• Minggu, 22 Mei 2022

Bisakah Manusia Bahagia Tanpa Susah Payah?

- Jumat, 21 Januari 2022 | 11:00 WIB
ilustrasi (Sekar_Mayang)
ilustrasi (Sekar_Mayang)

KLIKANGGARAN---Semua bermula ketika membaca buku Sagra karangan Oka Rusmini. Di sana ada paragraf yang berbunyi, “Siapa yang bisa mengukur kedalaman kebahagiaan seseorang? Apa kebahagiaan itu punya kapasitas? Punya bentuk? Atau ada standarnya?” Saya langsung mengambil bolpoin, menandai paragraf itu dengan garis panjang. Sungguh, perihal bahagia ini tiba-tiba saja mengajak otak saya berdansa.

Apa pasal? Oh, bukan apa-apa. Itu hanya gara-gara terlampau sering makan bubur encer bercampur sayur, mereka dicap tidak bahagia. Itu hanya gara-gara tidak punya penghasilan tetap tiap bulannya, mereka dicap tidak bahagia. Bahkan, itu hanya karena mereka adalah penulis, orang-orang kerap bertanya, “Apa kamu bahagia dengan semua ini?”

Ah, otak saya betul-betul berdansa. Bergerak liar dengan sendirinya. Melompat dari satu pertanyaan ke pertanyaan lain, persis dengan yang tertulis di paragraf itu. Betapa satu cerita pendek berjudul Esensi Nobelia dapat membuat oleng pemahaman saya tentang bahagia dan kebahagiaan. Sampai-sampai saya harus membuat survei kecil-kecilan di dinding media sosial.

Jadi, apa definisi bahagia itu? Apakah ia harus selalu dikaitkan dengan yang tampak mata? Harta, misalnya. Rumah, mobil, furnitur mewah, pakaian bermerek, atau makanan dengan harga selangit? Bagaimana dengan orang-orang yang memang tidak memiliki faktor X yang berperan memudahkan segala urusan?

Baca Juga: VIDEO: Tabrakan Beruntun di Balik Papan, Truk Tronton Blong!

Mari kita tengok apa yang dikatakan kamus tentang bahagia.

Lema bahagia berakar dari bahasa Sanskerta, yaitu ‘bhāgya’ yang berarti bahagia, beruntung. Sementara KBBI sendiri memaknai bahagia dengan keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan); beruntung; berbahagia. (KBBI Daring, diakses 21 Januari 2022)

Jadi, untuk merasa bahagia, kita harus dalam kondisi senang, tenteram, bebas dari segala yang menyusahkan. Nah, senang yang bagaimana? Sejak awal kita paham bahwa standar senang, tenteram, dan bebas dari kesusahan bisa amat berbeda untuk tiap individu.

Ada yang bahagia hanya dengan makan tempe bacem sementara penghasilannya sangat memungkinkan ia makan olahan daging sapi tiap hari. Ada yang senang bisa berlibur ke pantai yang jaraknya hanya lima kilometer dari rumah, sementara tabungannya cukup untuk plesiran ke Eropa dua kali dalam setahun. Atau, seperti dalam Esensi Nobelia, mereka bahagia hanya dengan menulis (baca: menjadi penulis), padahal kualifikasi mereka memungkinkan untuk mendapat pekerjaan berpenghasilan tetap dengan nominal besar. Akan tetapi, pilihan-pilihan telah ditetapkan.

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kafarat Jima' di Siang Hari pada Bulan Ramadhan

Jumat, 29 April 2022 | 08:42 WIB

Ramadan dan Penguatan Kohesi Sosial

Jumat, 8 April 2022 | 13:27 WIB
X