• Minggu, 26 Juni 2022

Tahura Sultan Thaha Syaifuddin Memperihatinkan, Alami Deforestasi

- Rabu, 22 Juni 2022 | 19:07 WIB
Plang pengumuman di Kawasan Hutan Tahura SUltan Thaha Syaifuddin (dok. klikanggaran)
Plang pengumuman di Kawasan Hutan Tahura SUltan Thaha Syaifuddin (dok. klikanggaran)

KLIKANGGARAN -- Pada rangkaian kegiatan  Jurnalis touring PD IWO Kabupaten Batang Hari di kawasan Taman Hutan Raya Sultan Thaha Sayfuddin (Tahura STS) beberapa waktu yang lalu terlihat jelas kondisi kawasan yang mengalami deforestasi dari banyak sisi, dan terlihat jelas banyak kebun sawit, karet pada kawasan Tahura tersebut.

Dalam pantauan dan observasi  lapangan kondisi yang menyebabkan terjadinya deforestasi pada kawasan Tahura STS karena kawasan ini dikelilingi oleh 13 Desa dalam 3 Kecamatan yang kesemuanya berjarak dekat dengan kawasan.

Dalam kondisi yang demikian, diperparah lagi pasca dibubarkannya Dinas Kehutanan ditingkat Kabupaten Batang Hari khususnya  tidak ada lagi personil Polisi Hutan (POLHUT) dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) yang bertugas melakukan pengawasan terhadap kawasan TAHURA sehingga menyebabkan oknum ditingkat masyarakat  dengan leluasa melakukan okupasi dalam bentuk alih fungsi secara ilegal.

Baca Juga: Utamakan Kualitas, STIA LAN Makassar Gelar Sosialisasi Program Pendidikan bagi ASN Luwu Utara

Tim PD IWO Batang Hari dalam kegiatan Jurnalis Touring sempat menanyakan kepada Herman selaku Pamhutswakarsa TAHURA STS  berapa hektar kawasan yang utuh disekitar pos penjagaan? Herman mengatakan Kawasan yang utuh sekitar pos penjagaan ini masih ada sekitar 10 Ha.

Dari keterangan Herman tersebut memberi gambaran begitu memperihatinkannya kondisi kawasan  Tahura STS, kondisi sekitar pos penjagaan sudah demikian, dapat di bayangkan bagaimana kondisi yang jauh dari pos pantauan.

Walaupun demikian namun pemerhati dan pecinta lingkungan tetap optimis karena berdasarkan Keterangan dari Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Batang Hari saat ini Tahura STS sudah memiliki desain tapak yang sudah disetujui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia, yang membagi kawasan kedalam beberapa zona/blok yakni enam blok, diantaranya blok perlindungan dengan luas 432,26 ha (2,73%), blok pemanfaatan 824,14 ha (5,21%), blok koleksi 946,48 ha (5,98%), blok rehabilitasi 2.515,41 ha(15,89%), blok tradisional 10.880,19 ha (68,73%) dan blok khusus 231,22 ha (1,46%).

Dengan adanya desain tapak akan jelas nantinya dimana posisi masyarakat boleh memanfaatkan kawasan dan posisi yang sama sekali tidak boleh yang tentunya sesuai dengan petunjuk regulasi yang sudah ditetapkan pemerintah.

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X