• Minggu, 26 Juni 2022

Ini Tanggapan Sekretaris BPBD Kabupaten Batang Hari, Terkait Dugaan Kalak BPBD Perintahkan Jual Aset

- Rabu, 18 Mei 2022 | 10:18 WIB
Sekretaris BPBD Kabupaten Batanghari, Samral Lubis saat dikonfirmasi di Ruang Kerja Kalak BPBD Kabupaten Batang Hari (Annuza)
Sekretaris BPBD Kabupaten Batanghari, Samral Lubis saat dikonfirmasi di Ruang Kerja Kalak BPBD Kabupaten Batang Hari (Annuza)

KLIKANGGARAN -- Terkait pemberitaan dari beberapa media online sebelumnya tentang adanya dugaan Kalak BPBD Kabupaten Batang Hari perintahkan jual aset, untuk biaya operasional kendaraan dinas BPBD, Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batang Hari, Samral Lubis, Selasa (17/05/2022) saat dikonfirmasi guna klarifikasi oleh beberapa wartawan dan LSM mengatakan bahwa besi tenda tersebut merupakan barang hadiah dari Provinsi Jambi yang tidak tercatat dan tidak ada dokumentasi pada pencatatan Barang Milik Daerah (BMD).

"Kami tidak ada masukkan dalam aset karena tidak ada hibah, tidak ada apapun. Singkat cerita, barang itu rusak tertonggoklah (tidak digunakan) dikantor lama. Kebetulan anggaran kita pada Januari Febuari yang saya ketahui belum lancar berjalan, yang lancar itu gaji dan operasional kantor yang masih kecil. Sehingga pada saat itu apa alternatif karena kita mau urus korban Covid-19 juga gelap kantor kita yang saya dapat laporan dari adik-adik PTT, bahwa kendaraan kita pada saat itu juga mogok sehingga apa yang kita pikir. Ada tenda-tenda yang merupakan bukan aset daerah kecuali tenda-tenda yang dibantu BNPB kalau yang tercatat di BNPB ada dibelakang," kata Sekretaris BPBD Kabupaten Batanghari, Samral Lubis saat dikonfirmasi di Ruang Kerja Kalak BPBD Kabupaten Batang Hari.

"Tenda tersebut Hadiah tahun 2010, dan tidak dapat dipergunakan lagi sehingga karatan. Hadiah apa ya itu, kalau tidak salah hadiah dari UNHCR. Waktu kita rapat di Jambi dikasih tenda itu, belum terbentuk menjadi Perda BPBD ini. Berdirinya BPBD ini tahun 2011 dan dilaksanakan tahun 2012, jadi bantuan itu tahun 2010," sambungnya.

Baca Juga: Miris Dana BOS SMAN 1 Batang Hari Miliaran Rupiah, Hanya Mampu Rehab Pagar Sekolah

Samral sebutkan bahwa tenda yang dijual ke penampung barang rongsokan (barang bekas pakai) tersebut tidak ada dokumentasinya, namun sekali lagi ia tegaskan tenda yang telah terjual itu merupakan tenda yang diperoleh dari lembaga Dunia UNHCR. Saat ditanyai apakah barang tersebut boleh dijual karena tidak ada dalam pencatatan, ia (Samral-Red) tidak memahami dan tidak mengetahui aturannya. 

"Yang jelas itu saya tidak tahu persis proses cuma tenda kita itu tidak tercatat dalam aset jadi bingung mau memasukkan kedalam aset karena harus ada berita acara serah terima, saya dak taulah (tidak tahu). Yang jelas tadi saya cek pagi-pagi besi-besi tenda 2012 itu banyak dibelakang," tuturnya.

"Yang jelas itu ada empat kotak besar dulu waktu itu dikasihkan, itu seyogyanya kami dapat dua unit cuma satu unit yang dikatakan disitu. Tapi tidak ada dokumennya ini yang saya heran, mau dimasukkan ke aset daerah pakai apa kan harus ada dasar yang saya ketahui waktu itu karena saya yang terima. Dari Provinsi Jambi waktu itu dikasihkan, melakui BPBD Provinsi Jambi," lanjut Samral.

Baca Juga: Mengapa Wanda Hamidah Dilaporkan Mantan Suaminya ke Polisi dengan Pasal Berlapis?

Samral Lubis terangkan, bahwa ia tidak tahu kenapa barang hadiah UNHCR tersebut dijual, namun terkait hal penjualan besi tenda tersebut ia tidak mempunyai pendapat apapun dikarenakan tidak tahu tentang itu.

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Sumber: Liputan lapangan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X