• Senin, 4 Juli 2022

Menikah atau Tidak Menikah?

- Rabu, 12 Januari 2022 | 09:03 WIB
Ilustrasi (Moy)
Ilustrasi (Moy)

KLIKANGGARAN--Jagat media sosial memang luar biasa. Tempat segalanya tumpah ruah dengan riuh rendah. Banyak manfaat, tetapi tak jarang menuai kegaduhan berlebih. Aktivitas debat yang dahulu hanya bisa dilakukan di forum-forum—tentunya dengan bertatap muka langsung—sekarang bisa dikerjakan secara virtual. Termasuk salah satunya adalah perdebatan soal pilihan menikah atau tidak menikah.

Menikah atau tidak menikah, itu merupakan pilihan personal. Tidak ada orang lain yang berhak melakukan intervensi. Akan tetapi, warganet penghuni jagat maya seolah-olah memiliki kuasa menentukan apa yang harus dilakukan orang lain, apalagi jika orang tersebut adalah figur publik. Ini adalah tema purba, polemik lawas yang terus saja mendapat nutrisi untuk tumbuh tak terkendali.

Tak perlu sampai menyebut nama para figur publik, warganet yang masih waras tentu gemas menonton polemik pilihan menikah atau tidak menikah. Padahal, jika ingin menyalurkan energi berlebih, mengapa tidak membahas—dan tentunya dibarengi dengan aksi nyata—soal pemerataan taman baca ke pelosok nusantara?

Dalam KBBI Daring, nikah dimaknai sebagai ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama (diakses 12 Januari 2022). Ikatan tersebut terjadi atas dua orang yang sudah memenuhi berbagai ketentuan seperti usia, kondisi kesehatan, juga kelengkapan administrasi. Dan, memang, tidak tertulis secara gamblang bahwa kedua calon mempelai harus siap secara mental dan finansial. Akan tetapi, dua aspek itu nyatanya menyumbang alasan dalam kacaunya sebuah pernikahan.

Tak kurang-kurang kantor polisi atau posko-posko pengaduan KDRT menerima laporan kasus baru tiap harinya. Mulai dari level ringan sampai yang berat. Dan, perlu diperhatikan, yang dimaksud kekerasan di sini tidak melulu tindakan fisik yang menyebabkan kesakitan, tetapi pengabaian pun termasuk di dalamnya.

Tak kurang-kurang pula para konselor dan pemerhati urusan pernikahan membuat media edukasi, pelatihan, atau semacamnya dengan harapan kasus-kasus tersebut bisa berkurang. Akan tetapi, terlihat seperti menabur garam ke lautan.

Bisa jadi, kondisi inilah yang memunculkan gerakan memilih untuk tidak menikah. Saking banyaknya yang memilih, juga kekuatan media sosial dalam menyebarkan konten, kelompok ini tampak sangat besar. Mungkin menjadi sama besarnya dengan kelompok yang memilih opsi menikah. Maka, ketika ada satu-dua kasus mencuat, dua kubu ini terlihat seperti Pandawa dan Kurawa di Padang Kurusetra.

Seorang sahabat suatu hari bertanya dengan nada sambat yang kentara, “Mengapa Kakak tidak bilang kalau menikah bisa semerepotkan ini?”

Ya, saya memang tidak pernah bercerita soal kehidupan pernikahan dengannya, meskipun kami cukup akrab sejak 2011. Yang kami bahas tidak lepas dari buku, naskah, lomba-lomba, dan kadang menertawakan tingkah anak didiknya di sekolah.

Halaman:

Editor: Muslikhin

Sumber: Klik Anggaran

Tags

Artikel Terkait

Terkini

23 Juni 2022, UTBK dan Masa Depan NU

Kamis, 23 Juni 2022 | 08:22 WIB

Dilema Puan Menjadi Presiden

Kamis, 21 April 2022 | 04:39 WIB

Kios SIAPkerja (Kasus BPVP Kabupaten Sidoarjo)

Rabu, 13 April 2022 | 13:33 WIB

Konsep Frasa Crazy Rich dan Orang Kaya

Selasa, 29 Maret 2022 | 16:48 WIB

Mandalika dan Penciptaan Lapangan Kerja

Selasa, 29 Maret 2022 | 13:06 WIB
X