• Selasa, 18 Januari 2022

Penerapan Kelompok Kerja dalam Melahirkan Mocaf Jawa Timur

- Minggu, 17 Mei 2020 | 04:47 WIB
Kelompok Kerja Mocaf
Kelompok Kerja Mocaf


Klikanggaran.com – “Masyarakat desa itu sangat luar biasa, semangat, dan kemampuan untuk menghadapi tantangan begitu kuat. Syaratnya cuma satu, jangan bohongi mereka.” Begitu pesan salah satu Punggawa Djawa Mie, saat berbincang dengan Klikanggaran.com beberapa waktu lalu di kediamannya, Sidoarjo, Jawa Timur.


Ya, masyarakat desa saat ini hampir memiliki kemampuan yang sama baiknya dengan masyarakat kota dalam hal analisa usaha dan komitmen usaha. Jadi, kalau Anda datang pada mereka dengan hanya membawa janji-janji, jangan harap program Anda akan dijalankan.


Mengumpulkan masyarakat desa pun sangat mudah, asal kita datang di waktu yang tepat. Missal saat mereka rehat. Mereka akan sangat antusias menemui Anda dan mendengarkan cerita-cerita tentang kota atau apa saja yang tidak bernuansa janji-janji palsu.


Kelompok Kerja


Bicara mengenai mengumpulkan masyarakat desa, dalam hal ini para petani singkong, setelah melalui tahap pelatihan yang memakan waktu hanya satu-dua hari, Agung Triatmoko (Moko) dan kawan-kawan membentuk kelompok kerja yang anggotanya adalah petani-petani yang menanam singkong. Satu di antaranya, yang memiliki pemahaman dan bakat menejerial, dijadikan ketua kelompok. Menurut para punggawa yang sudah biasa berkecimpung di dunia persingkongan dan petaninya, biasanya sosok yang pantas menjadi ketua ini akan muncul dengan sendirinya.


Kepada kelompoknya, Moko dkk memberikan petunjuk mekanisme kerja, sementara kepada ketua kelompok mereka menempatkan alat-alat yang memadai berikut fasilitas-fasilitas pendukung. Kepada kelompok dijelaskan bahwa semua hasil panen singkongnya akan dibeli dengan harga yang layak oleh ketua kelompok dengan pembayaran tunai, dalam hal ini Agung dkk memberikan support penuh kepada ketua kelompok tani. Mengenai penetapan harga, diserahkan sepenuhnya pada ketua kelompok, tentu dengan memberikan batasan untuk harga terendah dan tertinggi.


Selanjutnya, para petani dalam kelompok, setiap pulang dari hutan untuk mencari kayu bakar atau merawat tanaman lainnya, mereka membawa pulang panen singkongnya sebanyak 100-200 kg sesuai kemampuan. Kemudian menyerahkan pada keluarga untuk dikupas dan dicuci bersih, lantas disetorkan pada ketua kelompok untuk diproses lanjutan.


-


Dampak luar biasa terjadi dalam proses ini. Setiap kali selesai setor singkong kupasannya pada ketua kelompok, mereka terima uang tunai, begitu terus hampir setiap hari. Ini adalah satu hal yang nyaris tidak pernah mereka rasakan sebelumnya. Kegiatan itu ternyata mampu membuat mereka memutus atau setidaknya mengurangi jerat hutang bayar panen yang selama ini terjadi. Cashflow mereka mulai terasa aman, dan pada akhirnya mereka merasakan bahwa menjual sendiri hasil panennya mampu menghasilkan pendapatan yang lebih riil.

Halaman:

Editor: Kit Rose

Tags

Terkini

Wali Kota Resmikan SPBU dan Masjid Lubuklinggau

Jumat, 12 Februari 2021 | 11:13 WIB
X