Kemenkumham: Korupsi Tinggi Karena Kesadaran Hukum Heteronom

- Senin, 4 Oktober 2021 | 20:41 WIB
Wakil Menteri Hukum dan HAM (Wamenkumham), Eddy Hiariej (Facebook/Prof. Eddy O.S Hiariej)
Wakil Menteri Hukum dan HAM (Wamenkumham), Eddy Hiariej (Facebook/Prof. Eddy O.S Hiariej)


Jakarta,Klikanggaran.com - Wakil Menteri Hukum dan HAM (Wamenkumham), Eddy Hiariej, dalam lokakarya Pembangunan ZI Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) Persiapan Desk Evaluasi Tim Penilai Nasional di Graha Pengayoman Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), menuturkan bahwa kesadaran hukum masyarakat Indonesia sangat baik, tetapi sifatnya masih heteronom.

Seperti diketahui, penyelenggaraan lokakarya ini adalah bagian dari peringatan Hari Dharma Karya Dhika Kemenkumham 2021.

Pada kesempatan itu, Kemenkumham juga menilai kesadaran hukum bersifat heteronom itu menjadi alasan mengapa persoalan korupsi di negeri ini masih tinggi dan sukar diperangi.

Baca Juga: Diduga Bawa Bendera Mirip Lambang HTI, MAKI Laporkan Jaksa KPK ke Jamwas

Heteronom yang dimaksud Kemenkumham adalah ketaatan yang timbul karena adanya dorongan dari luar yaitu adanya sebuah aturan yang memerintah atau melarang.

"Kita itu mau mentaati aturan, kita itu patuh terhadap aturan, karena ada suatu dorongan dari luar, bukan dari hati nurani," ujarnya, seperti dilansir Sindonews.com, Senin (4/10).

Menurut pria yang akrab disapa Eddy ini, orang Indonesia tidak melakukan korupsi bukan karena kesadaran internal diri melainkan karena adanya hukum yang melarang untuk korupsi. Sehingga apabila hukum tentang korupsi itu dicabut maka korupsi akan berjalan kembali.

Baca Juga: Gubernur Al Haris Usai Buka MTQ ke-50, Sempatkan Diri Bagi-bagi Sembako kepada Tukang Becak di Kuala Tungkal

Eddy kemudian membandingkan dengan masyarakat di Jepang dimana orang menaati hukum sebagai bagian dari dorongan nurani sendiri atau bersifat otonom. Sehingga apabila aturan tentang larangan korupsi di Jepang dicabut, orang Jepang tetap tidak akan melakukan korupsi. “Orang Jepang, seandainya aturan tentang korupsi dicabut, maka mereka tetap tidak akan melakukan tindakan korupsi,” ujarnya.

Menurut guru besar hukum UGM itu, kesadaran otonom itu akan muncul jika masyarakat memiliki integritas yang tinggi. “Integritas adalah kata kunci utama untuk memerangi korupsi. Ketika berbicara mengenai integritas, berarti kita berbicara mengenai sumber daya manusia. Mengapa integritas ini menjadi amat sangat penting? Karena dengan integritas ini akan melahirkan kesadaran hukum yang bersifat otonom, bukan heteronom,” tegas pria asal Ambon ini.

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X