• Sabtu, 29 Januari 2022

Nadam Dwi Subekti, Guru Anak-Anak Pemulung di Sekolah Alam Tunas Mulia, Bantar Gebang

- Kamis, 25 November 2021 | 05:42 WIB
Nadam Dwi Subekti, Guru Anak-Anak Pemulung di Sekolah Alam Tunas Mulia, Bantar Gebang (Klikanggaran/Istimewa)
Nadam Dwi Subekti, Guru Anak-Anak Pemulung di Sekolah Alam Tunas Mulia, Bantar Gebang (Klikanggaran/Istimewa)

KLIKANGGARAN--Nadam Dwi Subekti, pria 51 tahun yang berasal dari Cilacap adalah guru sekaligus pendiri sekolah alam Tunas Mulia Bantar Gebang. Nadam Dwi Subekti mendirikan sekolah alam Tunas Mulia Bantar Gebang sejak 2006.

Awal mendirikan sekolah alam Tunas Mulia ersebut dikarenakan adalah cita-citanya ingin mencerdaskan anak-anak pemulung. Pak Nadam ingin semasa hidupnya bermanfaat maka beliau mengabdikan dirinya menjadi guru dan mendirikan sekolah untuk anak-anak pemulung terwujud walau diawali dengan perjuangan yang luar biasa.

Sekolah Alam Tunas Mulia didirikan oleh pak Nadam untuk memberikan pendidikan yang layak kepada anak – anak pemulung. Namun, seiring berjalannya waktu, sekolah itu sudah dapat menampung anak – anak dari daerah lain.

Baca Juga: Pidato Nadiem Makarim di Hari Guru Nasional 2021, Apa yang DIsampaikannya ya?

Sekolah alam yang berada diantara bukit puluhan juta ton sampah. Pak Nadam dan siswanya sudah terbiasa dengan bau sampah yang seringkali menyengat saat hujan. Terlihat siswa tetap belajar dengan gembira dan makan pun begitu lahapnya. Mereka senang bersekolah di situ yang sekarang lumayan luas.

Pak Nadam pun menyediakan sekolah Hafiz Quran bagi siswa yang tidak mampu untuk daerah sekitarnya. Pak Nadam sangat bersyukur karena sekolah Hafiznya diterima oleh masyarakat dan donator yang semakin hari semakin mengetahui keberadaan sekolah Hafiz tersebut.

Kali ini, saya berbincang dengan Pak Nadam mengenai pengalamannya sebagai guru anak-anak pemulung. Bagi beliau bahwa guru adalah seorang pendidik yang bukan hanya seorang pengajar.

Baca Juga: 13 Wakil Indonesia di Babak 16 Indonesia Open 2021, Tiga Tempat di Perempat Final sudah di tangan

“Pendidik itu mengajar dengan hati. Guru itu harus bisa menjadi contoh dan teladan. Jika dalam Bahasa jawa bahwa guru itu digugu lan ditiru bahwa guru itu harus bisa diikuti tindakan dan bicaranya” jelas pak Nadam.

Kemudian Pak Nadam pun menceritakan pengalaman yang sangat berkesan mengajar anak-anak pemulung. Ia menceritakan bagaimana mengajar anak-anak pemulung belajar dengan alam. Anak-anak belajar langsung di kebun, di kolam, di sawah, dan di lapangan.

Semuanya belajar langsung sambil praktik. Pak Nadam sangat jarang mengajar di saung-saung yang tersedia.

Baca Juga: Dua Tahun Mas Nadiem, Ini Hasil Survei FSGI

“Anak-anak pemulung itu mempunyai karakter yang berbeda. Nah itu yang sangat berkesan, bagaimana saya menyesuaikan pembelajaran dengan karakter mereka yang berbeda” lanjut Pak Nadam.

Suka duka menjadi guru anak-anak pemulung adalah Sukanya ketika beliau membangun sekolah dari titik nol sehingga masyarakat sekitar mempercayainya dan sekarang sekolah alam Tunas Mulia menjadi besar.

Dukanya adalah ketika sambil mengajar harus mencari dan berpikir keras mengenai biaya untuk anak-anak pemulung agar tetap sekolah, mendapatkan pendidikan yang layak.

Baca Juga: Tahapan Presentasi KIPP Tingkat Kabupaten Kelar, Satu Inovasi Presentasi Virtual dari Padang

Pak Nadam memang sangat menginspirasi dan berharap akan lahir Nadam-Nadam yang lain agar masyarakat Indonesia yang tidak mampu tetap mendapatkan pendidikan yang layak.

Berusahalah memberikan sesuatu untuk negara bukan hanya menuntut negara memberikan. Mari kita bersama pulihkan pendidikan di Indonesia dengan hati.

Selamat Hari Guru Nasional 2021 “Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan”

 

 

 

Halaman:
1
2
3

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X