• Jumat, 12 Agustus 2022

Syekh Abdus Shomad Al Palimbani, Putra Bangsa Harum di Haramayn 2

- Rabu, 16 November 2016 | 12:52 WIB
images_berita_Nov16_1-YANUAR-Museum
images_berita_Nov16_1-YANUAR-Museum

Sejak masa Kerajaan Sriwijaya abad ke-10 telah banyak pedagang muslim dari Timur Tengah terutama Arab dan Persia yang datang ke Palembang. Dalam beberapa kesempatan, mereka dimanfaatkan oleh para penguasa Sriwijaya dalam misi diplomatik ke luar negeri. Namun, Islam menyebar dengan pesat baru sekitar abad ke-14 pada masa-masa menjelang keruntuhan Sriwijaya.

 

Pada abad ke 17 – 18 Masehi, Kesultanan Palembang Darussalam mencapai puncak kejayaannya, menjadi salah satu dari empat pusat kajian Islam terbesar di Nusantara. Setelah Aceh mengalami kemunduran pada 17 M, kemudian Palembang mengambil alih berkisar tahun 1750-1820, kemudian beralih lagi ke Banjarmasin dan Padang.

Abdus Shomad adalah murid yang sangat cerdas dan memiliki ingatan yang luar biasa. Pada usia 10 tahun ia telah hafal al-Qur’an. Pada usia ini juga dia mendapatkan malam Lailatul Qadar yang banyak keajaiban yang tidak bisa dihinggakan. Kemudian beliau berangkat ke Mekkah untuk menuntut ilmu dalam usia yang belia.

Melihat dari tahun lahirnya, yaitu 1150 H atau 1737 M, Abdus Shomad mengalami masa kecilnya pada masa Kesultanan Palembang dipimpin oleh Sultan Mahmud Badaruddin I (1727-1756). Pada masa ini Palembang dikenal sebagai pusat belajar Islam yang penting di Melayu-Nusantara. Hal ini membuat banyak ulama dari Jazzirah Arab datang, bermukim serta mengajar di Palembang hingga melahirkan ulama-ulama baru. Kesultanan Palembang juga dikenal menempatkan keagamaan dan kesusastraan sebagai bagian penting dalam birokrasinya.

Kakek Abdus Shamad bernama Syaikh Abdul Jalil dari Yaman. Abdul Jalil datang ke Palembang pada awal abad ke- 18. Ia memiliki seorang murid bernama Muhammad Jiwa, seorang putra mahkota Kerajaan Kedah. Setelah mengaajarnya selama enam bulan, Abdul Jalil melanjutkan perjalanannya ke Jawa. Muhammad Jiwa ingin terus belaajar pada Abdul Jalil sehingga ia juga ikut bersamanya. Namun, setengah tahun kemudian, Abdul Jalil kembali meneruskan perjalanannya ke India. Di sana, Abdul Jalil memiliki murid lagi bernama Hapisap (Hafizh Sab). Setelah lima tahun kemudian, Muhammad Jiwa mengusulkan kepada Abdul Jalil agar mereka berkunjung ke Kedah. Saat itu Kedah terjadi kekosongan kekuasaan karena ayah Muhammad Jiwa yaitu Sultan Abdullah telah wafat (1706), serta penggantinya Sultan Ahmad Tajuddin saudara Jiwa juga telah meninggal.

Setibanya di Kedah pada 1710, Muhammad Jiwa dinobatkan sebagai Sultan dengan nama Sultan Muhammad Jiwa Zainal Abidin Muazzam Shah II yang memerintah sampai 1778. Abdul Jalil diangkat menjadi Mufti, dan Hapisap sebagai Qadi. Kemudian, Abdul Jalil dijodohkan dengan keluarga anggota istana bernama Wan Zainab. Seletah beberapa bulan pernikahan itu, Abdul Jalil diminta ke Palembang untuk mengunjungi murid-muridnya di sana. Abdul Jalil berangkat ke Palembang lagi dan dijodohkan dengan Raden Ranti. Dari pernikahan inilah lahir Abdur Rahman, ayah Abdus Shomad. Dari hasil penelusuran referensi oleh peneliti, di dapatkan bahwa ayah dari Syekh Abdus Shomad al-Palimbani adalah Abdurrahman. Ini berbeda dengan literatur sejarah Abdus Shomad yang terdahulu yang mengatakan bahwa ayahnya adalah Abdul Jalil. Dalam referensi terbaru yang merupakan terjemahan dari Faydh al-Ihsani  disebutkan bahwa “... yaitu penghulu kita yang memeliharakan akan kita yaitu Syekh Abdus Shomad yang anak Abdurrahman telah mengekalkan Allah Ta’ala akan manfaatnya bagi segala manusia …” dan dalam penggalan yang lain” Dan aku namai akan dia FAIDH AL-IHSANI, yaitu limpah yang amat baik dan midadal lirabbani yakni pertolongan yang amat tetap di dalam perhimpunan akan menghampirkan akan setengah kepujian guru kami yang arif as-Shamadani wa al-Haikal Nurani yaitu penghulu kita Syekh Abdus Samad yang anak Abdurrahman al-Jawi Palembani negerinya”.

Namun, sebagai penambahan khazanah keilmuan, peneliti akan tetap menyampaikan versi lain yang dikutip Idrus al-kaf dalam buku Quzwain yang bersumber dari Salasilah Negeri Kedah karya Hassan bin Tok Kerani Mohammad Arsyad yang ditulisnya pada 1968, bahwa Abdus Shamad adalah putra Abdul Jalil. Sumber ini menjelaskan bagaimana Abdul Jalil adalah tokoh sufi yang menjadi guru agama di Palembang dan menikah dengan Raden Ranti lalu menghasilkan keturunan bernama Abdus Shamad.

Abdus Shomad ditinggal Ibunya untuk selamanya ketika masih kecil. Menurut Faydh al-Ihsani“dan adalah dahulu daripada sampai umurnya setahun maka lalu Ibunya ke rahmat Allah Ta’ala, makaa jadi ia yatim di dalam rabbani amat mudanya...”. Ibu Abdus Shomad bernama Masayu Syarifah. Yang merupakan perempuan dari lingkungan bangsawan Palembang dilihat dari identitas namanya. Pada umur sembilan tahun, ayahnya juga pergi berkelana ke Kedah menyusul kakeknya Abdul Jalil.

Halaman:

Editor: Kit Rose

Tags

Terkini

SATGASSUS

Selasa, 9 Agustus 2022 | 17:45 WIB

23 Juni 2022, UTBK dan Masa Depan NU

Kamis, 23 Juni 2022 | 08:22 WIB

Dilema Puan Menjadi Presiden

Kamis, 21 April 2022 | 04:39 WIB

Kios SIAPkerja (Kasus BPVP Kabupaten Sidoarjo)

Rabu, 13 April 2022 | 13:33 WIB

Konsep Frasa Crazy Rich dan Orang Kaya

Selasa, 29 Maret 2022 | 16:48 WIB

Mandalika dan Penciptaan Lapangan Kerja

Selasa, 29 Maret 2022 | 13:06 WIB
X