• Rabu, 1 Desember 2021

Nadam Dwi Subekti, Guru Anak-Anak Pemulung di Sekolah Alam Tunas Mulia, Bantar Gebang

- Kamis, 25 November 2021 | 05:42 WIB
Nadam Dwi Subekti, Guru Anak-Anak Pemulung di Sekolah Alam Tunas Mulia, Bantar Gebang (Klikanggaran/Istimewa)
Nadam Dwi Subekti, Guru Anak-Anak Pemulung di Sekolah Alam Tunas Mulia, Bantar Gebang (Klikanggaran/Istimewa)

KLIKANGGARAN--Nadam Dwi Subekti, pria 51 tahun yang berasal dari Cilacap adalah guru sekaligus pendiri sekolah alam Tunas Mulia Bantar Gebang. Nadam Dwi Subekti mendirikan sekolah alam Tunas Mulia Bantar Gebang sejak 2006.

Awal mendirikan sekolah alam Tunas Mulia ersebut dikarenakan adalah cita-citanya ingin mencerdaskan anak-anak pemulung. Pak Nadam ingin semasa hidupnya bermanfaat maka beliau mengabdikan dirinya menjadi guru dan mendirikan sekolah untuk anak-anak pemulung terwujud walau diawali dengan perjuangan yang luar biasa.

Sekolah Alam Tunas Mulia didirikan oleh pak Nadam untuk memberikan pendidikan yang layak kepada anak – anak pemulung. Namun, seiring berjalannya waktu, sekolah itu sudah dapat menampung anak – anak dari daerah lain.

Baca Juga: Pidato Nadiem Makarim di Hari Guru Nasional 2021, Apa yang DIsampaikannya ya?

Sekolah alam yang berada diantara bukit puluhan juta ton sampah. Pak Nadam dan siswanya sudah terbiasa dengan bau sampah yang seringkali menyengat saat hujan. Terlihat siswa tetap belajar dengan gembira dan makan pun begitu lahapnya. Mereka senang bersekolah di situ yang sekarang lumayan luas.

Pak Nadam pun menyediakan sekolah Hafiz Quran bagi siswa yang tidak mampu untuk daerah sekitarnya. Pak Nadam sangat bersyukur karena sekolah Hafiznya diterima oleh masyarakat dan donator yang semakin hari semakin mengetahui keberadaan sekolah Hafiz tersebut.

Kali ini, saya berbincang dengan Pak Nadam mengenai pengalamannya sebagai guru anak-anak pemulung. Bagi beliau bahwa guru adalah seorang pendidik yang bukan hanya seorang pengajar.

Baca Juga: 13 Wakil Indonesia di Babak 16 Indonesia Open 2021, Tiga Tempat di Perempat Final sudah di tangan

“Pendidik itu mengajar dengan hati. Guru itu harus bisa menjadi contoh dan teladan. Jika dalam Bahasa jawa bahwa guru itu digugu lan ditiru bahwa guru itu harus bisa diikuti tindakan dan bicaranya” jelas pak Nadam.

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X