• Sabtu, 29 Januari 2022

Bahasa Indonesia sebagai Identitas Intelektual

- Sabtu, 23 Mei 2020 | 07:00 WIB
ptbax
ptbax


Kalau kita senang menonton film-film detektif Barat, khususnya menyangkut kasus kejahatan yang dilakukan secara serial, kita akan mendapati langkah pertama yang dilakukan sang detektif setelah mengamati tempat kejadian perkara adalah melakukan "profiling". Tujuannya adalah untuk mempersempit ruang pencarian terhadap pelakunya.


Salah satu aspek dalam "profiling" itu adalah mengidentifikasi tingkat pendidikan pelaku yang dilihat dari pesan yang ditinggalkan (biasanya pelaku kejahatan serial meninggalkan pesan khusus pada korbannya). Jika pesan itu dalam bentuk tulisan, sang detektif akan memganalisis tulisan dari sisi tatabahasa. Jika tatabahasanya baik dan benar, dapat dipastikan sang pelaku berpendidikan tinggi. Sebaliknya, jika tatabahasanya amburadul, dapat dipastikan sang pelaku berpendidikan rendah.


Masalahnya, cara "profiling" seperti itu tidak akan berhasil diterapkan di Indonesia. Apa pasalnya? Masih sangat banyak kalangan terdidik di Indonesia yang tatabahasanya amburadul. Bahkan, masih ada lulusan S3 (doktor, lho!) yang tidak dapat membedakan penggunaan "di" sebagai imbuhan (afiks) atau kata depan (preposisi). Belum lagi jika dicek struktur kalimatnya dalam hal penggunaan subjek dan predikat.


Tidak hanya itu. Kesantunan berbahasa pun belum bisa menjadi salah satu ciri keterdidikan seseorang. Apalagi dalam tingkat yang lebih tinggi, yaitu logika berbahasa. Masih banyak kalangan yang dikenal terdidik, tetapi dari sisi tatabahasa, kesantunan, dan logika berbahasanya tidak tersusun dengan baik.


Maksud tulisan ini justru bukan mencegah kaum terdidik untuk memperbaiki kemampuan berbahasa Indonesia mereka agar tidak mudah tertangkap jika menjadi pelaku kejahatan serial yang senang meninggalkan pesan tertulis pada korbannya. Sebaliknya, tentu banyak manfaat yang akan didapat jika kaum terdidik mau memperbaiki kemampuan berbahasa mereka. Orang lain akan lebih mudah memahami dan menghargai tulisan mereka. Itu adalah sebagian manfaat dari banyak manfaat lainnya.


Tulisan ini tidak lain hanyalah analogi populer sederhana bahwa bahasa Indonesia belum menjadi bagian dari identitas intelektual kita.




Sebuah artikel opini yang ditulis oleh Tri Joko Setiadi, praktisi pembelajaran bahasa Indonesia


Editor: Administrator

Tags

Terkini

Menikah atau Tidak Menikah?

Rabu, 12 Januari 2022 | 09:03 WIB

Melepas Keriuhan, Menyambut Keheningan

Selasa, 4 Januari 2022 | 16:27 WIB

Pemikiran Gus Dur dalam Pergerakan PMII

Kamis, 30 Desember 2021 | 19:39 WIB

Relasi Sinergis Nahdlatul Ulama-Partai Gerindra

Minggu, 19 Desember 2021 | 12:42 WIB

Jangan Stigma Negatif Pesantren

Sabtu, 11 Desember 2021 | 21:25 WIB

Mengulik Makna Selangkangan

Senin, 6 Desember 2021 | 17:28 WIB
X