Kamis, 2 Desember 2021 | 18:04 WIB

Cerpen: Pangeran Cinta

Selasa, 30 November 2021 | 19:44 WIB

Puisi: Diam Itu Membunuhku

Selasa, 30 November 2021 | 19:06 WIB

Surat Bersampul Hitam

Senin, 29 November 2021 | 12:10 WIB

Puisi Ingin Kau Tahu

Senin, 29 November 2021 | 11:37 WIB

Cerpen Batu Cinta

Sabtu, 27 November 2021 | 13:07 WIB

Novel Melukis Langit 11, Luka di Atas Luka

Rabu, 24 November 2021 | 20:47 WIB

CERPEN: Sapu Jagat

Kamis, 18 November 2021 | 06:13 WIB

Cerpen: Perjalanan Hati

Selasa, 16 November 2021 | 21:51 WIB

Hari Ayah dan Kado Cerpen Sang Ratu

Jumat, 12 November 2021 | 12:32 WIB

Novel Melukis Langit 9, Gadis di Pangkuannya

Kamis, 11 November 2021 | 21:55 WIB
X