Kekerasan di Ponpes, 3 Kasus Ini Merenggut Nyawa

- Minggu, 11 September 2022 | 13:23 WIB
Kekerasan di ponpes, 3 kasus terbaru merenggut nyawa (Dok.klikanggaran.com/KR)
Kekerasan di ponpes, 3 kasus terbaru merenggut nyawa (Dok.klikanggaran.com/KR)

KLIKANGGARAN - Sobat Klik, maraknya kasus kekerasan di ponpes menjadi perhatian banyak pihak. Publik kembali dikejutkan oleh kasus kekerasan yang berujung pada meninggalnya korban. Lebih terkejut lagi, peristiwa terjadi di sebuah pondok pesantren besar. Ponpes yang tergolong tertua dengan jumlah santri ribuan.

Menilik dari catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terbaru, ada 3 kasus kekerasan di ponpes yang merenggut nyawa. Misalnya yang terjadi di salah satu ponpes di Rembang. Korban dibakar oleh santri senior dan mengalami 70% luka bakar. Saat korban sedang tidur, pelaku menyiram pertalite dan menyalakan api.

Kekerasan di ponpes lain terjadi pada Agustus 2022. Peristiwa mengenaskan menimpa seorang siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) berusia 13 tahun. Korban meninggal dunia akibat dikeroyok sembilan orang temannya. Pengeroyokan terjadi saat korban akan ke musala untuk shalat.

Baca Juga: Firdaus Oiwobo Mengaku Keturunan Sultan, Pihak Keluarga Tegaskan Namanya Tidak Ada Dalam Naskah, Netizen Heran

Tanpa diduga korban didatangi rekan-rekannya. Dia ditangkap, lalu dibanting ke lantai oleh teman-temannya. Kedua tangan korban dipegang, wajahnya ditutup dengan sajadah. Dalam kondisi tak berdaya tubuh korban ditendangi oleh teman-temannya.

Peristiwa terbaru terjadi di sebuah ponpes besar di Jawa Timur. Menurut informasi yang diperoleh, anak korban sempat menghubungi orang tuanya untuk meminta sejumlah uang. Korban akan menjadi ketua panitia pelaksana program perkemahan di pesantren. Uang tersebut untuk berjaga-jaga jika ada benda milik pesantren yang hilang atau rusak sebagai bentuk tanggung jawab.

Usai kegiatan, korban berserta dua temannya yang juga panitia mengalami penganiayaan. Kekerasan yang dilakukan oleh santri senior ini diduga kuat berkaitan dengan kegiatan perkemahan. Akibat penganiayaan yang diduga menggunakan tongkat/kayu, korban pun meninggal. Keluarga korban menyakini adanya pukulan pada leher korban karena kepala korban (jenazah) tidak bisa ditegakkan.

Baca Juga: Profil RInggo Agus Rahman, Trending di Twitter Karena Nama Anaknya Sama dengan Hacker Viral, Bjorka

Sementara itu, dua teman korban lainnya selamat dan sudah kembali mengikuti proses belajar. Diduga kuat keduanya juga mengalami luka fisik maupun psikis akibat kekerasan yang dialami. Apalagi sampai rekan sebayanya meninggal dunia akibat kekerasan tersebut.

Halaman:

Editor: Kitt Rose

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X