• Sabtu, 20 Agustus 2022

IPW: Serangan ke Mabes Polri Menunjukan Fenomena Baru Dalam Aksi Teror ke Depan

- Kamis, 1 April 2021 | 10:19 WIB
Neta S Pane 001
Neta S Pane 001


Jakarta,Klikanggaran.com - Ketua Presidium Ind Police Watch (IPW), Neta S Pane, menyatakan bahwasannya serangan teror ke markas besar Polri atau 150 meter dari ruang kerja Kapolri Sigit adalah showofforcenya bos teroris untuk menunjukkan bahwa ada fenomena baru dalam aksi teror yang akan mereka mainkan ke depan.


"Untuk itu IPW berharap Polri mencermati fenomena ini. Dalam fenomena itu bos teroris ingin menunjukkan dua hal kepada publik. Pertama, kelompok teroris kini punya pasukan khusus, pasukan "Inong baleh". Sama seperti saat pasukan GAM disisir habis oleh Polri dan TNI di era konflik Aceh, mereka mengedepankan pasukan perempuan atau Inong baleh," ujar Neta melalui keterangan tertulisnya, Kamis (1-4).


"Kelompok teroris sepertinya meniru apa yang dilakukan GAM, saat para teroris disisir habis oleh Polri, kini mereka menurunkan pasukan perempuan (Inong Baleh). Setelah serangan di gereja di Makassar, pasukan Inong baleh masuk ke jantung Polri dan melakukan serangan yang mengagetkan dari dalam komplek Mabes Polri," sambung Neta.


Kedua, Neta beranggapan bahwa bos teroris ingin menunjukkan pasukan Inong baleh mereka lebih nekat. "Dengan kemampuan seadanya dan tanpa paham medan pertempuran, pasukan Inong baleh teroris nekat melakukan serangan dari dalam Mabes Polri," kata Neta.


Menurut Neta, teroris menunjukkan teori baru, serangan tidak dari luar tapi dari dalam. Para teroris ingin menunjukkan ke publik bahwa inilah pertama kali dalam sejarah bahwa Mabes Polri bisa diserang teroris dari dalam.


"Para teroris ingin menunjukkan betapa lemahnya sistem keamanan Mabes Polri di era Kapolri Sigit. Di saat Polri sedang sibuk melakukan penggerebekan ke sarang teroris di berbagai tempat justru markas besarnya malah kebobolan dari dalam," ujarnya.


Oleh karenanya, IPW menilai, baik serangan di Makassar maupun di Mabes Polri masih dalam tingkatan peringatan atau ujicoba bahwa akan ada serangan besar yang akan dilakukan bos teroris.


"Untuk itu Polri harus segera mencari dan menangkap bos teroris itu. Sebab bagaimana pun, baik serangan di Makassar maupun di Mabes Polri ada pihak yang mengendalikan dan tidak mungkin pelaku bekerja sendiri," tegasnya.


Dalam kasus serangan di Mabes Polri, kata Neta, pihak kepolisian perlu menjelaskan apa jenis senjata yang digunakan pelaku, benarkah Air Soft Gun? Benarkah pelaku berhasil melepaskan enam tembakan? Bagaimana senjata itu bisa masuk ke dalam Mabes Polri? Dengan siapa pelaku bertemu di dalam Mabes Polri sehingga pelaku bisa mendapatkan senjata dan melakukan serangan dari dalam?.

Halaman:

Editor: M.J. Putra

Tags

Terkini

Pemda Luwu Utara Serahkan KUA-PPAS APBD 2023 ke DPRD

Jumat, 19 Agustus 2022 | 20:32 WIB
X