• Rabu, 8 Desember 2021

China Menahan Wanita Muslim karena Menggunakan WhatsApp, Melabeli sebagai Pra-penjahat. Duh, Ngerinya

- Selasa, 12 Oktober 2021 | 19:34 WIB
Ternyata WhatsApp down, kata netizen sebelum meluncurkan kalimat lain (Dok.Twitter.com/@WhatsApp)
Ternyata WhatsApp down, kata netizen sebelum meluncurkan kalimat lain (Dok.Twitter.com/@WhatsApp)

Klikanggaran.com-- China telah menahan wanita Muslim selama berbulan-bulan karena 'pra-kejahatan' dunia maya seperti mengakses aplikasi perpesanan WhatsApp dan akun Gmail sekolah.

Pihak berwenang China melabeli "pelanggar" seperti wanita Muslim itu sebagai pra-penjahat.

Sebuah buku baru berjudul “In The Camps: China's High-Tech Penal Colony” telah mengungkapkan kejadian yang dialami wanita Muslim di bawah rezim Xi Jinping.

Baca Juga: Aspirasi Tak Diindahkan Wali Kota, Warga Gugat Proyek Malioboro Van Tegal ke Pengadilan

Buku tersebut mengutip kasus Vera Zhou, mahasiswa di University of Washington, yang baru-baru ini ditahan karena menggunakan Virtual Private Network (VPN) untuk membuka akun Gmail sekolahnya dan menyerahkan pekerjaan rumah di Xinjiang China, menurut sebuah laporan, yang dikutip oleh India Today.

Zhou kemudian diberitahu bahwa dia dikirim untuk kelas 'pendidikan ulang'. Dia juga diharuskan mengenakan seragam yang memiliki garis-garis hijau neon di lengan dan celana.

Zhou bahkan menghabiskan Thanksgiving, Natal, dan Tahun Baru 2018 di sel itu.

Baca Juga: Peredaran Narkoba Di Sumsel Kalahkan Jakarta, Bupati PALI Sedih Ada Paket Hemat Narkoba.

Zhou dibebaskan dengan serangkaian persyaratan setelah menghabiskan enam bulan di kamp.

Kondisi tersebut mengharuskan dia untuk tinggal di lingkungan setempat dan dia harus melapor secara teratur kepada "pekerja stabilitas sosial".

Bahkan setelah dibebaskan, Zhou mengatakan dia merasa seolah-olah masih terjebak di penjara digital.

Baca Juga: Pencemaran Nama Baik, Orang Tua Ayu Ting Ting Jalani Pemeriksaan di Polda Metro Jaya

Suatu hari, saat berjalan di luar perbatasan lingkungannya, wajah Zhou segera diidentifikasi sebagai pra-penjahat Muslim di monitor terdekat.

Lebih dari 1 juta orang Uyghur dan orang-orang dari kelompok Muslim lainnya telah ditahan di kamp-kamp di China, menurut kelompok hak asasi. Aktivis menuduh pihak berwenang China memberlakukan kerja paksa pada mereka yang ditempatkan di kamp-kamp ini.

Buku itu, yang dirilis pada hari Selasa, mencatat bahwa bersama dengan Zhou, 11 wanita Muslim lainnya, diidentifikasi oleh polisi sebagai "pra-penjahat" ekstremis di bawah undang-undang keamanan internet China.

Baca Juga: Prostitusi Online di Apartemen Kalibata City. Korban selain Dijual Lewat Media Sosial, juga Dicabuli Pelaku

Menurut undang-undang, operator jaringan internet harus berbagi data pribadi dengan otoritas China. Zhou, yang juga merupakan penduduk tetap AS, akhirnya kembali ke Seattle pada 2019.

Namun, teknologi pengawasan juga mengikutinya ke AS. Buku itu mengatakan seorang wanita ditangkap karena mengunduh WhatsApp sementara wanita lain ditahan karena mengizinkan beberapa pelanggan menggunakan ID-nya untuk mengatur kartu SIM mereka.

Menurut penulis Darren Byler, ketiga wanita itu, termasuk Zhou, adalah korban dari sistem pengawasan berteknologi tinggi China.***

Apabila artikel ini menarik, mohon bantuan untuk men-share-kannya kepada teman-teman Anda, terima kasih.

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Sumber: India Today

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pecat 900 Karyawan via Zoom, Waduh!

Senin, 6 Desember 2021 | 21:57 WIB
X