• Rabu, 29 Juni 2022

Ragu Mau Nge-Bimbel-in Anak atau Ngak, Baca Ini Dulu, Deh, supaya Makin Mantap

- Minggu, 26 September 2021 | 11:00 WIB
Salah satu cabang sebuah bimbel (dok. nurul fikri)
Salah satu cabang sebuah bimbel (dok. nurul fikri)

Kita rela menitipkan anak kita kepada bimbel untuk dibimbing pendidikannya dengan sebaik-baiknya. Secara sadar tidak sadar, sebenarnya kita tengah melakukan investasi jangka pendek ataupun panjang. Dan anak kita yang dibimbelkan tersebut adalah investasinya. Lalu, siapa yang akan memetik manfaatnya atau keuntungannya di kemudian hari? Siapa lagi kalau bukan orang tua dan anak itu sendiri.

Kalau begitu, apa tujuan utama bimbel yang menjadi daya tarik para orang tua yang berperan sebagai “investor pendidikan” tersebut? Pak, Bu tujuan utama bimbel adalah mendampingi anak didik belajar dan dengan pelan-pelan dengan berbagai strategi yang dimiliki berusaha membantu peningkatan pemahaman siswa terhadap pelajaran. Memberikan konsultasi. Memberikan materi-materi penting. Menjelaskan materi yang dianggap sulit. Mengadakan Try Out secara berkala. Memberikan nilai. Mengevaluasi nilai tersebut dengan konsultasi. Ditambah lagi, memberikan tambahan informasi-informasi pendidikan yang mungkin di sekolah belum disampaikan.

Bimbel: Membantu Peran Orang Tua sebagai “Guru” di Rumah

Dengan bimbel, pekerjaan orang tua sebagai “guru” di rumah terbantu. PR atau tugas anak yang di luar kemampuan orang tua dapat diatasi dengan baik. Target pembelajaran rutin di rumah pun bisa terpenuhi. Kebiasaan bermain game yang terlalu lama pada si anak pun dapat dikurangi atau dikontrol.

Baca Juga: Polisi Tangkap Pembakar Mimbar Masjid di Makassar, Motifnya Sakit Hati

Alhasil, kehidupan si anak pun seimbang. Ada mainnya, ada belajarnya, ada ibadahnya. Secara langsung atau tidak langsung, kebiasaan baik itu akan terbentuk sampai si anak dewasa nanti.

Lalu Bagaimana kalau Si Anak Tidak Mau Bimbel?

Jangan dipaksa. Sebagai suplemen, bimbel hanya melengkapi atau membantu siswa perihal materi-materi, soal-soal, atau tugas-tugas yang dia belum mengerti. Artinya, tuntutan membimbelkan anak tetap berada setelah menyekolahkan anak.

Namun, orang tua dapat memberikan stimulus kepada anak soal pentingnya belajar. Orang tua sendiri bahkan sebetulnya bisa menjadi “bimbel” bagi si anak. Terlebih jika Anda adalah orang tua yang memang guru juga, yang tentu sudah mahir menjawab soal-soal atau tugas-tugas sekolah.

Harapannya, stimulus tadi akan memberikan kesadaran kepada anak bahwa belajar itu kebutuhan, bukan sebatas kewajiban dia sebagai pelajar. Caranya bisa mandiri, dibantu orang tua, dibantu guru, atau dibantu bimbel. Intinya, tujuan belajar sebagai kebutuhan tetap terpenuhi.

Baca Juga: Sisi Lain Kuala Dua Belas, Desa Viral Akibat Styrofoam, Gaji Puluhan Juta hingga Rumah Mewah di Jakarta

Jadi, Bimbelin Anak atau Tidak?

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kafarat Jima' di Siang Hari pada Bulan Ramadhan

Jumat, 29 April 2022 | 08:42 WIB
X