• Kamis, 8 Desember 2022

Mengungkap Sejarah Makam Tembayat Dan Permasalahannya

- Senin, 4 Juli 2022 | 12:38 WIB
Komunitas Paguyuban Sejarawan Ngayogyakarta (PSN) (Dok. Istimewa)
Komunitas Paguyuban Sejarawan Ngayogyakarta (PSN) (Dok. Istimewa)

Menurut Lilik Suharmaji, Pesantren Tembayat juga ikut mewarnai hubungan pasang surut dengan Kerajaan Mataram Islam. Ketika Sultan Agung memerintah disaat kegagalannya menggempur Batavia yang kedua,  tiba-tiba Sultan Agung dikejutkan oleh adanya pemberontakan dari Tembayat. Mereka ingin memisahkan dari Mataram dan lebih suka bergabung dibawah naungan Giri Kedaton di Jawa Timur.

Pada tahun 1630 Sultan Agung menggempur Pesantren Bayat dan dapat dihancurkan. Tiga tahun kemudian yaitu 1633 Sultan Agung memutuskan rekonsiliasi dengan keluarga Tembayat dengan berziarah ke Makam Tembayat dan membangun gapura dan membubuhkan prasasti di gapura Makam Tembayat. Sultan mengukuhkan bahwa dirinya juga sebagai pemimpin agama Islam.

Tidak berhenti sampai disitu, Sultan Agung juga menikahkan Purtra Mahkota dengan putri Kajoran (Tembayat) bahkan putri itu dijadikan permaisuri pertama (Ratu Kulon) Amankurat I.

Tetapi sayang dalam perjalanan Putri Kajoran harus digeser kedudukannya sebagai permaisuri utama menjadi permaiusri kedua (Ratu Wetan) karena permaisuri utama ditempati Ratu Pembayun yang kelak putranya menjadi raja Mataram. Tentu saja pergeseran kedudukan ini membawa luka yang mendalam bagi keluarga Kajoran (Tembayat).

Pada masa pemerintahan Amangkurat I, Pangeran Kajoran mempunyai menantu pemuda dari Madura yang bernama Trunajaya. Pada saat bersamaan Adipati Anom juga bersahabat dengan Trunajaya.

Pangeran Kajoran dan Adipati Anom yang kelak menjadi Amangkurat II, meminta agar Trunajaya merebut tahta Amangkurat I. Adipati Anom punya alasan sendiri mengapa dia minta bantuan, karena agar ayahnya segera dilengserkan dan secepatnya dia naik tahta, tendas Lilik.

Benar saja Trunajaya menggempur Keraton Plered sehingga rusak parah. Rupanya Trunajaya juga menginginkan tahta Mataram sehingga dia menghianati kepercayaan Adipati Anom.

Setelah Adipati Anom yang menjadi Amangkurat II meminta bantuan kepada VOC akhirnya Trunajaya dapat ditangkap di Jawa Timur dan dieksekusi mati secara sadis  oleh Amangkurta II karena sakit hatinya dihianati Trunajaya.

Sementara itu Pangeran Kajoran juga terbunuh dalam pertempuran dahsyat. Saat itu tidak ada yang berani membunuh Pangeran Kajoran karena kharismanya, kecuali tentara VOC.

Menurut Lilik, keberadaan politik perkawinan tidak berhenti pada pernikahan antara Amangkurat I dengan Putri Kajoran tetapi hubungan pernikahan itu terus berlanjut pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono III.

Halaman:

Editor: Kitt Rose

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Guru Amin: Ulama Betawi dan Pejuang Kemerdekaan

Minggu, 25 September 2022 | 16:07 WIB

CPM: TNI Solid, Effendi Simbolon Harus Meminta Maaf

Rabu, 14 September 2022 | 11:16 WIB
X