• Selasa, 24 Mei 2022

NU Perlu Membuat Sekolah Tinggi Perfilman Usmar Ismail

- Minggu, 23 Januari 2022 | 14:43 WIB
Road Show Ngaji Literasi dan Budaya yang diselenggarakan Lesbumi NUJU pada hari sabtu 22 Januari 2022  (Dok. Istimewa)
Road Show Ngaji Literasi dan Budaya yang diselenggarakan Lesbumi NUJU pada hari sabtu 22 Januari 2022 (Dok. Istimewa)



KLIKANGGARAN--Pada dasarnya alam berpikirlah yang merespon segala sesuatu yang ada, yang kemudian terus melakukan kinerjanya baik menggali, menganalisa, mengimajinasi, menginterpretasi dan seterusnya. Sampai daya cipta terlahir menjadi sebuah karya.

Pola hidup yang saling mempengaruhi sebagaimana dalam dunia film gerak. Baik yang disampaikan lewat film layar lebar, game, sinetron, dunia maya lainnya telah memberikan dampak sinifikan dalam tatanan sosial.

Perubahan kultur masyarakat yang awalnya dekat dengan proses dialektika pada nilai etika, kini cenderung hanya bermukim pada nilai estetikanya saja. Orang cenderung melihat bungkus dan kemasan, bukan ukuranya dititik beratkan pada muatan esensinya.

Sebagaimana disinggung dalam diskusi Road Show Ngaji Literasi dan Budaya yang diselenggarakan Lesbumi NUJU pada hari sabtu 22 Januari 2022 dengan mengangkat tema Film dan Usmar Ismail, selaku pendiri Lesbumi dan Bapak Film Indonesia.

Baca Juga: Ups, PM Selandia Batal Nikah karena Omicron

Dikatakan narasumber Aklis Suryapati selaku ketua Sinematek Pusat perfilman Usmar Ismail. Bahwa Tujuan penyelenggaraan film dalam konstitusi adalah pembentukan aqlak mulia dan sampai saat ini apa yang diselenggarakan masih jahu dari tujuan sebagaimana yang diharapkan tujuan perfilman itu sendiri.

Pernyataan diatas juga senada sebagaimana yang diungkapkan oleh narsumber Moch. Dimyati dan Abye Maharullah Madugiri selaku sebagai pengamat sosial kebangsaan dan Cendikiawan muda Jakarta Utara.

Menegaskan bahwa, perkembangan film kekinian hanya terjebak pada kebutuhan industri dan mengalami menyempitkan makna. Muatan tuntunan sebagai usaha menjalankan spirit amal makruf nahi mungkar guna membentuk nasionalisme dan peradaban semakin berkurang.

Disinggung pula bahwa industri perfilman Indonesia sampai saat ini masih dikuasai asing. Terbukti bahwa banyaknya saham kepemilikan gedung film banyak dimiliki oleh orang luar, termasuk tayangan film yang diputar dibioskop bioskop penontonnya hampir 85 % lebih memilih film film Holywood dan yang lainnya.

Baca Juga: Segera Cek, Hari ini Terakhir Masa Sanggah Pendaftar PPPK Kemenag atas Kelulusan, Jangan Terlambat ya....

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

K.H. M. Djamaluddin Ahmad Wafat

Kamis, 24 Februari 2022 | 16:20 WIB
X