• Sabtu, 2 Juli 2022

Shang Chi, Performa Apik Tony Leung Yang Sayang Dilewatkan

- Jumat, 12 November 2021 | 08:57 WIB
Shang Chi ( ig @shangchi)
Shang Chi ( ig @shangchi)

KLIKANGGARAN--Megah dan memanjakan mata di sepanjang waktu penayangan, tepat dua jam dua belas menit menyisakan kesan mendalam seperti bertemu dan berkenalan dengan manusia paling menyenangkan di dunia. Sihir Shang Chi terlampau magis sehingga teramat sayang untuk dilewatkan.

Di awal kemunculan teaser dulu, baik berupa poster maupun video, Shang Chi banyak mendapat cibiran dari penonton kita. Tak sedikit yang sesumbar mengatakan jika Shang Chi hanya akan memutus rantai kesuksesan (film-film) Marvel. Bahkan di China, pemilihan Simu Liu sebagai karakter utama dicerca habis-habisan. Simu dicap kurang tampan dan tidak memiliki pesona untuk ukuran orang China. Ditambah rumor ucapan tak sedap Simu Liu yang menyinggung orang sana, menambah daftar panjang alasan Shang Chi diserang habis-habisan. Shang Chi hampir saja tenggelam.

Tapi, berkat performa apik setiap pemainnya (meskipun yang paling mendominasi ialah Tony Leung) Shang Chi selamat bukan hanya secara finansial, tapi juga mendapat sambutan positif dari para kritikus. Sementara dipuaskan dengan suguhan memikat, penonton seperti enggan beranjak dari hadapan layar.

Baca Juga: BEMP Pendidikan Sejarah UNJ: Pelatihan Keguruan dan Microteaching

Tidak dipungkiri memang, jika visualisasinya hampir tidak ada rasa Marvel-nya. Kita seperti hanya sedang menonton film Mandarin biasa dengan mindset superhero yang kental. Dan untungnya, Wong (Dr Strange) dari Kamar-Taj punya sampingan menjadi petarung bayaran. Yang dari sinilah jalinannya dengan semesta Marvel terhubung. Dan ya, boleh dibilang cukup masuk akal. Meski sedikit agak maksa.

Tak hanya itu, penggambaran binatang mitologi di desa Ta Lo, sebuah desa di semesta lain yang menjadi tujuan utama Wenwu atau Mandarin (Tony Leung) menuntaskan ambisinya juga kurang mendapat perhatian khusus. Sehingga kesannya hanya sekadar tempelan. Ada atau tidak, tak masalah. Padahal beragam spesies mitos itu memiliki peran penting untuk mendukung desa Ta Lo berdiri sebagai tempat yang nyata. Teringat dengan Planet Pandora di semesta Avatar (James Cameron), bahkan untuk sekadar capung pun dibuat sedetail mungkin. Sehingga setiap unsur di dalam tempat luar biasa itu sama penting dan ‘hidup’.

Bonding antar keluarga di sini juga sama tipisnya dengan keberadaan hewan-hewan mitologi itu. Meski istilah-istilah dalam keluarga berkali-kali disebut, tetapi feel dari hubungan itu terasa kosong. Bahkan ketika Shang Chi dewasa saling menempelkan dahi dengan sang ayah. Atau ketika Shang Chi berkali-kali menyebut sang adik. Nyawa dari keluarga itu baru terasa hadir ketika Michelle Yeoh yang berperan sebagai bibi, atau adik dari ibu Shang Chi muncul di sepertiga akhir film.

Baca Juga: Waspadai Gejala Stres pada Anak

Tapi terlepas dari kekurangan itu semua, setiap unsur yang solid membuat Shang Chi tetap enak menjadi tontonan yang menghibur. Pengambilan gambar yang bikin mata tidak sakit plus pesial efek yang digunakan menyatu sempurna dengan tiap koreografi figthing-nya, sehingga terasa tak ada yang sia-sia. Pemasangan Simu Liu sebagai pemain utama pun dibayar lunas. Meski tak segemilang Tony Leung maupun Awkwafina, tapi penampilannya cukup mampu menggilas statement yang meragukannya semenjak awal. Sehingga audiens pun dibuat mengerti kenapa Henry Golding (Mortal Combat, Crazy Rich Asian) tak lolos audisi untuk peran Shang Chi. Silakan anggap berlebihan, tapi bagi saya, Simu Liu memang dilahirkan untuk memerankan Shang Chi.

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X