• Jumat, 9 Desember 2022

Boros! Pemkab Sumbar dalam Memberikan Insentif Pemungutan Pajak Rokok

- Selasa, 8 Mei 2018 | 09:37 WIB
images_berita_2018_Apr_IMG-20180508-WA0012
images_berita_2018_Apr_IMG-20180508-WA0012

Jakarta, Klikanggaran.com (08-05-2018) - Realisasi insentif pemungutan pajak rokok di Pemerintahan Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) dinilai tidak memenuhi azas kepatutan. Hal tersebut telah mengakibatkan pemborosan keuangan daerah, sebagaimana dari dokumen yang dimiliki Klikanggaran.com adalah sebesar Rp5.259.331.078.

Kesalahan pembayaran insentif pemungutan pajak daerah tersebut, pertama adalah bersumber dari pendapatan pajak rokok dan itu terjadi pada tahun anggaran 2016. Dalam perhitungan insentif pemungutan pajak daerah untuk rokok selama tahun anggaran 2016 adalah sebagai berikut :

1. Target sesuai DPPA atau Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran adalah sebesar Rp265.000.000.000.

2. Sedangkan untuk realisasi tahun anggaran 2016 adalah sebesar Rp281.559.470.710 atau 106,25 persen.

3. Dan, untuk insentif pajak rokok sendiri adalah sebesar Rp5.300.000.000.

Sementara pendapatan pajak rokok hanya sebesar 90%-95% dari estimasi penerimaan pajak rokok yang dikeluarkan oleh Dirjen Perimbangan. Namun, anehnya pembayaran insentifnya sangat boros dan terlihat dimanjakan sekali.

Memang, insentif adalah suatu sarana untuk memotivasi berupa materi, yang diberikan sebagai suatu perangsang ataupun pendorong dengan sengaja kepada para pekerja agar dalam diri mereka timbul semangat yang besar untuk meningkatkan produktivitas kerjanya dalam organisasi. Tapi, mustinya harus sesuai ketentuan yang berlaku.

Nyatanya, instansi pelaksana pemungutan pajak rokok tidak dapat mencapai kinerja tertentu.

Kesalahan kedua adalah, Pemprov Sumbar tidak mematuhi Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2010 tentang tata cara pemberian dan pemanfaatan insentif pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah, sebagaimana isinya menyebutkan bahwa insentif diberikan kepada instansi pelaksana pemungut pajak dan retribusi.

Halaman:

Editor: Heryanto

Terkini

X