• Rabu, 27 Oktober 2021

Jamaluddin al-Afghani, Pendiri gerakan Pan Islam, Dimakamkan di Turki, Lalu Dipindahkan ke Afghanistan

- Minggu, 19 September 2021 | 20:14 WIB
Jamaluddin al-Afghani (dok. middle east eye)
Jamaluddin al-Afghani (dok. middle east eye)

Klikanggaran.com-- Sayed Jamal ad-Din Asadabadi, paling sering disebut sebagai al-Afghani, adalah seorang aktivis politik abad ke-19, politisi dan jurnalis yang lahir pada tahun 1838. Jamaluddin al-Afghani melakukan perjalanan ke seluruh dunia Muslim untuk mengadvokasi persatuan pan-Islam.

Tempat kelahiran Jamaluddin al-Afghani yang tepat masih diperdebatkan, dengan beberapa mengklaim bahwa ia lahir di Afghanistan dan yang lain mengklaim bahwa ia sebenarnya adalah seorang Iran yang menyamar sebagai seorang Afghanistan untuk menghindari tuduhan menjadi seorang Syiah di antara sebagian besar kalangan Sunni.

Bagaimanapun, perbedaan sektarian ini tidak terlalu berarti bagi aktivis, dengan sebagian besar karier Jamaluddin al-Afghani dihabiskan untuk agitasi politik melawan imperialis barat.

Jamaluddin al-Afghani memulai karirnya di British India, membangun pola perjalanan di seluruh dunia Muslim, di mana dia akan bekerja dengan aktivis lokal di Iran, Irak, Turki dan Mesir untuk mengorganisir aktivisme melawan orang asing.

Baca Juga: Siap-siap, Pemprov Jawa Tengah akan Bantu Pendanaan Pesantren. Perdanya sedang Disiapkan.

Pengalaman India, yang bertepatan dengan Pemberontakan India melawan pemerintahan Inggris, secara luas dilihat sebagai titik balik dalam perkembangan politiknya dan pembentukan pandangan anti-Baratnya.

Pada tahun 1866, al-Afghani mengambil pos di pemerintahan Afghanistan, bepergian secara luas, termasuk ke Mesir, Prancis, Turki, Inggris dan Rusia.

Inti dari ideologinya adalah persatuan pan-Muslim dan bahwa satu-satunya cara untuk mengatasi campur tangan Barat di dunia Islam adalah atas dasar perjuangan bersama.

Meskipun menentang campur tangan Barat dan kolonialisme, al-Afghani adalah seorang pendukung pendekatan modern untuk ilmu pengetahuan dan teknologi dan percaya bahwa umat Islam hanya dapat berkembang dalam hal peradaban tanpa kehadiran asing yang eksploitatif di tanah mereka.

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Sumber: Middle East Eye

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Membaca: Memaknai Simbol

Rabu, 27 Oktober 2021 | 15:04 WIB

Sumpah Pemuda Terlupakan, Halloween Dirayakan

Selasa, 26 Oktober 2021 | 14:09 WIB

Di Surga Itu Bersama Orang-Orang Tercinta

Senin, 25 Oktober 2021 | 09:12 WIB

Kopi Turki, Bisa Dipakai untuk Meramal Lho

Minggu, 24 Oktober 2021 | 10:38 WIB

Asyiknya Berkunjung ke Museum, Yuk Coba

Minggu, 24 Oktober 2021 | 07:44 WIB

Riddah atau Murtad Adalah Puncaknya Kejahatan

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 12:23 WIB
X