• Selasa, 16 Agustus 2022

Cerita Mistis di Bali : Tidak Semua Cenayang Pemberani, Saya Salah Satunya

- Senin, 6 Desember 2021 | 09:37 WIB
Ilustrasi (Dok. Nyai_Sampur)
Ilustrasi (Dok. Nyai_Sampur)

KLIKANGGARAN-- Cerita mistis Bali ini berdasarkan cerita nyata seorang cenayang teman saya, untuk mempermudah cerita saya akan menuliskan dengan bahasa “saya”.

Sudah tujuh tahun terakhir ini mata batin saya terbuka, jika harus menuliskan bagaimana mulanya hingga semua menjadi demikian, cerita mistis di Bali ini akan terlalu panjang, suatu saat saya akan ceritakan bagaimana saya sampai di titik ini.

Pembaca Ceita Mistis di Bali, Saya hidup di Bali walaupun karena pekerjaan, saya sering kali harus ke Jawa dalam waktu yang cukup lama. Saya seorang pembaca tarot, seorang healer dan terbiasa membantu teman saat ada yang kesurupan. Berkomunikasi dengan mahluk gaib sudah menjadi keseharian saya. Di rumah yang saya tinggali, saya punya satu kamar khusus untuk IBU (saya panggil IBU kepada Roh gaib yang selalu bersama saya) ada yang mengartikan saya seorang pengiring. Ada yang menyebut saya cenayang, dan teman terdekat saya memberi julukan saya Suketi.

Baca Juga: Tewasnya Novia Widyasari, Habiburokhman: Randy Bagus Harus Dijerat Pasal Berlapis

Ceita Mistis Bali. Siapa Suketi? Hahaha… itu nama Sundel Bolong, dalam sebuah film yang dimainkan oleh Bunda Suzana. Kebiasaan saya yang lebih sering memakai jarik daripada celana panjang atau rok, dan kesukaan saya pada warna hitam untuk riasan mata. Membuat saya makin terlihat mistis. alhasil nama Suketi menjadi panggilan sayang teman teman terdekat saya.

Saya perempuan pecinta kretek dan wangi melati, rasa melati dan wanginya saat dikunyah itu bikin nagih! Makin kuatlah kesan mistis dalam diri saya. Padahal sejujurnya tidak ada hubungannya sama sekali. Ini memang kebiasaan sejak lama, dari saya belum mengenal IBU.

Dulu sebelum saya menempati rumah yang saya sewa, saya tinggal di kost, namanya juga kost kecil dengan satu kamar, saat itu awal saya benar- benar “sadar” ada IBU di samping saya, saya siapkan satu kursi Betawi dengan meja kecil, diatas meja itu saya siapkan ubo rampe kesukaan IBU. Ada kopi pahit, dupa, bunga dan rokok. Tidak ada seorangpun yang berani duduk di kursi betawi milik IBU, pun saya. Di bawah kursi IBU saya siapkan speaker kecil, untuk apa? Setiap saya wedangin (siapkan kopi dan ubo rampe) IBU, saya pasti putarkan gending macopat kesukaan IBU. Ya, segitu dekatnya saya dengan IBU.

Baca Juga: Oknum Kepsek Tiga SMA dan SMK di Sumsel Ini Diduga Simpan Dana Bos di Rekening Pribadi dan Dibawa ke Rumah

Sejak ada IBU, pantang bagi saya tidur sendirian, mengapa? Detik detik IBU datang adalah detik detik yang mencekam untuk saya. Mendadak aroma melati kuat di sekitar saya. Saat tercium aroma wangi itu, saya tahu, itu saatnya IBU akan datang.
Ada dua hal yang mungkin terjadi saat IBU datang, bisa saja IBU hanya akan memberi pesan dengan bertutur atau IBU akan masuk dan duduk dengan raga saya. Ya… kalau istilah umumnya kesurupan. DI Bali istilah ini menjadi kelinggihan (menjadi tempat linggih yang gaib)

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X