• Minggu, 26 Juni 2022

Politisi Jerman: Rusia dan China Telah Dikepung secara Militer oleh AS

- Minggu, 22 Mei 2022 | 19:18 WIB
Markas Besar NATO (Instagram/nato)
Markas Besar NATO (Instagram/nato)

KLIKANGGARAN-- Politisi veteran Jerman Oskar Lafontaine mengatakan penolakan Barat untuk mendengar kekhawatiran Moskow adalah salah satu penyebab utama konflik di Ukraina. Oskar Lafontaine, yang dari 1995 hingga 1999 menjabat sebagai ketua Sosial Demokrat, menuduh Barat mengabaikan kepentingan keamanan Rusia selama bertahun-tahun.

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar sayap kiri Junge Welt yang diterbitkan pada hari Sabtu, Lafontaine berpendapat bahwa “untuk waktu yang lama, kita telah berada dalam situasi di mana Rusia dan China telah dikepung secara militer oleh AS.”

RT.com melansir, mantan pemimpin SPD mengatakan Moskow telah menjelaskan kepada NATO selama 20 tahun bahwa Ukraina tidak boleh menjadi bagian dari aliansi militer – sebuah skenario, yang menurut Lafontaine, akan berarti rudal AS dikerahkan di perbatasan Ukraina dan Rusia.

Baca Juga: Lagu Taylor Swift 'We Are Never Ever Getting Back Together' Dipakai Blinken Kirim Pesan kepada Putin

“Kepentingan keamanan ini secara konsisten diabaikan,” kata politisi itu. Dan ini adalah “salah satu alasan utama pecahnya perang Ukraina.”

Berbicara tentang aspirasi NATO Ukraina, mantan ketua SPD menolak argumen bahwa setiap negara bebas memutuskan aliansi mana yang akan bergabung.

“Semua orang tahu bahwa AS tidak akan pernah menerima aksesi Kuba ke aliansi militer dengan Rusia, atau penyebaran rudal Rusia di perbatasan AS dengan Meksiko atau Kanada,” bantah Lafontaine.

Baca Juga: Pasangan Apriyani/Fadia Raih Medali Emas Sea Games 2021, Bulutangkis hanya Sumbangkan 2 Medali Emas

Menurut politisi Jerman, perhatian utama Rusia di Ukraina bukanlah aksesi NATO semata, tetapi prospek rudal yang muncul di perbatasan dengan waktu peringatan minimal.

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Sumber: rt.com

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Minyak Mentah Rusia Lebih Banyak Diimpor Uni Eropa

Minggu, 26 Juni 2022 | 08:40 WIB
X