• Minggu, 27 November 2022

K.H. Noer Ali, Ulama Betawi Pejuang Kemerdekaan: Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

- Minggu, 25 September 2022 | 15:01 WIB
K.H. Noer Ali (Instagram/@senimannu)
K.H. Noer Ali (Instagram/@senimannu)

KLIKANGGARAN -- Kepulangan K.H. Noer Ali ke kampung halamannya Ujung Malang pada awal Januari tahun 1940, telah menjadi duri dalam daging bagi tuan tanah dan pemerintah Hindia Belanda karena kemampuannya mengorganisir massa.

K.H. Noer Ali mendirikan pesantren, dan kemudian menggkoordinir pembangunan akses jalan secara besar–besaran antara kampung Ujung Malang, Teluk Pucung, dan Pondok Ungu yang dilakukan secara sukarela dan terselesaikan pada tahun 1941.

Sebagai salah satu pemimpin agama terkemuka di betawi, namanya diusulkan masuk dalam daftar Shimubu (Kantor Urusan Agama), pada masa pendudukan Jepang (1942-1945). Namun K.H.Noer Ali menyikapinya dengan sangat hati–hati, dan kemudian menolaknya.

Untuk mempersiapkan diri bila sewaktu-waktu bangsa Indonesia harus bertempur secara fisik, K.H. Noer Ali menyalurkan santrinya ke dalam Heiho (pembantu prajurit), Keibodan (barisan pembantu polisi) di Teluk Pucung, dan menyuruh salah seorang santrinya untuk mengikuti latihan kemiliteran Pembela Tanah Air (PETA).

Baca Juga: Inilah Profil Muhammad Rafli, Stiker Arema FC yang direkrut Timnas Indonesia

Ketika Indonesia merdeka, ia terpilih sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Cabang Babelan. Tanggal 19 September 1945 ketika diselenggarakan Rapat Raksasa di Lapang Ikada Jakarta, K.H. Noer Ali mengerahkan massa untuk hadir.

Dalam mempertahankan kemerdekaan, ia menjadi Ketua Laskar Rakyat Bekasi, selanjutnya menjadi Komandan Batalyon III Hisbullah Bekasi.

Gelar kiai haji sendiri beliau dapatkan dari bung Tomo yang dalam pidatonya melalui pemancar Radio Surabaya atau Radio Pemberontaknya berkali-kali menyebut nama K.H. Noer Ali, akhirnya gelar guru pun tergeser dan berganti dengan makna yang sama, Kiai Haji.

Ketika terjadi Agresi Militer Juli 1947 KH.Noer Ali menghadap Jenderal Oerip Soemohardjo di Yogyakarta. Ia diperintahkan untuk bergerilya di Jawa Barat dengan tidak menggunakan nama TNI.

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Guru Amin: Ulama Betawi dan Pejuang Kemerdekaan

Minggu, 25 September 2022 | 16:07 WIB

CPM: TNI Solid, Effendi Simbolon Harus Meminta Maaf

Rabu, 14 September 2022 | 11:16 WIB
X