• Rabu, 8 Desember 2021

Novel Melukis Langit 12, Satu Pintu Prahara Telah Terbuka

- Rabu, 24 November 2021 | 21:25 WIB
Novel Melukis Langit (Dok.klikanggaran.com/Blackrose)
Novel Melukis Langit (Dok.klikanggaran.com/Blackrose)

"Kenapa harus ditunda? Saat ini usaha kita di sana mengalami kemajuan sangat pesat. Bima sudah memberikan rincian sasaran pasar yang akan dibidik, dan aku sudah menyetujui untuk menambah modal, sesuai dengan yang dia ajukan," jawab Aji penuh keyakinan.

"Tapi, apa perlu sampai menggadaikan rumah?"

"Kamu tenang saja, semua pasti beres. Aku sudah membuat analisa perputaran uang dan angsuran bank. Paling lama satu tahun aku sudah bisa menutup pinjaman bank, tanpa harus mengurangi laba."

Masih jelas dalam ingatan Puniawati, waktu itu Aji tersenyum puas dan bangga. Dia mencoba menjelaskan bagaimana usaha itu dulu dimulainya dengan modal sangat kecil. Puniawati bahkan ingin mengatakan, usaha itu adalah keberuntungan yang diberikan Allah karena keisengannya.

Baca Juga: Menko Polhukam dan Mendagri Kunjungi Pulau Sekatung dan Pulau Laut yang Berbatasan dengan Vietnam

Saat mengunjungi adiknya di Surabaya, secara tak sengaja Puniawati bertemu temannya. Mereka berbincang beberapa lama, kemudian dia melihat celah dan pasar usaha yang bagus. Awalnya Puniawati hanya bertujuan mengajari adik perempuannya, Melia, bagaimana menghasilkan uang di sela kesibukannya mengurus rumah dan anak.

Melia, istri Bima, akhirnya secara perlahan dapat mengembangkan usaha kecil-kecilan itu di bawah pengawasan Puniawati. Sampai akhirnya menjadi usaha yang menguntungkan juga bagi Puniawati. Setelah Aji memegang kendali seluruh usaha, posisi Melia akhirnya juga dialihkan ke Bima.

Tak ada yang keberatan sebenarnya mengenai hal itu. Hanya saja, Puniawati melihat Aji semakin jarang mengawasi usaha itu. Semuanya seperti diserahkan secara utuh pada Bima. Bahkan Puniawati melihat, Aji terus mengucurkan tambahan modal, tapi tanpa penambahan pengawasan.

Makin lama tim kerja di Surabaya makin jarang mengirimkan laporan keuangan dan Aji terlihat tidak berusaha menegur para pegawai di sana. Bahkan, ketika pada bulan kesekian tak ada laporan keuangan sama sekali, Aji pun tak pernah berkunjung ke sana.

Baca Juga: Semifinal, Kakak Adik, Muara Enim dan PALI Bertemu di Cabor Sepak Bola Porprov XIII OKU Raya

Halaman:

Editor: Kitt Rose

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Puisi: Jeritan Malam

Minggu, 5 Desember 2021 | 22:31 WIB

Cerbung Samudra Ingin Kembali

Minggu, 5 Desember 2021 | 16:28 WIB

Cerbung: Samudra di Lautan Malas

Minggu, 5 Desember 2021 | 13:06 WIB

Puisi: Tepian Asmara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:20 WIB

Cerbung: Cicak Merayap di Dinding

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:08 WIB

Puisi: Pulau Asmara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 11:33 WIB

Cerbung: Cicak Jatuh di Halaman

Sabtu, 4 Desember 2021 | 11:19 WIB

Puisi: Biruku

Kamis, 2 Desember 2021 | 18:04 WIB

Cerpen: Pangeran Cinta

Selasa, 30 November 2021 | 19:44 WIB

Puisi: Diam Itu Membunuhku

Selasa, 30 November 2021 | 19:06 WIB

Surat Bersampul Hitam

Senin, 29 November 2021 | 12:10 WIB

Puisi Ingin Kau Tahu

Senin, 29 November 2021 | 11:37 WIB

Cerpen Batu Cinta

Sabtu, 27 November 2021 | 13:07 WIB

Novel Melukis Langit 11, Luka di Atas Luka

Rabu, 24 November 2021 | 20:47 WIB

CERPEN: Sapu Jagat

Kamis, 18 November 2021 | 06:13 WIB

Cerpen: Perjalanan Hati

Selasa, 16 November 2021 | 21:51 WIB

Hari Ayah dan Kado Cerpen Sang Ratu

Jumat, 12 November 2021 | 12:32 WIB
X