• Selasa, 24 Mei 2022

Wingko Babat : Ternyata Sejarahnya Bukan Asli Semarang

- Sabtu, 13 November 2021 | 21:26 WIB
Wingko Babat (Klikanggaran/@Anas_Eka_Wardana)
Wingko Babat (Klikanggaran/@Anas_Eka_Wardana)

Bukti sejarah lainnya juga mendukung kalau wingko babat berasal dari Lamongan adalah ditemukan surat kabar yang bernama Soerabaijasch Handelsblad pada tahun 1934 menjelaskan jika wingko mempunyai rasa manis serta lezat yang sangat disukai oleh para pelancong yang datang ke Babat.

Sudah jelas dengan ditemukan bukti sejarah seperti itu, bisa jadi wingko memang betul merupakan kuliner khas daerah Babat, Lamongan Jawa Timur.

Wingko telah dijadikan oleh-oleh khas dari Babat Lamongan jauh sebelum adanya wingko babat yang ada di Semarang. Yang menjadi menarik disini sebetulnya adalah perintis wingko babat di Semarang itu merupakan anak dari perintis wingko babat yang ada di Lamongan.

Baca Juga: Tabloid Inggris Mendukung Aktifnya Unit Arteleri AS di Jerman dengan Rudal Hipersonik Mampu Menjangkau Moskow

Loe Lan Hwa adalah anak kedua dari pasangan Loe Soe Siang dan Djoa Kiet Nio peritis pertama wingko babat Lamongan. Loe Lan Hwa mengikuti jejak sang suami pindah ke Semarang dan mereka mulai merintis wingko babat pertama di Semarang.

Di Semarang, ia juga memperkenalkan resep olahan keluarganya dengan memberi nama wingko babat “Cap Kereta Api”. Pemilihan cap ini, didasari oleh sang suami yang berkerja di bagian restorasi kereta api.

Sejak awal pembuatan wingko babat tahun 1946 di Semarang hanya mempunyai rasa original atau rasa kelapa saja, namun seiring dengan selera konsumsi masyarakat yang semakin berkembang dan agar tidak ketinggalan dengan makanan-makanan lainnya.

Baca Juga: Naas Betul! Sudah Kehilangan Kaki, Pria Ini Harus Bayar Rp89 Juta dan Penjara Pula

Tahun 2014 wingko babat Semarang mulai berinovasi menyediakan varian rasa lainnya seperti cokelat, pisang raja, durian, dan nangka yang dipelopori oleh wingko babat cap kereta api.

Wingko adalah salah satu dari sekian banyak kuliner khas Nusantara yang masih bertahan hingga hari ini, catatan panjang mengenai historisnya sudah sepatutnya kita ketahui dan pelajari agar kedepannya wingko tidak hilang dari peradaban kita.

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kafarat Jima' di Siang Hari pada Bulan Ramadhan

Jumat, 29 April 2022 | 08:42 WIB

Ramadan dan Penguatan Kohesi Sosial

Jumat, 8 April 2022 | 13:27 WIB
X