• Selasa, 30 November 2021

Utang RI Capai Rp6.625 Triliun, Menkeu Waspadai Resiko Global Utang AS

- Jumat, 1 Oktober 2021 | 20:23 WIB
Konferensi Pers Menteri Keuangan, Sri Mulyani [kanan] terkait BLBI (Biro KLI Kemenkeu)
Konferensi Pers Menteri Keuangan, Sri Mulyani [kanan] terkait BLBI (Biro KLI Kemenkeu)

Jakarta, Klikanggaran.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani terus mewaspadai resiko global yang bisa mempengaruhi perekonomian Indonesia. Salah satunya terkait debt ceiling atau batas utang Amerika Serikat (AS) yang telah melambung tinggi.

Dikatakan Menkeu Batas utang AS baru saja diakhiri penangguhannya. Sementara pemerintah AS mengaku tidak mampu lagi membayar semua kewajiban atau utangnya per bulan Oktober.

"Di sisi lain beberapa persoalan seperti Evergrande di Tiongkok atau terjadinya pembahasan fiskal debt limit di Amerika Serikat. Ini menjadi faktor yang kita waspadai dan terjadinya kemungkinan tappering moneter di AS, dan kita melihat menjaga pemulihan ekonomi domestik. Kita jangan lengah," kata Menkeu Sri Mulyani dalam video virtual beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Belum Ada SOP Benda Titipan, BPK Temukan Piutang Gratifikasi Berupa ATM Mandiri di KPK

Lanjut dikatakan Menkeu Sri, Indonesia akan mengelola utang dengan hati-hati agar tidak memberatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021.

Seperti diketahui, Kementerian Keuangan (Kemenkeu), merilis laporan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Kinerja dan Fakta (APBN KiTA) bulan September 2021 yang mengukapkan jumlah utang Pemerintah mencapai Rp6.625 triliun per 31 Agustus 2021.

"Posisi utang Pemerintah per akhir Agustus 2021 berada di angka Rp6.625 triliun
dengan rasio utang pemerintah terhadap PDB sebesar 40,85 persen," bunyi laporan APBN KiTA September 2021, seperti dikutip Klikanggaran.com, Senin (27/9).

Baca Juga: Singapura Siapkan Platform Untuk Perangi Pencucian Uang. Peringatan Buat Koruptor!!

Posisi utang Pemerintah Pusat mengalami kenaikan sebesar Rp55,27 triliun apabila dibandingkan posisi utang akhir Juli 2021. Kemenkeu juga mengungkapkan kenaikan utang Indonesia terutama disebabkan adanya kenaikan utang dari Surat Berharga Negara Domestik sebesar Rp80,1 triliun sementara utang Surat Berharga Negara dalam valuta asing mengalami penurunan sebesar Rp15,42 triliun. Hal yang sama terjadi juga untuk Pinjaman dimana terjadi penurunan sebesar Rp9,41 triliun.***

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Oleh-oleh Kunjungan Yaqut Cholil Qoumas ke Arab Saudi

Senin, 29 November 2021 | 13:41 WIB

Geram! Jokowi Klaim Pernah Tegur Keras Dirut Pertamina

Senin, 22 November 2021 | 12:44 WIB

Di Mata KPK, Kemensos Adalah Kementerian yang Strategis

Selasa, 16 November 2021 | 20:03 WIB

Fatwa MUI: Perdagangan Kripto Adalah Haram

Jumat, 12 November 2021 | 16:47 WIB
X