• Selasa, 24 Mei 2022

Waspadai Gejala Stres pada Anak

- Jumat, 12 November 2021 | 07:48 WIB
Ilustrasi (@sekar_mayang)
Ilustrasi (@sekar_mayang)

Ledekan atau lelucon dari orang lain juga dapat membuat sang anak merasa kecil hati. Ia merasa tidak dianggap ada. Kalaupun dianggap ada, ia hanya dijadikan bahan tertawaan. Mungkin Anda merasa itu hanya sebuah candaan, tetapi jika dari awal anak sudah menunjukkan ketidaksukaan dan tidak ikut tertawa saat lelucon dilontarkan, Anda harus berhenti. Jangan diteruskan, atau Anda akan menyesal nantinya.

Perasaan kecil hati yang terus-menerus, siapa pun yang mengalaminya, bukan hal remeh untuk diabaikan. Ia akan merasa semua orang akan menolak kehadiran dirinya. Ia makin menutup diri, menjauh dari keramaian, dan mungkin kehilangan nafsu makan. Kalau lambung kosong dalam keadaan lama, cairan asam meningkat. Anda bisa mencari tahu sendiri apa efek tingginya asam lambung. Dan, jika itu terjadi pada anak-anak, make it double.

Baca Juga: Rony Dozer Meninggal Dunia Karena Serangan Jantung

Perhatikan pula jenis tangisan yang terjadi. Orang tua biasanya paham bedanya anak menangis karena kesakitan atau ketakutan. Dari ekspresi wajah juga tampak jelas. Kalau ia berlari ke pelukan Anda dengan tangis histeris tidak biasa, sebaiknya tidak lekas Anda menghakimi sang anak, apalagi dengan menuduh bahwa ia nakal atau bandel. Kemungkinan besar itu disebabkan karena perasaannya tersenggol (baca: tersakiti). Umumnya adalah karena penolakan. Tidak diizinkan bermain bersama atau tidak dibagi makanan. Satu dua kali mungkin tidak terasa, tetapi ledakan yang lebih besar sangat mungkin terjadi.

Dalam kasus tertentu, anak akan mengaku bahwa ia ingin berhenti menangis, tetapi tidak bisa. Bisa jadi, itu karena otak sudah tidak mampu memerintah tubuh dengan baik. Pendek kata, stres dapat membuat seseorang kehilangan kontrol atas tubuhnya sendiri. Tangis anak bisa tiba-tiba berhenti, tetapi itu pula yang menghentikan kesadarannya. Anak bisa tiba-tiba jatuh tertidur dan memorinya terganggu. Ketika bangun, ia mungkin akan menanyakan pertanyaan yang sama, meskipun sudah Anda jawab dengan kalimat yang sama pula.

Ia pun cenderung ingin segera tidur lagi karena mengalami kelelahan luar biasa. Ini bukan sekadar lelah yang dapat diganti tidur satu atau dua jam. Ini lelahnya yang jika diganti tidur dua hari pun belum tentu pulih. Anda bisa bayangkan betapa mengerikannya efek stres pada anak.

Baca Juga: Sekilas tentang Waskita Karya, BUMN Indonesia yang Eksis Sejak Zaman Belanda

Satu lagi. Jika Anda tengah berkonflik dengan pasangan atau dengan orang lain, menjauhlah dari anak. Pergilah ke ruangan yang sekiranya tidak terjangkau pendengaran dan penglihatan anak. Sebab, Anda mungkin tidak sadar bahwa hal itu dapat menjadi penyebab stres pada anak. Beruntung jika anak Anda tipe yang ‘bisa bicara’. Ia akan mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap situasi yang ia hadapi. Namun, akan lebih berbahaya efeknya nanti jika ternyata anak Anda bukan tipe yang terbuka. Pelan-pelan, rasa sedihnya berubah menjadi monster yang siap menyerang kapan pun.

Oh, Anda mungkin menjalani konflik dengan senyap. Akan tetapi, jangan lupakan ekspresi wajah yang mudah terbaca orang lain. Sorot terluka dari mata Anda akan mudah terbaca anak, apalagi jika Anda dua puluh empat jam selalu bersamanya. Perubahan sedikit saja akan langsung diketahui anak.

Bagaimana jika telanjur terjadi serangan pertama?

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kafarat Jima' di Siang Hari pada Bulan Ramadhan

Jumat, 29 April 2022 | 08:42 WIB

Ramadan dan Penguatan Kohesi Sosial

Jumat, 8 April 2022 | 13:27 WIB
X