• Kamis, 30 Juni 2022

Korporasi Telkomsel-Gojek Terjadi Semasa Adik Kakak, Erick Thohir dan Garibaldi Thohir

- Selasa, 1 Juni 2021 | 07:21 WIB
images
images


Jakarta,Klikanggaran.com - Banyak yang merespon status saya sebelumnya. Mengapa sinis terhadap investasi Telkomsel di Gojek? Karena duit Rp6,4 triliun yang dipakai nyuntik Gojek hanya dalam jarak waktu 6 bulan (November 2020-Mei 2021) adalah duit negara (tidak ada negara, tidak ada Telkomsel). Apa betul untuk kepentingan bangsa?


Lalu—konon—Gojek besar. Seorang pembaca berkomentar: too big to fail (TBTF). Ini klaim luar biasa. TBTF adalah teori dalam dunia keuangan yang menganggap suatu korporasi sudah sangat besar dan interkoneksinya sangat luas sehingga apabila dia gagal maka akan mempengaruhi sistem ekonomi suatu negara secara keseluruhan, oleh karena itu ia harus disokong pemerintah ketika menghadapi situasi sulit. Demikiankah?


Dua klaim itu harus diuji. Jangan percaya begitu saja.


Dari semua respons yang saya baca dan dengar, tidak ada yang membantah fakta duit Rp6,4 triliun itu sudah dieksekusi dan bentuknya adalah obligasi konversi (convertible bond) tanpa bunga. Tidak dibantah pula fakta bahwa aksi korporasi Telkomsel-Gojek ini terjadi semasa Menteri BUMN Erick Thohir dan Komisaris Utama PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (AKAB) adalah Garibaldi Thohir (kakaknya)—Akta 23 Oktober 2019.


Fakta ini juga sulit dibantah. Dalam susunan Dewan Komisaris (bertugas sebagai pengawas), ada satu mantan pengurus pusat Golkar (Rizal Mallarangeng), satu mantan pengurus Partai Nasdem (Wawan Iriawan), satu pendiri firma hukum yang menjadi penasihat hukum Gojek ketika merger dengan Tokopedia (Bono Daru Adji/Managing Partner Kantor Hukum Assegaf Hamzah & Partners—lihat Tirto, 17 Mei 2021), dan satu bekas staf khusus Menteri BUMN (Arya Sinulingga).


Tidak apa-apa. Tidak berarti itu salah. Cuma biar masyarakat tahu saja posisi dan jalinan satu sama lain.


Memang berinvestasi salah? Bukankah GoTo prospektif dengan menjadi ekosistem untuk >2 juta mitra pengemudi, >11 juta UMKM, >100 juta pengguna aktif, dan menggerakkan 2% ekonomi nasional?


Silakan tebar pesona. Tapi masalahnya adalah bagaimana Rp6,4 triliun itu tidak menggarami laut. Bagaimana pertanggungjawabannya. Terserah mau 1 miliar pengguna aktif sekalipun. Yang penting mau Anda apakan duit itu dan berapa imbal hasilnya. Awas, jangan ketika nanti amsyong, Anda berdalih bahwa BUMN selain menjalankan fungsi bisnis juga mengemban fungsi PSO (kalau PSO, cicilan motor para ojol itu yang bayar negara!)


Apakah saya terlalu pesimistis dan berpikiran negatif? Tidak. Saya melihat sejarah. Sejarah para pembual negara. Baca ini:

Halaman:

Editor: M.J. Putra

Tags

Terkini

23 Juni 2022, UTBK dan Masa Depan NU

Kamis, 23 Juni 2022 | 08:22 WIB

Dilema Puan Menjadi Presiden

Kamis, 21 April 2022 | 04:39 WIB

Kios SIAPkerja (Kasus BPVP Kabupaten Sidoarjo)

Rabu, 13 April 2022 | 13:33 WIB

Konsep Frasa Crazy Rich dan Orang Kaya

Selasa, 29 Maret 2022 | 16:48 WIB

Mandalika dan Penciptaan Lapangan Kerja

Selasa, 29 Maret 2022 | 13:06 WIB
X