• Rabu, 19 Januari 2022

Juri Ardiantoro : Dari Rawamangun ke Pentas Nasional

- Selasa, 25 Mei 2021 | 20:39 WIB
Juri Ardiantoro 001
Juri Ardiantoro 001


Jakarta,Klikanggaran.com - Juri Ardiantoro, lahir di Brebes, 6 April 1973. Ia menuturkan bahwa dari segi ekonomi ia berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Maklum, kedua orang tuanya tidak mempunyai sawah sebagaimana kebanyakan orang di desanya. Sawah atau tanah waktu itu dijadikan sebagai alat produksi yang bisa dijadikan sebagai tolak ukur untuk mengukur kehidupan ekonomi warga. Semakin luas sawah yang dipunyai seseorang, maka semakin mapan kehidupan ekonominya dan terpandang di desanya. Selain tidak memiliki sawah, orang tuanya juga tidak pernah mengenyam pendidikan formal, sehingga tidak bisa membaca atau menulis alias buta huruf. Karena Sawah atau tanah maupun pendidikan yang sering dianggap sebagai tolok ukur status social, dan karena keduanya tidak dipunyai, maka tidak ada pilihan lain bagu kedua orang tuanya untuk bekerja sebagai buruh, baik sebagai buruh tani atau buruh bangunan atau pekerjaan kasar lainnya. Berangkat dari kondisi ekonomi yang demikian, ia dari kecil terbiasa membantu kedua orang-tuanya untuk bekerja dan menghasilkan uang, baik di sawah, di ladang, maupun mengangkut dan mengumpulkan pasir untuk dijual kepihak pembeli pasir di desanya.


Ia menghabiskan pendidikan formal dari SD-SMA di Brebes. Ia memulai pendidikan formal di SDN 1 Lengkong, Brebes dari tahun 1980-1986. Selanjutnya ia melanjutkan sekolah menengah di SMPN 2 Brebes dari tahun 1986 hingga 1989, lalu melanjutkan pendidikan menengah atas di SMAN 1 Brebes, mulai tahun 1989-1992.


Terdapat cerita menarik mengenai pendidikan akademiknya, ia awalnya tidak mempunyai cita-cita untuk dapat mengenyam pendidikan sampai di SMP dan SMA favorit di Brebes, karena ia tidak menyiapkan secara baik untuk masuk ke sekolah tersebut. Waktunya habis untuk terlibat langsung membantu orang-tuanya mencari nafkah, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk kebutuhan lainnya ketimbang untuk belajar.


Memang benar waktu SD ia mendapatkan peringkat 1, namun ia tidak menyangka bisa sekolah di SMP dan SMA favorit. Bayangkan saja, sebelum sekolah Juri mempunyai aktifitas untuk menggiling jagung, sepulang sekolah ia pergi ke sawah, ladang atau sungai lalu selepas ashar mencari rumput untuk kambing peliharaan keluarga, memasuki magrib pergi ke langgar, bahkan selepas isya ia baru menemukan waktu untuk bermain dan hampir tidak menemukan waktu untuk belajar. Ia merasa dirinya orang beruntung, di tengah keterbatasan waktu buat belajar ia bisa mendapat sekolah di tempat yang favorit.


Juri awalnya mempunyai pandangan bahwa sekolah sampai SD saja cukup, karena ia beranggapan bahwa sekolah sampai SD saja ia sudah melampaui capaian kedua orang-tuanya. Kedua orang-tuanya tidak pernah mendapatkan pendidikan formal di sekolah, sehingga menyebabkan kedua orang-tuanya buta huruf. Kedua orang-tuanya jangankan menulis atau tanda-tangan, untuk melakukan cap jempol saja tangan mereka gemeteran. Namun, pengalaman dan ilmu yang diperoleh di sekolah membuat ia sadar bahwa ia harus menuntut ilmu setinggi-tingginya.


Masa Kuliah


Pada tahun 1992, ia memutuskan ikut kakaknya ke Jakarta dengan tujuan melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Negeri Jakarta (Waktu itu namanya Institut Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jakarta disingkat IKIP Jakarta). Ia diterima di UNJ di jurusan Pendidikan Sejarah, FPIPS atau Fakultas Ilmu Sosial saat ini. Ia bertekad ketika ke Jakarta untuk kuliah, ia tidak akan membebani kakaknya untuk membayar uang kuliah. Cara yang ditempuh oleh Juri untuk bertahan hidup di Jakarta dan untuk bayar uang kuliah adalah niaga. Terkadang ia jualan buku, kartu lebaran, sepatu, parfum dan barang lainnya. Ia memasarkan barang dagangan bukan hanya ke sesama mahasiswa, tetapi juga dosen. Namun, menjelang semester akhir pola untuk bertahan hidup dan pembiayaan kuliah berubah dari awalnya berdagang, menjadi penulis dan periset.


Selain aktif kuliah, Juri juga aktif menempa dirinya di organisasi kemahasiswaan, baik intra universitas maupun esktra universitas. Ia terlibat aktif dalam berbagai organisasi, diantaranya menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Sejarah, Majalah Mahasiswa DIDAKTIKA, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) PMII dan Pendiri sekaligus Sekjen Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Jakarta sejak tahun 1996 hingga tahun 2003. Aktif di organisasi inilah yang menempa jiwa kepemimpinan Juri hingga akhirnya menjadi Ketua KPU RI dan Deputi IV Kantor Staff Presiden.


Juri lulus di UNJ (red: dulu IKIP Jakarta) pada tahun 1999. Total ia menghabiskan waktu hampir 7 tahun untuk menyelesaikan S1 di UNJ, lalu pada tahun 2000 ia melanjutkan magister di jurusan Sosiologi, Universitas Indonesia. Ia lulus magister pada tahun 2003. Pada tahun 2005 ia melanjutkan program doktoral di University Malaya, dan lulus pada tahun 2013. Ia berpesan kepada kami bahwa jangan meniru ia dari segi lamanya waktu untuk mengenyam pendidikan masa kuliah hingga memperoleh kelulusan, khususnya waktu sarjana dan doktoral.

Halaman:

Editor: M.J. Putra

Tags

Terkini

Juragan99 Sebut Persib Alay, Viking Meradang

Rabu, 22 Desember 2021 | 15:20 WIB
X