• Senin, 5 Desember 2022

Herd Immunity atau Believers Immunity?

- Minggu, 29 Maret 2020 | 21:05 WIB
virus corona
virus corona


(KLIKANGGARAN.COM)--Istilah herd immunity mulai saat ini akan sering kita dengar sebagai istilah dalam menyebutkan sistem kekebalan yang dibangun untuk melawan suatu wabah dan saat ini wabah itu adalah virus korona (Covid-19). Bagi kalangan yang ahli di bidang kesehatan lingkungan, tentu mereka sudah mafhum dengan istilah ini. Namun, bagi kalangan awam, istilah ini masih terdengar asing.


Istilah herd yang biasa kita pahami dalam bahasa Inggris bermakna sekelompok hewan. Adapun istilah immunity dapat diartikan sebagai kekebalan. Pertanyaannya, mengapa istilah herd digunakan bersama dengan immunity untuk menyebutkan suatu sistem imunitas pada manusia? Apakah karena manusia secara biologi juga dianggap sebagai hewan? Penting sekalikah membahas masalah ini? Izinkan saya beranalogi sekadarnya.


Jika kita menyaksikan film dokumenter dalam saluran National Geographic tentang sekelompok kijang di padang rumput Afrika yang berada dalam ancaman seekor atau beberapa ekor singa, pernahkah kita memperhatikan secara saksama apa yang dilakukan kijang-kijang tersebut dalam upaya mereka melindungi diri? Kijang-kijang yang awalnya saling berpencar dalam mencari rumput dengan segera menyatu dengan yang lain sehingga membentuk kelompok yang lebih besar begitu mereka menyadari kehadiran singa di dekat mereka. Itulah reaksi alami kijang setiap kali terancam dengan kehadiran singa dan itulah menurut saya makna kata herd secara visual yng sulit digambarkan dengan kata-kata.


Namun, ada kalanya di antara kijang-kijang itu, ada yang terlalu asyik memakan rumput atau terlalu jauh dari kelompoknya sehingga tidak menyadari kehadiran singa. Pada saat singa mengetahui bahwa ada kijang yang tidak bersama kelompoknya, tentu pemangsa itu akan mengintainya, mengendap-endap hingga dekat, dan menerkamnya saat kijang itu lengah. Apa yang dilakukan kijang-kijang lainnya? Ada simpati yang ditunjukkan kijang-kijang yang lain (juru kamera National Geographic-nya sangat lihai menangkap momen ini), tetapi sesudah itu sebentar kemudian mereka melanjutkan makan rumput karena mereka yakin singa yang sibuk memakan kijang yang lengah tadi sudah tidak lagi menjadi ancaman bagi mereka.


Saya menduga istilah herd dalam herd immunity memiliki filosofi seperti film dokumenter dalam saluran National Geographic itu. Filosofi itu bisa ditelusuri pula dalam buku The Origin of Species-nya Charles Darwin yang memopulerkan jargon survival of the fittest. Lalu, saya terbayang dengan foto atau video dalam medsos yang menggambarkan betapa hiruk-pikuknya rumahsakit dalam menangani penderita Covid-19. Begitu banyaknya penderita, sampai-sampai pihak rumahsakit harus memilih siapa yang harus dirawat, siapa yang “harus” dibiarkan. Itu BUKAN di negeri ini.


Untuk hal ini, saya berterima kasih kepada Charles Darwin yang sudah menulis buku The Origin of Species sehingga menyadarkan saya seperti itulah sikap manusia modern ‘Homo sapiens’ dalam menghadapi wabah: “yang lemah yang dikorbankan”. Manusia tidak ubahnya seperti sekelompok hewan kijang yang menyendiri saat mencari makan di padang rumput dan hanya mengelompok ketika ada ancaman di depannya. Setelah aman, kembali lagi menyendiri. Apakah kita seperti itu?


Saya ingin mengemukakan contoh yang terjadi dalam masyarakat kita. Ketika ada seruan agar masyarakat melakukan social distance untuk membatasi penyebaran dan penularan Covid-19, ada di antara mereka yang kemudian patuh. Namun, ternyata masih ada juga yang tak acuh. Apa perilaku yang muncul? Social distance justru dijadikan momentum untuk jalan-jalan, berkumpul, makan-makan bareng, wisata ke luar negeri dengan alasan dinas/pribadi, atau lainnya yang justru semakin memperbesar peluang penyebaran dan penularan virus. Mereka ini bukan kalangan menengah ke bawah, melainkan menengah ke atas dari sisi sosial, ekonomi, atau pengetahuan. Bersamaan dengan itu, mereka pula yang paling banyak menghabiskan uang untuk hand sanitizer, masker, atau APD lain yang sebenarnya diperlukan oleh para tenaga medis. Merekalah yang menyebabkan kepanikan sehingga harga-harga kebutuhan ikut pula naik. Karena kepanikan, naiknya juga tidak kira-kira. Merekalah sebenarnya yang berpotensi menjadi sarana penularan Covid-19. Bukankah hal itu yang menjadi awal pandemi di China, Korea Selatan, Italia, Inggris, AS, Belanda, Jerman, dan negara Eropa lainnya?


Ketika hand sanitizer habis di pasaran, orang berbondong-bondong membuat hand sanitizer dan dijual atau dibagikan secara cuma-cuma. Ketika masker habis di pasaran, mereka melakukan hal yang sama. Namun, adakah yang berpikir hal itu justru sama artinya memberi fasilitas orang untuk tidak melakukan social distance?


Bukankah hand sanitizer dibutuhkan untuk mencegah penularan bagi orang yang bepergian? Jika memang mereka melakukan social distance, sabun yang biasa dipakai sehari-hari di rumah sudah cukup sebagai pengganti hand sanitizer, bukan? Begitu pula dengan masker. Apakah ada di antara kita yang memakai masker saat berada di rumah?

Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Keniscayaan Pemberantasan Peredaran Narkoba

Sabtu, 19 November 2022 | 20:20 WIB

Perubahan Pola Marketing

Jumat, 14 Oktober 2022 | 22:31 WIB

Napoleon Saja Dikalahkan Rusia, Apalagi...

Senin, 19 September 2022 | 21:38 WIB

Pesantren, Pseudo Pesantren, dan Tantangannya

Jumat, 16 September 2022 | 21:26 WIB

Cara Menghadirkan Sebanyak Mungkin Polisi di Lapangan

Kamis, 25 Agustus 2022 | 08:07 WIB

Pemilu 2024 dan Pendidikan Politik Kaum Milenial

Jumat, 19 Agustus 2022 | 21:22 WIB

Refleksi Hari Kemerdekaan, Kaum Muda Bisa Apa?

Rabu, 17 Agustus 2022 | 21:38 WIB

SATGASSUS

Selasa, 9 Agustus 2022 | 17:45 WIB
X