• Minggu, 28 November 2021

Lelaki Air Mata Ikan

- Rabu, 29 September 2021 | 20:18 WIB
Ilustrasi (pixabay)
Ilustrasi (pixabay)

WARNA air mata itu perlahan berubah merah membalut onggokan tubuh yang sudah tak berdaya. Akhirnya kami kembali terkapar mati dalam lautan darah. Kamu sang penjagal, berhentilah membunuhi kami. Suara itu terus menteror telinga Parmin, hingga tubuhnya bergetar, terhuyung-huyung lalu jatuh setelah kakinya terpeleset gumpalan lendir yang menelikung kakinya. Sorot matanya seperti ketakutan melihat pemandangan itu. Parmin berusaha bangkit ingin segera menjauh dari tempat itu.

Lelaki setengah baya itu menutup telinganya rapat-rapat sembari terus merangkak. Suara jerit kesakitan dan meminta tolong terdengar  jelas ditelinganya. Tak kuat melihat mayat yang bergelimpangan di depannya, Parmin berusaha menutup matanya dengan kedua piring yang sejak tadi berada diatas meja.

Tetapi piring kaca berwarna gelap itu bukannya mengalangi pemandangan itu, tetapi justru menjelma menjadi kaca pembesar. Hingga mayat-mayat itu seperti hidup kembali. Mereka bergerak-gerak disertai suara jeritan dan raungan yang menyayat dan memekakan telinga. Parmin tak kuat, nafasnya tersengal, tubuhnya kembali terhuyung dan jatuh tepat di depan pintu.

Hingga akhirnya sepasang tangan menuntunnya kembali ke kamar.

Sudah tak terhitung lelaki itu terjatuh. Sudah berapakali pula sepasang tangan mulus dengan lengan penuh gelang emas itu terus berusaha menolongnya. Wanita itulah yang dianggap Parmin telah menjadi dewi penolong saat peristiwa-peristiwa tragis itu terjadi.Neni  masih setia mendampingi Parmin meski tubuh suaminya itu terus melemah.

“Kang, rika kudu tetep urip. Cepet sembuh terus kerja maning, Usaha kita lagi murub kang. Lagi menuju kesuksesan” suara Neni memberi semangat suaminya yang terbaring di kasur. Parmin tak menjawab, sorot matanya masih kosong .

Meski tak bisa mengungkapkan, Parmin mengerti hampir genap sebulan ini istrinya cemas. Wanita yang mendampinginya delapan belas tahun lalu ini sangat bersemangat agar dia bisa segera sembuh. Neni yang usianya jauh terpaut dengan Parmin tampak sangat setia.

Wanita yang telah memberinya satu anak lelaki yang kini duduk di SMA itu berjuang bersama sejak masa pacaran hingga menikah. Parmin yang banyak duit itu menemukan Neni di lokasi karaoke. Seorang gadis pemandu lagu yang sedikit binal. Orang tua dan teman dekat Parmin sempat melarang berpacaran dengan gadis itu.

Kabarnya Neni tak sekedar pemandu lagu, tetapi juga kerap dibawa lelaki berduit. Neni diramalkan gak bakal mau menemani Parmin berjualan ikan di pasar. Wanita itu sepertinya lebih menyukai berada di ruang ruang gemerlap dan ber-AC.

Halaman:

Editor: Muslikhin

Sumber: Cerpen

Tags

Terkini

Cerpen Batu Cinta

Sabtu, 27 November 2021 | 13:07 WIB

Novel Melukis Langit 11, Luka di Atas Luka

Rabu, 24 November 2021 | 20:47 WIB

CERPEN: Sapu Jagat

Kamis, 18 November 2021 | 06:13 WIB

Cerpen: Perjalanan Hati

Selasa, 16 November 2021 | 21:51 WIB

Hari Ayah dan Kado Cerpen Sang Ratu

Jumat, 12 November 2021 | 12:32 WIB

Novel Melukis Langit 9, Gadis di Pangkuannya

Kamis, 11 November 2021 | 21:55 WIB

Novel Melukis Langit 8, Bersenggama dengan Laut

Kamis, 11 November 2021 | 19:41 WIB

Novel Melukis Langit 7, Cintanya Ditelan Laut

Kamis, 11 November 2021 | 19:06 WIB

Novel Melukis Langit 6, Kenyataan Pahit

Senin, 8 November 2021 | 19:24 WIB

Novel Melukis Langit 5, Perselingkuhan

Minggu, 7 November 2021 | 21:16 WIB

Novel Melukis Langit 4, Keputusan

Minggu, 7 November 2021 | 19:42 WIB

Novel Melukis Langit 3, Pertemuan

Jumat, 5 November 2021 | 20:36 WIB

Novel Melukis Langit 2, Gumpalan Awan Hitam

Jumat, 5 November 2021 | 18:10 WIB

Novel Melukis Langit 1, Memeluk Prahara

Jumat, 5 November 2021 | 14:37 WIB

PUISI: Pahlawan Itu

Kamis, 4 November 2021 | 09:59 WIB

Cerita Anak: Hari Pahlawan Adalah Hariku

Senin, 1 November 2021 | 10:26 WIB

PUISI: Cappuccino Senja

Minggu, 31 Oktober 2021 | 17:00 WIB
X